Jadilah Perempuan Tangguh dan Berpendidikan agar Kuat Jalani Kehidupan

Endah Wijayanti diperbarui 22 Des 2021, 10:45 WIB

Fimela.com, Jakarta Selalu banyak cinta dan hal istimewa dalam hubungan seorang anak dan ibu. Mungkin tak semuanya penuh suka cita, sebab ada juga yang mengandung duka lara. Masing-masing dari kita pun selalu punya cerita, seperti tulisan yang dikirimkan Sahabat Fimela untuk mengikuti Lomba Ungkapkan Rasa rindu pada Ibu di Share Your Stories Bulan Desember ini.

***

Oleh: Chirta Chartany

Dari sebelum aku lahir aku seorang yatim. Papaku meninggal saat mamaku mengandungku. Semenjak itu mamaku yang menjadi ibu sekaligus ayah untukku banting tulang bekerja mencari nafkah untuk menghidupi aku.

Aku dibawa merantau ke Jakarta saat usiaku 7 tahun. Di kota inilah mamaku berjuang tanpa henti. Hari-harinya dipenuhi dengan bekerja pagi ia bekerja menjaga SPG, sore ia bekerja sebagai pengajar bahasa asing untuk TKW, malam ia bekerja membuat kue dan apapun jika ada yang pesan.

Mamaku seorang yang pintar, multitasking, multitalenta sehingga semua orang suka pada dirinya. Beliau adalah mama yang mengajarkan aku segala hal. Aku selalu diajarkan untuk tidak bergantung pada orang lain. Aku diajarkan untuk selalu bisa mengandalkan diriku sendiri. Aku diajarkan untuk berjuang menggapai impianku, aku diajarkan untuk pantang menyerah dan aku juga dia ajarkan untuk menjadi perempuan yang pintar dan berpendidikan tinggi.

Sampai suatu ketika peristiwa yang membuat aku kehilangan dia. Awalnya ditemukan benjolan di bawah rahangnya, pas diperiksa ke dokter ternyata itu kelenjar getah bening, berbulan-bulan benjolan itu semakin besar dan disarankan untuk dioperasi. Tapi kami tidak punya uang makanya mamaku mencari alternatif untuk pengobatan dan mamaku menemukan orang yang bisa mengobati dengan jalan alternatif yang dikenalkan oleh tetanggaku.

Namun, bulan demi bulan semakin membesar dan akhirnya mamaku tidak bisa bekerja lagi dan terkapar di tempat tidur. Lalu aku dan tanteku memutuskan untuk membawa mamakuke rumah sakit di sana mamakudi suruh dirawat untuk diobati lebih lanjut.

Ternyata makin lama kondisi mama makin memburuk. Akhirnya dokter menyerah dan menyuruh mamaku untuk pulang beberapa minggu setelah ia pulang kondisinya semakin drop dan akhirnya lebaran pertama yang harusnya menjadi kebahagiaan untukku malah menjadi kesedihan karena mamaku meninggal dunia.

Yang aku sesali aku tidak bisa menemani beliau di saat-saat hari terakhirnya karena saat itu aku malah ingin pergi jalan-jalan dengan tanteku. Aku juga tidak paham mungkin karena usiaku masih kecil jadi aku blm paham dan aku melakukan apa yang aku inginkan.

Ternyata hari itu adalah hari terakhir mamakuhidup. Pada hari itulah aku merasa hidupku menjadi suram dan tidak ada pegangan hidup lagi. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan setelah ini.

Hidupku rasanya menjadi tidak berguna lagi. Aku pun sempat menyalahkan Tuhan dengan takdir ini karena aku merasa hidupku tidak adil.

Memang mungkin sudah jalan hidupnya mama seperti untuk mengalami hal ini. Tapi satu hal yang paling penting yang aku dapat dari mamaku. Walaupun aku perempuan aku harus menjadi perempuan yang tangguh dan kuat menghadapi kejamnya hidup.

Sayangilah ibu mu selagi beliau masih hidup. Jangan seperti aku yang tidak bisa merasakan kasih sayang itu dan belum bisa berbakti pada orangtuaku.

Selamat Hari Ibu untuk semua ibu.