Lady Boss: Sehat juga Bisa Lezat, Cerita Shinta Nurfauzia Rintis Sukses Lemonilo

Nizar Zulmi diperbarui 26 Apr 2023, 12:30 WIB

Fimela.com, Jakarta Sulit untuk tidak tergoda lezat dan gurihnya mie instan yang sudah jadi bagian hidup masyarakat Indonesia. Namun beberapa kandungan di dalamnya tak jarang bikin ketar-ketir soal kesehatan. Namun bagaimana jika ada mie instan yang lezat sekaligus sehat?

Sekilas hal tersebut terdengar too good to be true, tapi bukan berarti mustahil. Salah satu yang mengupayakannya adalah Lemonilo, produk mie instan yang sukses curi perhatian karena peduli soal rasa dan kesehatan.

Lemonilo digagas oleh Shinta Nurfauzia (CEO dan Co-founder) bersama Ronald Wijaya (Co-CEO), dan Johannes Ardiant (Chief Product & Technology). Perjalanan mereka dimulai pada 2016, berusaha melawan stigma makanan sehat yang harganya cenderung mahal dan mengesampingkan rasa nikmat.

"Jadi sebenarnya masalah nutrisi dan makanan sehat itu menjadi bagian dari misi untuk menyehatkan Indonesia. Misi itu bisa digapai jika kita memiliki opsi produk yang tidak hanya sehat tapi juga affordable untuk masyarakat Indonesia," tutur Shinta Nurfauzia dalam sesi wawancara khusus dengan FIMELA baru-baru ini.

What's On Fimela
Shinta Nurfauzia for Fimela Lady Boss (Foto: Dok. Pribadi, Digital Imaging: Nurman Abdul Hakim/Fimela.com)

Pebisnis lulusan hukum Universitas Indonesia ini menyadari pasar mie instan terbilang sangat ketat. Namun ia punya komitmen menyehatkan masyarakat serta fokus produk yang jelas, brand tersebut mengalami pertumbuhan yang pesat. Mereka mulai mendapat tempat di hati masyarakat sebagai produk mie sehat.

Dalam rangka membuat produk mie instan sehat, Lemonilo menerapkan beberapa treatment khusus. Bahan baku mienya dipanggang menggunakan oven yang diklaim mengurangi kadar lemak. Shinta juga menyatakan Lemonilo tidak menggunakan penguat rasa serta dan pewarna buatan. Beberapa kandungan yang terdapat dalam bumbu mie instan pada umumnya juga banyak yang dihilangkan. Karena itu Lemonilo diklaim lebih aman dikonsumsi sehari-hari dengan menu pendamping yang sehat seperti asupan protein dan serat.

"Untuk konsumsinya sendiri sebenarnya Lemonilo sama dengan karbohidrat biasa, jadi bisa ditambahin. All natural product mungkin bisa dikonsumsi lebih sering, tapi tentu harus disertai dengan kandungan nutrisi yang lain juga. Jadi harus ada protein dan sayur. Harus 4 sehat 5 sempurna, karbohidratnya bisa diganti dengan mie instan Lemonilo," jelasnya.

Shinta Nurfauzia bersama Lemonilo juga punya strategi branding yang menarik untuk menyasar konsumen, terutama di kalangan anak muda. Apalagi generasi muda sekarang sudah punya kesadaran lebih terkait kesehatan makanan yang mereka konsumsi. Seperti apa caranya? Simak wawancara selengkapnya dengan Shinta Nurfauzia soal branding, suka duka berbisnis dan visinya sebagai leader berikut ini.

2 dari 3 halaman

Jadi Pioneer Mie Instan Sehat

Shinta Nurfauzia for Fimela Lady Boss (Foto: Dok. Pribadi, Digital Imaging: Nurman Abdul Hakim/Fimela.com)

Sejak kapan sebenarnya Anda memiliki keinginan berbisnis?

Kalau untuk berbisnis sebenarnya udah cukup lama. Kalau Lemonilo sendiri berdiri di tahun 2016, tapi mungkin saya sendiri sudah pernah coba-coba bikin bisnis dari SD, SMP, SMA berjualan ke teman-teman, keluarga. Kalau dulu, usahanya adalah pancake, yah pokoknya bisnis kecil-kecilan. Tapi kalai bisnis yang benar serius itu memang pada saat setelah lulus S2, dan mulai di Consula, company bisnis sebelum Lemonilo.

Lulus kuliah di bidang hukum, kenapa tertarik berbisnis produk? 

Sebenarnya menurut saya apapun bidang formal yang menjadi fokus kita saat kuliah ya sebenarnya kita bisa-biasa aja ya kalau mau menjadi enterpreneur. Kalau ditanya kenapa sih pengin masuk bisnis? karena saya melihat bahwa sebagai entrepreneur maka potensi impec yang bisa kita berikan ke masyarakat itu sangat-sangat besar, dari mulai membuka lapangan pekerjaan yang paling state forward bahkan produk Kita juga bisa memiliki memberikan solusi kepada masyarakat. Sebenarnya hal yang sama, atau bisa dibilang benang merahnya itu juga menjadi pemikiran saya pada saat saya memutuskan untuk berkuliah di bidang hukum saat itu, yaitu potensi impact yang bisa diberikan dari seseorang yang memiliki latar belakang dan hukum. Kalau saya ikuti jalur formalnya maka kan mungkin bisa menjadi lawyer atau menjadi consultan dan memang ini juga sangat berpotensi untuk bisa memberikan potensi yang besar bagi masyarakat. Tapi kemudian saya memilih potensi impact itu akan saya berikan melalui enterpreneurship, makanya kenapa saya akhirnya memilih fokus di bidang bisnis.

Bagaimana perjalanan awal Lemonilo sebagai brand makanan instan baru, risetnya seperti apa?

Sebenarnya tentunya pada saat kita membuat suatu ide dan kemudian merealisasikannya menjadi bentuk produk maka akan ada satu cycle yang namanya ideation, kemudian incubation, jadi kita inkubasi idea itu apakah kemudian kita juga tes ke teman-teman. Setelah itu masuk product typing dan kemudian kita tes dan setelah itu. maka akan kita lihat apakah produk marketnya itu sudah terjadi untuk produk kita. Begitupun Lemonilo harus ada tahap-tahap itu juga. Berapa lama? kalau di Lemonilo sendiri kita di tahun 2016 diluncurkan, 2017 keluarlah produk pertama kita produk consumer kita yaitu instan noodle dan kemudian baru di tahun-tahun berikutnya ada produk-produk lain juga, dan bahkan saat ini pada saat mengeluarkan produk baru, maka juga melalui tahap itu gitu. Jadi kalau ditanya beberapa lama untuk mematangkan ide, saya rasa ide-ide itu terus bermunculan dan memang pematangannya itu tergantung dari jenis produk itu sendiri. Kalau Lemonilo sendiri kan awalnya website. Kita bikin itu dua minggu dan kemudian kita launching, tapi kalau kalau instan noodle-nya bisa dibilang setahun dari sejak lemonilo berdiri sampai dengan di 2017 kita akhirnya launching. Ya kira-kira setahun untuk bisa merealisasi produk. Jadi tergantung tipe produknya apa.

Kenapa ingin fokus dengan produk mie instan?

Dulu mungkin konteksnya lebih sebagai seorang remaja mencoba berbisnis. Jadi mungkin hubungannya adalah oh yaudah kan saya pengen coba-coba jadi enterpreneur dan saya coba berbisnis jualannya apa aja, mungkin agak berbeda dengan konteksnya waktu bikin Lemonilo atau suatu startup maka memang prosesnya jauh lebih panjang. Jadi bekal yang saya dapatkan dari pengalaman-pengalaman berjualan sebelumnya itu sebenarnya memberikan fondasi memberikan gambaran, kira-kira kalau jadi enterpreneur seperti apa.

Shinta Nurfauzia for Fimela Lady Boss (Foto: Dok. Pribadi, Digital Imaging: Nurman Abdul Hakim/Fimela.com)

Mie instan sendiri kan pasarnya ketat, strategi apa yang dilakukan Lemonilo?

Yang pertama tentunya kita membuat space atau kategori kita sendiri, karena bisa dibilang sebelum adanya Lemonilo kategori mie instan sehat atau kategori makanan sehat di Indonesia tahun 2016 kalaupun ada skalanya sangat kecil. Jadi tidak seperti skala yang sekarang. Jadi justru kalau Lemonilo itu bisa dibilang spesialisasinya membuat kategori baru. Mie instan pun kategori baru, kategorinya mie sehat.

Kedua adalah dari setelah membuat kategori baru maka jobs selanjutnya adalah memperbesar kategori tersebut. Memperbesar kategori ini bukan merupakan tugas Lemonilo itu sendiri. Justru menurut kami Lemonilo ada pionir untuk menggerakkan consumer good industry untuk bisa mengarah ke yang lebih sehat, maka dibutuhkan bantuan dan juga kerja sama dengan berbagai pihak termasuk juga komitmen dari consumer goods lainnya untuk bisa membuat produk-produk yang lebih sehat bagi masyarakat. Ketiga tentunya m mempertahankan posisi kami sebagai leader di kategori makanan sehat di dunia FMCG.

Apa alasan yang membuat Anda tergerak merintis produk makanan sehat?

Saya melihat bahwa saya balik ke keadaan Indonesia di tahun 2016 bahkan sampai sekarang, nutrisi itu menjadi salah satu hal yang paling penting yang perlu dimiliki oleh seseorang atau suatu keluarga untuk bisa mencapai mimpi atau mencapai produktivitas yang dia inginkan. Contoh kalau anak lahir kita harus kasih dia nutrisi supaya dia bisa tumbuh dengan baik. Kalau kita sudah dewasa, kita harus memberikan tubuh kita nutrisi supaya kita bisa produktif.

Jadi sebenarnya masalah nutrisi dan makanan sehat itu menjadi bagian dari misi untuk menyehatkan Indonesia. Dari situlah kami melihat solusi dari menyehatkan Indonesia itu bisa digapai jika kita memiliki opsi produk yang tidak hanya sehat tapi juga affordable untuk masyarakat Indonesia. Saat itu nggak ada, jadi kita bisa bahwa oh ya udah kalau gitu kita bikin produk yang sehat tapi juga affordable. Kita juga tanya kepada diri kita, kalau begitu produknya apa dong? Kalau misalnya kita pengen bikin produk yang sehat dan affordable dan kemudian juga bisa berguna untuk banyak masyarakat Indonesia. Kita nggak ngelihat tuh kalau kita masuk ke mie instan, apakah nanti saingannya banyak, kita bisa bertahan ga ya, mungkin sangat-sangat naif ya saat itu. Tapi kita hanya berpikir seperti itu, bahwa kalau kita bikin produk yang sehat yang sehat, affordable maka banyak masyarakat di Indonesia yang bisa kinta bantu. 

Seperti apa kandungan Lemonilo untuk jadi mie instan yang sehat?   

Dari segi kandungannya pertama dari proses mie instan Lemonilo itu kita menggunakan pemanggangan atau oven. Jadi enggak digoreng, dengan demikian maka kadar lemaknya memang lebih rendah daripada mie instan biasa. Tapi tentunya ada cost di situ ya karena kan memang proses pemanggangan itu lebih lama, mesinnya juga lebih mahal, jadi memang kosnya lebih tinggi. Yang kedua ada dari segi seasoningnya, seasoningnya untuk kita ya yaitu tanpa pengawet, tanpa penguat rasa, tanpa pewarna buatan. Dan sebenarnya banyak sekali ingredients yang ada di mie instan lain yang kita hilangkan. Jadi memang kalau dilihat di balik tuh ingredient phase-nya kita mau Lemonilo punya itu bisa dibilang paling short. ya paling pendek atau paling dekat dengan yang terakhir itu.

Sebagai mie sehat, seberapa sering bisa dikonsumsi?

Untuk konsumsinya sendiri sebenarnya Lemonilo sama dengan karbohidrat biasa, jadi bisa ditambahin. Seasoning ya jadi sering apa kita bisa konsumsi. Jujur kalau saya dan keluarga bisa hampir setiap hari makannya. Tapi tentu sebagai produsen ya kita membebaskan, kita tidak menjudge untuk makan setiap hari, tidak juga tidak juga ya untuk tidak makan setiap hari. Tapi all natural product mungkin iya lebih bisa dikonsumsi sering. Tapi tentu harus disertai dengan kandungan nutrisi yang lain juga, jadi harus ada protein, harus ada sayur. Jadi harus 4 sehat 5 sempurna, karbohidratnya bisa diganti dengan mie instan Lemonilo.

3 dari 3 halaman

Pentingnya Branding dan Support System

Shinta Nurfauzia for Fimela Lady Boss (Foto: Dok. Pribadi, Digital Imaging: Nurman Abdul Hakim/Fimela.com)

Dari 2016 sampai sekarang apa aja sih pelajaran berharga yang didapat selama berkecimpung di dunia bisnis?

Yang pertama bisnis itu susah banget, jadi kalau ada orang yang pengen bikin bisnis supaya bisa lebih banyak waktu, kayaknya itu salah strategi. Karena bisnis kerjanya 24 jam selama 7 hari. Mungkin sudah pernah dengar, kalau menjadi enterpreneur itu kalau mau tidur saja kepikiran bisnis, lagi ngapain nih kepikiran bisnis, lagi liburan juga kepikirannya bisnis dan itu benar terjadi. Jadi bikin bisnis itu susah banget dan pasti kamu bakal bekerja lebih banyak jamnya daripada kalau kamu jadi karyawan biasa.

Yang kedua, bisnis itu banget rentan gagal, jadi berapa persen sih orang yang sukses menjadi enterpreneur itu sangat kecil. Saya pun pernah gagal juga ya waktu itu kan bikin company pertama Consula. Kemudian akhirnya saya tutup dan bikin Lemonilo bareng-bareng sama Founder saya juga. Jadi saya pun pernah mengalami kegagalan di dalam lemonilo sendiri pun tentunya ada produk yang berhasil, ada produk yang tidak berhasil yang kemudian kita cancel.bjadi bisnis rentan adanya kegagalan.

Mengingat hal yang pertama dan yang kedua maka pelajaran saya adalah yang ketiga jangan bikin bisnis kalau kamu enggak benar-benar passion dengan apa yang kamu kerjakan. Bisnis itu enggak selalu harus skalanya itu besar loh ya bisa juga bisnisnya anda Bakso. Kalau passion di situ ya bisa sukses. Bisa juga baju, kalau bagus dan passion-nya di situ bisa sukses. Kalau bisnis sesuai passion bisa melewati 1 dan 2 itu. Bahwa bisnis susah dan penuh perjuangan. Kalau nggak niat banget, pasti pengen tutup saja deh. Soalnya, kayaknya gampang kerja dengan orang. Kalau nggak passion memang mikirnya kerja sama orang aja.

Keempat, bisnis itu sebenarnya susah kalau cuma sendiri. Maksudnya ada yang bisa ketemu Founders, Co-Founders dan ada juga yang bisa sendiri. Tapi sendiri pun ada izin dari keluarga, dan harus punya support system. Kalau bisnis satu tahun pertama bisa saja kamu tidak membawa uang pulang, yang ada keluar uang karena bisnis kamu lagi makan uang kamu supaya bisa menjadi sesuatu yang kamu jual. Itu benar terjadi. Misal kamu seorang ibu, support system membantu merawat anak kamu. Kalau ayah, harus ada yang support untuk tidak patah semangat. Kalau kamu single, harus punya support system untuk maju terus. Itu penting, sudah tidak punya support system dari dalam company dan diri sendiri akan susah support system juga bisa dibangun misalnya orang yang mungkin nggak punya keluarga, mereka bisa dapat support system dari sahabat. Nggak punya sahabat, bisa dari guru. Intinya support system bisa membuat bisnis menjadi lancar.

Kalau Anda, support system-nya siapa?

Pasti suami, kalau belum nikah ya ibu saya. Selain itu support system saya pastinya Founder saya dan tim Lemonilo.

Sempat ada pengalaman tak terlupakan selama merintis bisnis?

Ada itu mah cerita setiap liburan kayaknya. Kalau mau ambil cuti mah ada aja. Yang paling kocak itu pas kita mau launching NCT sebagai Brand Ambassador tahun lalu. Sebenarnya itu new year itu, akhir tahun 2021 ke 2022, terus tiba-tiba ada berita Lemonilo menggunakan NCT sebagai BA bocor di media sosial. Kayaknya ada salah satu orang mendaptakan kartu NCT dan di post dan gempar. Kita juga ada kontrak. Boleh konfirmasi kapan. Akhrinya kita prepare jadi kerja di malam tahun baru. Sampai di roaasting 'lagi mau santai, tiba-tiba ada WA di grup dari ka Shinta ada yang bocor'. Terus tim company marketing nggak bisa liburan karena itu.

Pernah merasakan dikotak-kotakkan karena menjadi CEO perempuan?

Pernah dong, pasti pernah siapapun kamu di manapun posisi kamu yang namanya perempuan. Mau di Indonesia, mau di Amerika, mau di Eropa, di manapun perempuan itu pasti pernah mendapatkan yang namanya dikotak-kotakan seperti itu. Contoh lagi marah, kalau laki-laki enggak pernah kan dibilangin lagi mens? Itu salah satu kata-kata yang disebut lucu, padahal tidak. Karena apa? Karena kesannya kalau perempuan mens pasti marah-marah. Menurutku itu tidak valid, terlalu mengotak-ngotakkan. Karena dengan dikatakan seperti itu, maka perempuan itu seolah tidak bisa mengontrol emosinya. Terus ada lagi, perempuan harusnya menjaga anak dan mendidik anak di rumah. Kalau kayak gitu, harus bisa dibedakan dong mana yang kewajiban dan biologis perempuan. Kalau yang biologis ya melahirkan, menyusui. Masa karena perempuan harus melakukan biologisnya, maka mengurus anak adalah kewajiban perempuan. Padahal kan laki-laki juga punya tanggung jawab dalam menjaga anak. Dengan begitu dua duanya bahagia kan rumah tangganya akan lebih bahagia. Kalau saya sih sebenarnya yang penting kita bahagia. Jadi kita mendapatkan potensi yang kita bisa tanpa ada pengkotam-kotakkan sosial itu, jadi dibebasin dong ke keadaan keluarga masing-masing maunya seperti apa, asalkan mereka bahagia dan anak-anaknya juga bahagia.

Shinta Nurfauzia for Fimela Lady Boss (Foto: Dok. Pribadi, Digital Imaging: Nurman Abdul Hakim/Fimela.com)

Pernah menunjuk NCT sebagai Brand Ambassador, apakah Lemonilo marketnya anak muda?

Tergantung produk, setiap produk ada target tertentu. Kalau bahas noodle ya family. Kalau mie pedas Korea Lemonilo targetnya anak muda. Jadi ya beda produk beda juga marketnya.

Bagaimana cara Anda meningkatkan kualitas diri?

Pertama, saya suka baca buku, nonton documentary bisa meningkatkan pengetahuan. Kedua, saya banyak ketemu orang, jadi banyak belajar, tergantung mau belajar apa ke pakar yang mana jadinya.

Selain bisnis ada mimpi lain yang ingin diwujudkan?

Kalau personal ada, saya pengen bisa punya foundation untuk perempuan. Foundation ini bertujuan agar perempuan bisa lebih berkarya, saya tertarik sekali. Kedua, ingin membuat foundation untuk education dan nutrition. Semoga one day bisa ya.

Di era digital seperti sekarang, bagaimana konsep branding yang ideal tanpa terkesan memaksa?

Sebenarnya konsep branding paling utama harus memiliki consumer base kamu. Kalau diperhatikan branding yang berhasil kalau didengar cocok banget sama komunitas tertentu dan tidak cocok dengan komunitas lain. Jadi speak one segmanted market.

Sebenarnya contoh paling kecil secara gratis mempromosikan produk kamu. Kayak zaman sekarang review yang tidak berbayar. Itu seperti branding. Kalau buat produk baik. Review baik akan terjadi. Dari review akan ke branding ya. Branding simple, yang susah tugas marketing ada mencari one liner, one tagline. Kayak Nike ada 'Just Do It. Itu kan lama ya menemukannya. Banyak brand yang tidak memiliki itu. The best company ya one liner, branding ya itu. Untuk proses panjang banget dan brand bisa bayar millyaran untuk one liner.

Apa yang ingin Anda sampaikan pada perempuan yang ingin memulai bisnis?

Yang pertama Find your trip, Find your support system. Jadi bangun support system kamu. kalau kamu single ya ajak temen-temen kamu untuk menjadi pendukung kamu nomor satu, suporter kamu nomor satu. Caranya gimana? Caranya bikin grup bikin dan bilang pengin bikin bisnis. Kalau sudah berkeluarga minta dukungan dari papa, mama, mertua, suami. Yang kedua adalah Jangan pernah melihat diri kamu, karena kamu perempuan. Sering perempuan itu di kotak-kotakkan oleh ekspetasi sosial. Oh kalau perempuan itu harus a b c d e, tapi sebenarnya kalau kamu lepaskan kotak itu dan ekspektasi sosial itu kamu akan lebih gampang dalam menemukan jati diri kamu sebagai seorang enterpreneur. Di situlah kuncinya kamu bisa berkarya dengan lebih baik lagi dan yang ketiga semangat tentunya karena bisnis susah tapi bisa kok.