Fimela.com, Jakarta Sahabat Fimela, siapa sih yang tidak pernah merasakan nyeri haid? Rasa sakit di perut bagian bawah saat menstruasi memang sudah menjadi “teman tahunan” bagi banyak perempuan. Biasanya, kram ringan terasa wajar, tapi ketika nyeri haid muncul dengan intensitas tinggi hingga mengganggu aktivitas sehari-hari, kondisi ini memiliki istilah medis: dysmenorrhea atau dismenore.
Dysmenorrhea bukan sekadar kram perut biasa. Dilansir dari Cleveland Clinic, kondisi ini dapat menimbulkan beragam gejala yang membuat tubuh terasa lemah dan kurang nyaman sepanjang periode haid. Beberapa perempuan bahkan merasakan nyeri yang menjalar hingga punggung bawah, pinggul, dan paha, disertai mual, pusing, atau kelelahan ekstrem.
Karena itu, penting bagi Sahabat Fimela untuk mengenali tanda-tanda dysmenorrhea agar bisa mengelola nyeri haid dengan tepat, sekaligus menjaga kualitas aktivitas sehari-hari tanpa terganggu rasa sakit yang berlebihan.
Gejala Dysmenorrhea Selain Sakit Perut
Sahabat Fimela, nyeri haid atau dysmenorrhea ternyata bukan hanya tentang rasa sakit di perut semata. Banyak perempuan yang merasakan gejala lain yang sama mengganggunya. Misalnya, ada sensasi tertekan di area perut yang membuat aktivitas sehari-hari terasa tidak nyaman, seolah-olah tubuh terus menanggung beban.
Rasa nyeri juga kerap menjalar hingga ke punggung bawah, pinggul, bahkan paha bagian dalam, membuat gerakan sederhana seperti berjalan atau duduk pun menjadi tantangan. Tak jarang, kontraksi rahim yang terlalu kuat memicu mual, muntah, bahkan diare, sehingga kondisi tubuh terasa semakin lemah.Selain itu, sebagian perempuan juga mengalami sakit kepala dan pusing yang membuat sulit fokus.
Tubuh terasa cepat lelah meski tidak banyak melakukan aktivitas, seolah energi terkuras begitu saja.Gejala-gejala ini biasanya mulai terasa 24 hingga 48 jam sebelum menstruasi dimulai, lalu perlahan mereda setelah dua hingga tiga hari. Namun, bagi sebagian perempuan, rasa sakit tersebut bisa bertahan lebih lama dan benar-benar mengganggu produktivitas sehari-hari.
Penyebab Dysmenorrhea
Lalu, apa yang sebenarnya membuat haid terasa sangat menyakitkan? Penyebab utamanya adalah meningkatnya produksi prostaglandin, zat kimia alami dalam tubuh yang memicu kontraksi rahim agar lapisan dinding rahim luruh. Semakin tinggi kadar prostaglandin, semakin kuat pula kontraksi yang menimbulkan nyeri.
Terdapat dua jenis dysmenorrhea yang perlu diketahui:
- Dysmenorrhea Primer
Nyeri haid yang muncul secara teratur setiap periode tanpa ada kondisi medis tertentu. Biasanya dimulai sejak remaja dan bisa berkurang seiring bertambahnya usia atau setelah melahirkan.
- Dysmenorrhea Sekunder
Nyeri haid yang dipicu oleh kondisi medis lain, misalnya:
- Endometriosis: jaringan dinding rahim tumbuh di luar rahim.
- Adenomyosis: jaringan dinding rahim menembus otot rahim.
- Fibroid: tumor jinak di rahim.
- Pelvic Inflammatory Disease (PID): infeksi pada organ reproduksi.
- Stenosis serviks atau kelainan bawaan rahim.
Siapa yang Lebih Berisiko?
Perempuan yang mendapatkan menstruasi pertama sebelum usia 12 tahun, berusia di bawah 20 tahun, memiliki periode haid panjang atau berat, merokok, atau memiliki riwayat keluarga dengan dismenore lebih rentan mengalami kondisi ini.