Ada Semangat yang Meredup di Jiwa Ayah

Endah Wijayanti diperbarui 03 Des 2021, 14:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Membahas kisah dan cerita tentang ayah memang tak ada habisnya. Begitu banyak momen tak terlupakan yang kita miliki bersama ayah tercinta. Mulai dari momen paling bahagia hingga momen paling sedih. Setiap hal yang berkaitan dengan ayah selalu berkesan seperti tulisan kiriman Sahabat Fimela yang disertakan dalam Lomba Share Your Stories November 2021 Surat untuk Ayah berikut ini.

***

Oleh: Revi Flow

Temanku bercerita tentang salah satu bacaanya bahwa ketika otak sibuk menumbuhkan banyak sel baru, otak tidak menyimpan ingatan yang sifatnya berjangka panjang. Kita tidak bisa mengingat sebelum usia 3-4 tahun karena ingatan episodik belum muncul saat kecil. Tapi aku masih mengingat sebuah narasi memori saat aku di rumah kakek semasa kecil, usia 3 atau 4 tahun, Ayahku dengan senyumnya menggendongku menuju ibuku yang saat itu sedang menutup lubang ventilasi jendela.

Aku tak tahu kenapa aku mengingat itu. Lama aku merenungkannya, mungkinkah itu refleksi masa depan bahwa ayah akan selalu menuntun dan membimbing menuju sesuatu yang kubutuhkan?

Dalam bahasa waktu, untuk range awal hidup, masa kecil kita dituntut belajar dalam rangka menguasai sesuatu sebagai titik awal. Belajar berjalan, mengeja, dan berekspresi. Apa pun itu orang tua memiliki peran penting. Terkhusus ayahku,  aku masih ingat lekuk dahinya berkerut karena aku yang selalu ngeyel dalam belajar. Ekspresi ayah selalu tegas dan penuh percaya diri.  Terkadang ia memaksakan kehendaknya dan satu dua moment lepas kendali terlarut dalam temperamentalnya utk mempertahankan keyakinannya akan masa depanku.

Ayahku penuh kasih, tapi kadang aku tak bisa mengerti dan menerima ketegasannya. Kupikir itu hubungan yang mendalam dan normal. Love and sedikit sebal relationship.

 

What's On Fimela
2 dari 2 halaman

Rasa Sayang Ini Selalu Ada untuk Ayah

Ilustrasi./Copyright shutterstock.com/id/g/CandyRetriever

Masa remaja dan young adult adalah masa yang bergejolak tentu saja. Karena banyak perdebatan, opini, cinta, dan kasih yang terlibat. Walaupun terkadang aku bertolak belakang tapi saran ayah adalah litelatur pertamaku yg tak dapat kuhindari. Ayahku dengan ketegasanya dan caranya untuk mengarahkanku walaupun ia tak sempurna. Aku menghargai semuanya. Aku mensyukuri semuanya.

Sekarang, sedikit berbeda. Apakah ini karena usia atau tenaga yang mulai melemah? Atau jiwa muda yang sedikit demi sedikit pudar berganti menuju masa senja? Senja, cahaya yang meredup itu, meredupkan wajah ayahku.

Aku melihat jelas ekspresi kekhawatiran, keraguan, kesedihan, dan keputusasaan. Setelah ia sakit dan bagaimana pandemi membuat jarak antara dia dan ruang berekspresinya. Semua terbatas dan membatasi dia. Apakah dia terkekang atau takut, atau butiran-butiran  overthingking dalam otaknya itu yang mengubah dia. Entahlah.

Kata-kata yang melaju keluar dari mulutnya tak penuh optimisme seperti dulu, mereka adalah rangkaian pesimisme yang gelap dan pekat. Aku yang berusaha menghiburnya, semua yang berusaha mempositifkanya serasa terhempas. Ayahku butuh dirinya sendiri untuk keluar menuju kerlip cahaya.

Kuingin menekankan... Semua orang membersamaimu Yah, kembalilah dengan semangatmu yang dulu. Kembalilah dengan jiwamu yang dulu. Kami menyayangimu. Aku, anak perempuanmu, menyayangimu.

#ElevateWomen