Hati-hati, 5 Kebiasaan Ini Bisa Meningkatkan Risiko Depresi

Fimela Editor diperbarui 10 Mar 2021, 10:03 WIB

Fimela.com, Jakarta Menjaga kesehatan mental penting untuk dilakukan agar tubuh sehat secara fisik dan rohani. Namun sayangnya, menjaga kesehatan mental juga tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Tanpa disadari, ada beberapa kebiasaan sehari-hari yang sebenarnya sepele, tetapi bisa berdampak buruk untuk kesehatan mental.

Jika dilakukan secara berulang, maka akan berisiko tinggi untuk mengalami stres, gangguan kecemasan, hingga depresi. Tentunya hal ini akan menghilangkan semangat untuk menjalani kehidupan.

Seorang psikolog kilinis, Susan Heitler, PhD, telah membeberkan fakta terkait 5 kebiasaan sehari-hari yang ternyata bisa meningkatkan depresi, seperti yang dikutip dari The Healthy.

1. Menghabiskan waktu terlalu lama untuk sendirian

Menghabiskan waktu berkualitas sendirian sesekali memang bermanfaat bagi kesehatan mental. Namun lain halnya bila dilakukan secara berlebihan.

Seperti yang diungkapkan oleh Susan Heitler, PhD, seorang psikolog klinis, ia memperingatkan menghabiskan terlalu banyak waktu dalam kesendirian dapat meningkatkan risiko depresi.

Untuk melindungi diri dari hal ini, dia menekankan pentingnya menciptakan persahabatan yang kuat dan hubungan dengan orang lain.

“Setiap kali kita terhubung dengan orang lain, itu adalah kesempatan untuk pertukaran emosional yang positif,” terang Heitler.

2. Terlalu banyak multitasking

Tak bisa dipungkiri, bekerja dari rumah kerap membuat kita untuk selalu serba bisa. Baik itu soal pekerjaan, anak, maupun ganguan lain seperti televisi dan ponsel. Tetapi tahukah jika terlalu sering multitasking bisa memicu risiko depresi?

Dalam sebuah enelitian menunjukkan bahwa media yang berlebihan ini dapat berdampak buruk bagi kerja otak. Sebuah survei tahun 2013 terhadap 318 orang yang diterbitkan di Cyberpsychology, Behavior, and Social Networking mengungkapkan bahwa orang multitasking lebih sering mengalami  banyak gejala depresi dan kecemasan sosial.

Untuk mengatasi ini, cobalah menghabiskan waktu dan fokus pada satu tugas. Batasi waktu saat menatap layar, berikan jeda waktu untuk beristirahat.

3. Bergaul dengan orang-orang toxic

Sering kali banyak orang yang tidak sadar, bahwa dirinya berada dalam lingkaran pertemanan yang beracun atau negatif. Komentar negatif yang kerap dilontarkan oleh teman, atasan, atau orang penting lainnya bisa meningkatkan risiko merasa tertekan.

“Berada di sekitar seseorang yang mengirimkan energi negatif itu bermasalah. Itu akan membuatmu merasa sedih. ” ujar Heitler.

Alih-alih berhubungan dengan orang yang membawa aura negatif, cobalah menjalin hubungan dengan orang-orang yang secara positif. Baik itu seseorang yang memiliki semangat tinggi maupun kesamaan hobi. Ini bisa membawa Anda ke arah yang lebih positif.

 

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

4. Tidur larut malam

ilustrasi depresi /unsplash

Sebuah studi tahun 2014 yang diterbitkan dalam jurnal Cognitive Therapy and Research menemukan bahwa orang yang tidur kemudian melaporkan pikiran negatif yang lebih kronis sepanjang hari atau perilaku yang dikaitkan dengan depresi.

Sebaliknya, mereka yang tertidur lebih awal mengalami serangan pikiran negatif yang lebih sedikit. Meskipun waktu tidur yang ideal untuk memaksimalkan suasana hati Anda akan bervariasi tergantung pada pekerjaan atau tuntutan hidup Anda, secara umum, tidur satu jam lebih awal dapat memberikan beberapa manfaat kesehatan yang baik.

 

3 dari 3 halaman

5. Terlalu malas untuk bergerak

ilustrasi mengatasi depresi/unsplash

Berbagai penelitian telah menunjukkan, kurangnya aktivitas fisik secara rutin dapat memperburuk kondisi mental. Sebagai gantinya, Heitler mengungkapkan upaya fisik dan mental seperti olahraga dapat meningkatkan suasana hati dan menurunkan kemungkinan untuk merasa tertekan.

Pasalnya, saat tubuh aktif secara fisik, otak akan melepaskan zat kimia yang membuat  merasa nyaman seperti endorfin dan endocannabinoid yang dapat meredakan perasaan depresi.

“Manusia membutuhkan pekerjaan yang memberi mereka tujuan agar merasa baik. Sebaliknya, tidak memiliki apa pun yang kamu rasa benar-benar diinvestasikan membuat pikiran rentan terhadap depresi.” kata Heitler.

Carilah kesibukan yang membawa diri ke arah yang lebih positif. Rencanakan sebuah proyek, hobi, atau kegiatan bakti sosial yang memberi kamu sesuatu untuk dikerjakan.

Penulis : Hilda Irach