Mengapa Gangguan Makan Sulit Disembuhkan? Yuk, Kenali Penyebab dan Pengobatannya

Fimela Reporter diperbarui 29 Mei 2022, 19:15 WIB

Fimela.com, Jakarta Secara umum, sekitar 10% dari populasi manusia di dunia ini pernah dan akan mengalami gangguan makan selama masa hidupnya. Gangguan makan adalah kondisi gangguan mental yang seringkali disalahpahami, mulai dari ciri-ciri hingga proses penyembuhan. Hal tersebut tentu membuat gangguan kesehatan sulit untuk dideteksi secara umum oleh orang awam.

Kesalahpahaman ini juga membuat penderita gangguan makan sulit untuk menerima bantuan dan dukungan dari orang-orang di sekitarnya.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Seputar Gangguan Makan

Credit: pexels.com/Ola

Gangguan makan adalah kondisi gangguan mental yang ditandai dengan perilaku menahan diri dari konsumsi makanan atau bahkan mengonsumsi makanan dalam jumlah besar. Selain itu, perilaku berusaha mengulari kalori yang masuk ke dalam tubuh dengan memuntahkan makanan, olahraga yang berlebihan, serta perilaku lain yang menyiksa diri dapat menjadi ciri seseorang memiliki gangguan makanan. Contohnya, seseorang penderita anoreksia biasanya membatasi jumlah makanan yang mereka konsumsi. Sedangkan penderita bulimia biasaanya memiliki kecenderungan untuk mengonsumsi makanan dalam jumlah besar. Jadi, kondisi gangguan makan adalah kondisi yang tidak bisa ditentukan berdasarkan berat badan seseorang, melainkan berdasarkan perilaku serta cara berpikir mereka terhadap proses mengonsumsi makanan.

Selain berdasarkan berat badannya, kondisi gangguan makan tidak bisa semudah itu dihilangkan dengan mengonsumsi makanan yang berbeda atau memiliki pola makan yang berbeda. Hal tersebut dapat terjadi karena kondisi gangguan makan juga melibatkan cara berpikir penderitanya. Penderita gangguan makan memiliki persepsi sendiri terhadap makanan dan dirinya sendiri. Secara umum, penderita gangguan mental sangat kritis terhadap dirinya sendiri dan menganggap dirinya memiliki banyak kekurangan. Sehingga, mereka melampiaskan pola pikir tersebut pada kegiatan konsumsi makanan untuk memiliki kontrol atas kekacauan yang terjadi pada dirinya. Oleh karena itu, kondisi gangguan makan pada intinya dikelompokkan sebagai kondisi gangguan mental yang menyebabkan perubahan pola pikir dan perilaku pada proses konsumsi makanan.

Kondisi gangguan makan juga dapat dialami siapa saja, tidak hanya perempuan. Remaja adalah salah satu kelompok usia yang sangat rentan mengalami gangguan makan, karena kondisi gangguan makan melibatkan proses perkembangan identitas dan kepercayaan diri seseorang.

3 dari 3 halaman

Penyebab dan Pengobatan

Credit: shutterstock.com

Hingga saat ini, peneliti dan tenaga profesional masih belum bisa menemukan penyebab pasti dari gangguan makan. Tetapi, yang mereka percaya, kondisi gangguan makan biasanya disebabkan oleh kombinasi dari berbagai faktor, seperti genetik, lingkungan, dan sosial. Bahkan, kondisi gangguan mental lain, seperti depresi dan gangguan kecemasan, dapat menyebabkan dipenderitanya memiliki kecenderungan untuk mengalami gangguan makan. Sehingga, kondisi psikologis seseorang juga dapat menjadi faktor lain seseorang memiliki gangguan makan.

Gangguan makan yang dimiliki seseorang dalam jangka waktu panjang akan memengaruhi kondisi kesehatan penderitanya dalam jangka waktu panjang. Penyakit lain akan muncul dari gangguan makan, seperti osteoporosis, anemia, dan kerusakan jantung serta ginjal.

Walaupun gangguan makan adalah salah satu kondisi gangguan mental yang sangat menantang, bukan berarti penderita gangguan makan tidak akan bisa sembuh. Psikoterapi dan terapi yang melibatkan proses pengamatan dan konsultasi nutrisi merupakan salah satu proses penyembuhan gangguan makan yang berhasil menyembuhkan banyak penderita gangguan makan. Semakin cepat seseorang mendapatkan perawatan setelah didiagnosis memiliki gangguan makan, maka akan semakin besar kesempatannya untuk sembuh. Walaupun begitu, tidak pernah ada kata terlambat untuk berubah dan berusaha untuk sembuh. Jadi, jangan ragau untuk menghubungi dan meminta bantuan tenaga profesional, ya!

 

Ditulis oleh: Savitri Anggita Kusuma Wardani