Paparan Program Pemerintah untuk Solusi Masalah Sampah yang Semakin Memprihatinkan

Nabila Mecadinisa diperbarui 24 Feb 2021, 09:30 WIB

Fimela.com, Jakarta Kita tenggelam dalam sampah kita sendiri. Selama beberapa tahun terakhir, sampah plastik di lautan selalu menjadi masalah lingkungan yang paling banyak dibicarakan oleh pemerintah, media,dan masyarakat luas. Indonesia memiliki kontribusinya sendiri terhadap limbah laut sejak 2015, menduduki peringkat kedua di dunia sebagai negara yang berkontribusi masuknya sampah plastik di laut yang kebanyakan diakibatkan oleh pengelolaan sampah yang tidak tepat, baik berupa kegiatan di darat (land-based) maupun di lautan (sea-based).

Analisis oleh Kemitraan Aksi Plastik Nasional Indonesia 2018 menunjukkan bahwa Indonesia menghasilkan sekitar 6,8 juta ton sampah plastik setiap tahunnya yang sebagian besar belum dikelola. Sampah yang tidak terkumpul akhirnya dibakar atau dibuang secara sembarang yang pada akhirnya berujung di laut, sungai, dan danau. Untuk mengatasi krisis ini, pemerintah telah menerapkan beberapa kebijakan yang bertujuan untuk mengurangi konsumsi plastik serta mendukung praktik pengelolaan sampah yang lebih baik.

Pada Juni 2020, Pemerintah Kota Jakarta memberlakukan larangan plastik sekali pakai di seluruh kota di pasar dan mal. Sampai saat ini tercatat sekitar 39 kabupaen/kota dan 2 provinsi yang telah mengeluarkan larangan penggunaan kantung plasik sekali pakai. Pemerintah juga telah mendorong industri daur ulang untuk meningkatkan volumenya dan memastikan bahwa sampah plastik dapat dikumpulkan dan didaur ulang dengan benar.

Namun, jalan yang ditempuh masih panjang. Indonesia terus berjuang dengan minimnya infrastruktur dan pembiayaan, kesadaran publik yang buruk, tingkat pemilahan yang masih rendah, dan pembuangan ilegal. Mengatasi krisis ini membutuhkan lebih dari sekedar kampanye untuk mendaur ulang lebih banyak plastik atau melarang penggunaan kantong plastik. Untuk benar-benar mengatasi masalah ini, harus ada perubahan struktural yang mendalam, baik dalam hal produksi maupun pengelolaan sampah.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Upaya serus pemerintah

Ilustrasi tempat sampah. (dok. Unsplash.com/Paweł Czerwiński @pawel_czerwinski)

Kabar baiknya adalah pemerintah telah melakukan upaya serius untuk mengatasi masalah ini, dengan program-program yang didukung oleh semakin banyak organisasi dan pemangku kepentingan lainnya. Pada tahun 2018, pemerintah meluncurkan Rencana Aksi Nasional Penanganan Sampah Plastik Laut dengan target pengurangan sampah plastik di laut hingga 70% pada tahun 2025. Rencana Aksi tersebut dituangkan dalam Peraturan Presiden Nomor 83 Tahun 2018, dimana di dalamnya meliputi 5 strategi besar yang melibatkan 16 Kementerian teknis.

Di kawasan turis seperti Bali yang telah berjuang dengan sistem pengelolaan sampah yang terdesentralisasi, kelompok masyarakat sipil dan sektor swasta berada di garis terdepan perjuangan untuk menangani masalah sampah plastik. Sejumlah organisasi mengadakan pembersihan pantai setiap hari. Kelompok pemuda, seperti Bye Bye Plastic Bags yang dipelopori oleh remaja Melati dan Isabel Wijsen, sukses mengadakan diskusi dengan Pemerintah Daerah, yang berujung dengan kebijakan pelarangan penggunaan kantong plastik, wadah styrofoam, dan sedotan plastik sekali pakai yang mulai berlaku pada Juli 2019.

Pada tahun 2019, lebih dari 400 organisasi budaya dan agama, sektor swasta, dan anggota pemerintah daerah di Bali juga telah berjanji untuk bekerjasama untuk fokus pada 15 daerah yang paling diprioritaskan yang kurang baik dalam pengelolaan sampah. Karena model kemitraan multi-sektor ini telah berhasil diterapkan di berbagai daerah seperti Bali ini, patut dicontoh oleh daerah-daerah wisata lainnya untuk menjaga keseimbangan yang baik antara menarik lebih banyak pengunjung dan memerangi sampah.

Kawasan Danau Toba diSumatra Utara telah dinobatkan sebagai salah satu dari lima tujuan wisata “super prioritas” di Indonesia. Kawasan ini memang terkenal dengan keindahan bentang alam dan budayanya.Tantangan yang dihadapi oleh pemerintah daerah di sekitar Danau Toba adalah daerah tersebut harus mengambil tindakan kolektif untuk memastikan terciptanya pengelolaan sampah yang lebih efisien dengan menerapkan pendekaan ekonomi sirkular.

Pemerintah harus mendorong keterlibatan masyarakat serta menggandeng swasta dalam pengelolaan sampah secara terintegrasiagar lingkungan di Danau Toba tetap sehat untuk pengunjung maupun masyarakat setempat.

3 dari 3 halaman

Bekerja dengan pihak swasta

Ilustrasi sampah. (dok. Unsplash.com/Markus Spiske @markusspiske)

Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, bekerja sama dengan pihak swasta termasuk PTTEP Indonesia, mengembangkan pendekatan ekonomi sirkular di kawasan Danau Toba. Pendekatan yang menerapkan sistem pengelolaan sampah terintegrasi tersebut diharapkan dapat mengurangi hingga 70% sampah yang akan masuk ke TPA, sungai, dan danau di kawasan itu. Sebagai permulaan, ada program pendidikan untuk memastikan bahwa generasi muda sadar akan pentingnya pengelolaan sampah yang tepat sejak dini. Dengan melatih para pendidik dengan menggunakan berbagai macam alat yang ada seperti video dan buku-buku, diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan anak-anak sehingga dapat lebih menjaga lingkungan demi masa depan yang lebih baik.

Bekerja sama dengan organisasi seperti Universitas Indonesia dan Yayasan Lentera Anak, Pemerintah menyediakan alat yang tepat untuk sekolah untuk mengembangkan kebiasaan dan perilaku pengelolaan sampah yang lebih baik. Selanjutnya terdapat juga program bank sampah, dengan adanya dukungan kepada UKM dan pemberdayaan ekonomi masyarakat setempat. Dengan menghasilkan uang dari sampah yang dipilah dan dikelola, penduduk setempat tidak hanya dapat berkembang secara ekonomi dari pengelolaan dan pengelolaan sampah yang tepat, tetapi juga memainkan peran penting dalam mengurangi hingga 15-20% sampah rumah tangga mereka.

Terakhir, insinerator yang disumbangkan oleh sektor swasta akan membantu memastikan bahwa sampah yang tidak dapat didaur ulang di sekitar Danau Toba tidak akan mencemari danau di kawasan tersebut, melainkandikelola dengan baik. Hanya sisa berupa residu yang pada akhirnya diangkut ke TPA. Masih banyak jalan yang harus kita tempuh untuk menjadikan Indonesia yang lebih bersih dan terbebas dari masalah sampah. Namun, terdapat peluang yang besar dan berharga untuk menciptakan sistem pengelolaan sampah yang efektif di negara ini. Keterlibatan organisasi, sektor swasta, dan kerja sama dari banyak pihak sangat penting dalam mengatasi krisis sampah yang sedang dihadapi. Sebuah masa depan di mana kita dapat mendaur ulang dan mengelola sampah secara efektif adalah suatu hal yang mungkin. Agar itu menjadi kenyataan, inilah saatnya kita bertindak

 

#Elevate women