Kenali Cerebral Palsy pada Anak Sebelum Terlambat

Maritza Samira diperbarui 28 Agu 2023, 10:30 WIB

Fimela.com, Jakarta Banyak kasus cerebral palsy yang terlambat diatasi karena masalah kesehatan ini tidak terdeteksi sejak awal. Umumnya baru sadar ketika anak mencapai usia dua hingga tiga tahun, ketika perkembangan fisiknya mengalami keterlambatan. Meskipun cerebral palsy umumnya didiagnosis pada masa anak-anak, namun banyak remaja dan orang dewasa dengan kondisi ini yang terus hidup dengan tantangan sepanjang hidupnya.

Cerebral palsy (CP) adalah kondisi medis yang memengaruhi otot dan saraf ditandai dengan kesulitan dalam menggerakan tubuhnya. Cerebral palsy terjadi karena kerusakan atau gangguan pada otak yang terjadi sebelum, selama, atau setelah melahirkan. Kondisi ini dapat memengaruhi kemampuan seseorang untuk berjalan, berbicara, dan melakukan aktivitas sehari-hari lainnya.

Dilansir dari laman Kementerian Kesehatan, cerebral palsy merupakan kondisi kelainan motorik yang disebabkan oleh kerusakan pada otak yang terjadi pada masa prenatal atau perinatal. Gejala cerebral palsy pada anak biasanya adanya gangguan fungsi motorik seperti kesulitan berjalan, merangkak, berbicara, dan melakukan gerakan yang halus.

2 dari 4 halaman

Penyebab Cerebral Palsy

Cerebral palsy disebabkan adanya kerusakan otak. (Foto: Unsplash/Jonathan Borba)

Dikutip dari laman mitrakeluarga.com, penyebab utama cerebral palsy adalah karena perkembangan otak yang tidak normal atau adanya kerusakan pada otak yang sedang berkembang sehingga memengaruhi kemampuan untuk mengontrol otot-ototnya.

Gangguan perkembangan otak tersebut biasanya terjadi saat anak masih di dalam kandungan. Salah satu penyebab paling sering karena kekukarangan oksigen saat melahikan. Hampir 90% kasus cerebral palsy diidentifikasi sebagai penyakit bawaan lahir.

Hal tersebut memicu terjadinya kerusakan pada bagian otak yang disebut materi putih, kemungkinan sebagai akibat dari berkurangnya suplai darah atau oksigen, atau yang dikenal sebagai periventricular leukomalacia (PVL).

3 dari 4 halaman

Faktor Risiko Cerebral Palsy

Faktor risiko cerebral palsy dapat terjadi saat hamil serta infeksi saat bayi lahir. (Foto: Unsplash/Christian Bowen)

Terdapat sejumlah faktor risiko yang meningkatkan kemungkinan seorang anak menderita cerebral palsy. Beberapa di antaranya terjadi saat hamil serta infeksi penyakit saat bayi baru lahir. Dilansir dari cdc.gov, berikut beberapa faktor risiko cerebral palsy:

Berat badan lahir rendah (BBLR)

Anak-anak yang memiliki berat kurang dari 2.5 kilogram saat lahir, dan terutama anak yang beratnya kurang dari 1.5 kilogram memiliki peluang lebih besar untuk menderita cerebral palsy.

Kelahiran prematur

Anak-anak yang lahir sebelum minggu ke-37 kehamilan, terutama jika mereka lahir sebelum minggu ke-32 kehamilan, memiliki peluang lebih besar untuk mengalami cerebral palsy. Namun tidak perlu khawatir, perawatan intensif untuk bayi prematur telah meningkat pesat selama beberapa dekade terakhir.

Kelahiran kembar

Kembar dua, kembar tiga, dan kelahiran kembar lainnya memiliki risiko cerebral palsy yang lebih tinggi, terutama jika bayi kembar meninggal sebelum lahir atau segera setelah lahir. Kebanyakan  peningkatan risiko ini disebabkan fakta bahwa anak yang lahir dari kehamilan ganda seringkali lahir lebih awal atau dengan berat lahir rendah, atau keduanya.

Perawatan infertilitas dengan teknologi reproduksi berbantuan (ART)

Anak-anak yang lahir dari kehamilan akibat penggunaan beberapa perawatan infertilitas seperti pengobatan fertilitas, fertilisasi in vitro (bayi tabung), dan surogasi memiliki peluang lebih besar untuk menderita cerebral palsy. Sebagian besar peningkatan risiko disebabkan oleh kelahiran prematur atau kelahiran kembar, atau keduanya; kelahiran prematur dan kelahiran kembar meningkat di antara anak-anak yang dikandung dengan perawatan infertilitas ART.

Infeksi selama kehamilan

Infeksi dapat menyebabkan peningkatan protein tertentu yang disebut sitokin yang beredar di otak dan darah bayi selama kehamilan. Sitokin menyebabkan peradangan, yang dapat menyebabkan kerusakan otak pada bayi. Demam pada ibu saat hamil atau melahirkan juga bisa menyebabkan masalah ini. Beberapa jenis infeksi yang dikaitkan dengan cerebral palsy termasuk virus seperti cacar air, rubella, dan cytomegalovirus (CMV), dan infeksi bakteri seperti infeksi pada plasenta atau selaput janin, atau infeksi panggul ibu.

Penyakit kuning dan kernikterus

Penyakit kuning terjadi ketika zat kimia yang disebut bilirubin menumpuk di dalam darah bayi. Ketika terlalu banyak bilirubin menumpuk di tubuh bayi yang baru lahir, kulit dan bagian putih mata mungkin terlihat kuning. Ketika penyakit kuning yang parah tidak diobati terlalu lama, dapat menyebabkan kondisi yang disebut kernikterus. Hal ini dapat menyebabkan cerebral palsy dan kondisi lainnya. Terkadang, kernikterus terjadi akibat perbedaan golongan darah ABO atau Rh antara ibu dan bayi. Hal ini menyebabkan sel darah merah pada bayi rusak terlalu cepat, mengakibatkan penyakit kuning yang parah.

Kondisi medis ibu

Ibu dengan masalah tiroid, disabilitas intelektual, atau kejang memiliki risiko yang sedikit lebih tinggi untuk melahirkan anak dengan cerebral palsy.

Komplikasi kelahiran

Pelepasan plasenta, ruptur uteri, atau masalah dengan tali pusar saat melahirkan dapat mengganggu suplai oksigen ke bayi dan mengakibatkan cerebral palsy.

4 dari 4 halaman

Gejala Cerebral Palsy

Gejala cerebral palsy bervariasi, mulai dari ringan hingga berat. (Foto: Unsplash/Stephen Andrews)

Gejala cerebral palsy bervariasi dari orang ke orang mulai dari ringan hingga berat. Beberapa penderita cerebral palsy mungkin mengalami kesulitan berjalan dan duduk. Penderita cerebral palsy lainnya mungkin mengalami kesulitan dalam menggenggam benda. Gejalanya dapat bervariasi tergantung pada bagian otak yang rusak. Dikutip dari healthline.com, beberapa gejala yang lebih umum meliputi:

  • Keterlambatan dalam keterampilan motorik, seperti berguling, duduk sendiri, atau merangkak
  • Kesulitan berjalan
  • Otot yang terlalu lemas atau terlalu kaku
  • Spastisitas atau kaku otot dan refleks berlebihan
  • Ataksia atau kurangnya koordinasi otot
  • Tremor atau gerakan tak sadar
  • Keterlambatan perkembangan bicara dan kesulitan berbicara
  • Air liur yang berlebihan dan masalah dengan menelan
  • Mengutamakan satu sisi tubuh, seperti menggapai dengan satu tangan
  • Masalah neurologis, seperti kejang, cacat intelektual, hingga kebutaan

Beberapa anak mungkin tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit ini sampai berbulan-bulan atau bertahun-tahun kemudian. Menurut Eunice Kennedy Shriver, National Institute of Child Health and Human Development, gejala cerebral palsy biasanya muncul dalam beberapa bulan setelah lahir.

Meskipun kondisi ini tidak sembuh sepenuhnya, dengan intervensi yang tepat, anak-anak dengan cerebral palsy dapat mengembangkan kemampuannya dan menjalani kehidupan yang aktif serta produktif.

Penulis: Maritza Samira

#BreakingBoundariesAgustus