Anak Perempuan seperti Layang-Layang bagi Ayahnya, Maknanya Baru Kusadari saat Dewasa

Endah Wijayanti diperbarui 17 Nov 2021, 09:46 WIB

Fimela.com, Jakarta Membahas kisah dan cerita tentang ayah memang tak ada habisnya. Begitu banyak momen tak terlupakan yang kita miliki bersama ayah tercinta. Mulai dari momen paling bahagia hingga momen paling sedih. Setiap hal yang berkaitan dengan ayah selalu berkesan seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2021 Surat untuk Ayah berikut ini.

***

Oleh:  Atik Setyawati

Ayah pernah sampaikan bahwa anak perempuan laksana layang-layang bagi ayahnya. Kapan saat mengulur hingga layangan bebas meliuk-liuk di udara, kapan pula menarik talinya dan membawa pulang. Semua terserah ayah.

Lama kuselami makna perkataan ayah. Baru kini aku mengerti. Sejatinya anak perempuan memang milik ayahnya sebelum ia menikah. Hendak diberikan kepada siapa perwalian itu, terserah ayah. Dan ayah betapa bahagia dan tersanjung ketika seorang pemuda saleh datang meminang putrinya. Tidak ada alasan menolaknya. Ijab qabul terlisankan mengguncang Arsy-Nya. Perwalian pun berpindah tangan. 

Ayah, kala aku kecil dulu, betapa senang aku bersamamu. Menghabiskan gelonan, membuat batu bata bersamamu. Kau siapkan pernak pernik mulai pasir hingga tempat aku mencetak bata. Aku tinggal memakainya. Tiada terasa 500 sampai 1.000 bata tercetak dan tertata rapi. Ayah, bersamamu kukenal arti kerja keras untuk mencapai cita-cita. 

Tak pernah kudengar engkau mengeluh meskipun peluh keringat membanjiri dadamu yang bidang itu. 

What's On Fimela
2 dari 2 halaman

Ayah Sumber Semangatku

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/CandyRetriever

Ayah, ketika waktu berlalu, engkau marah padaku. Engkau katakan sangat kecewa padaku. Ya, aku yang memilih pulang dari asrama karena tak sanggup lagi melanjutkan perjuangan mencapai ijazah sebagai seorang paramedis. Dunia terasa runtuh kala itu, Ayah. Kau marah besar dan aku hanya sanggup tergugu. 

Pelan-pelan kupungut serpihan-serpihan semangat yang kemudian kau embuskan kembali ke dada putrimu ini. Betapa ingin kubalut luka kecewa yang pernah kutorehkan di hatimu, Ayah. 

Bahagiaku, Ayah, ketika akhirnya aku sanggup menjadi seorang sarjana meskipun belum sanggup kubalas jasamu. Kau ucapkan bahwa air susu itu ke bawah, ke anak-anakku. 

Kini, saat usiaku bertambah dewasa kudapati tubuh rentamu, ayah. Namun engkau tetap dengan kerja kerasmu. Ada saja yang engkau lakukan untuk mengisi hari-harimu. 

Ayah, darimu kubelajar arti menghargai diri sendiri dan orang lain. Darimu, kubelajar meraih mimpi. Darimu, kubelajar bahwa pengorbanan pasti berbuah manis. Karenamu, aku yang pernah gagal pun bangkit kembali. 

Ayah, engkaulah tiupan semangatku. Doaku semoga engkau sehat selalu membersamai ibu di usia senja yang berbahagia.

#ElevateWomen