Berani Berubah: Bicara Cuan dan Perempuan di Bisnis Kopi Selama Pandemi

Vinsensia Dianawanti diperbarui 08 Okt 2020, 19:09 WIB

Fimela.com, Jakarta Pandemi COVID-19 sangat berdampak bagi seluruh sektor bisnis, termasuk dunia kopi. Banyak kedai dan merek kopi ternama di pusat kota yang mengalami penurunan pendapatan karena kebijakan work from home yang berlangsung di sejumlah perusahaan.

Hal serupa juga dialami oleh Kopi Soe, merek kopi lokal garapan Sylvia Surya. Terkenal dengan Kopi Rum Regalnya tidak membuat Kopi Soe luput dari dampak bisnis pandemi COVID-19.

Sejumlah gerai Kopi Soe di perkantoran dan area pendidikan mengalami penurunan pendapatan. Selain itu, kebijakan PSBB membuat gerai seperti Kopi Soe tidak melayani minum di tempat. Meski demikian, gerai Kopi Soe di wilayah perumahan justru mengalami permintaan yang cukup tinggi dengan mengandalkan layanan take away dan delivery.

Dengan pola perubahan seperti ini, Sylvia melihat ada pergeseran tren di bisnis kopi. Kopi Soe yang memiliki konsep bisnis franchise ini sudah mencuri garis awal dengan mensosialisasikan SOP ke sejumlah mitra bisnis dan tim internal.

What's On Fimela
2 dari 5 halaman

Utamakan higienitas

Founder Kopi Soe Sylvia Surya bicara soal perubahan tren bisnis kopi di masa pandemi (Foto: instagram/kopisoe)

"Aspek paling penting adalah hygiene. Ada perubahan mindset, tadinya hygiene jadi aspek ketiga sekarang jadi nomor satu. Melalui sosmed kami sosialisasi SOP yang lebih ketat untuk mencegah adanya trust issue dari konsumen," ungkap Sylvia.

SOP yang ditetapkan Kopi Soe cenderung mengikuti arahan WHO. Mulai dari menggunakan masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak.

Setiap karyawan diwajibkan cuci tangan setiap 15-20 menit sekali. Setiap sudut outlet pun dibersihkan dengan disinfektan. Beberapa gerai Kopi Soe yang memiliki area outdoor masih diperbolehkan untuk minum di tempat dengan tetap melakukan disinfeksi setiap 15-20 menit sekali.

"In general, bisnis FnB sendiri sudah pasti mereka bisa mengomunikasikan bagaimana SOP hygiene. SOP pembersihan tempat, desain produk dan cara pemesanan. Di Kopi Soe kita godok terus apa yang diinginkan konsumen. Masyarakat suka setok kopi jadi bikin kopi literan," cerita Sylvia Surya.

Kopi Soe mengembangkan produk kopi favoritnya dalam kemasan kopi literan. Dalam satu liter botol kopi bisa diminum untuk 4-5 kali penyajian. Untuk penyajian, gunakan es batu sedikit demi sedikit agar tidak mencair di gelas dan membuat rasa kopi menjad lebih hambar.

3 dari 5 halaman

Inovasi produk sesuai kebutuhan

Founder Kopi Soe Sylvia Surya bicara soal perubahan tren bisnis kopi di masa pandemi (Foto: instagram/kopisoe)

Karena produk kopi literan dibuat langsung di gerai, Sylvia menyarankan agar kopi literan langsung dimasukkan ke dalam kulkas. Amannya, kamu bisa menyimpan kopi literan maksimal dua hari untuk mendapatkan kualitas kopi yang baik.

Selain mengembangkan produk, Kopi Soe juga berkembang dari segi layanan. Tidak tergantung pada take away maupun delivery, Kopi Soe telah memiliki layanan drive thru yang dinilai lebih aman.

Konsumen tidak perlu turun dari mobil untuk membeli kopi karena semua aktivitas transaksi dilakukan di luar gerai. Setelah kopi selesai dibuat, pesanan akan diantar ke mobil sehingga mengurangi kontak langsung dengan orang lain.

Meski mengalami penurunan pendapatan di sejumlah daerah, Kopi Soe memiliki pelanggan setia yang mayoritas adalah perempuan. Representasi kopi yang identik dengan figur laki-laki seakan dipatahkan dengan kehadiran Kopi Soe.

 

4 dari 5 halaman

Konsumen perempuan sebagai referensi

#SoePucuk, menu Kopi Soe terbaru yang memadukan rasa kopi kekinian dengan rasa teh yang ikonis, hasil kolaborasi dengan Teh Pucuk Harum. Sumber foto: Document/Kopi Soe.

Ya, Sylvia Surya adalah perempuan di antara pemilik bisnis kopi yang kebanyakan dimiliki oleh laki-laki. Namun bagi Sylvia tidak batas gender yang ditentukan untuk menikmati dan menjalankan bisnis kopi.

Sylvia Surya sendiri merupakan pecinta kopi. Dan kopi menjadi salah satu item wajib yang dicari Sylvia ketika berkunjung ke suatu tempat. Baginya, eksplorasi kopi yang variasinya begitu beragam menjadi hal menyenangkan dan menarik untuk dilakukan.

Karena melihat adanya pasar yang cukup potensial akhirnya didirikan Kopi Soe yang terkenal sebagai pioneer Kopi Rum Regal. Mengusung Kopi Rum Regal sebagai produk andalan pun tidak terlepas dari peran sesama perempuan.

"Diferensiasi Kopi Soe sendiri kebanyakan customer kita cewe karena kita sendiri dari inoviasi produk pun kayak banyak perempuan suka. Kayak rum regal banyak banget customer perempuan yang suka. Inovasi produk yang noncoffee," cerita Sylvia Surya.

Inovasi produk terbaru dari Kopi Soe adalah kolaborasinya dengan merek teh ikonis, Teh Pucuk. Menghadirkan tiga produk minuman yang menggabungkan teh dan kopi, kolaborasi ini mengimbau masyarakat perihal jaga jarak.

"Disambung sambungin aja sebenarnya. Kopi dan teh itu dua hal yang berbeda, tapi mereka bisa bersatu. Sama seperti situasi sekarang, meski berjauhan tapi selalu terasa dekat," ungkap tutup Sylvia.

 

5 dari 5 halaman

Simak video berikut ini

#changemaker