Tidak Takut Ketinggalan! Cara Orangtua Membantu Anak Lawan FOMO

Nazwa Putri KurniawanDiterbitkan 20 April 2026, 09:00 WIB

Fimela.com, Jakarta Di era yang serba cepat dan saling terhubung, anak-anak kini lebih mudah merasa tertinggal dari aktivitas teman-temannya. Rasa takut ketinggalan atau fear of missing out (FOMO) sering muncul saat mereka melihat teman mencoba game terbaru, mengikuti tren media sosial, atau bergabung dalam kegiatan populer. Jika dibiarkan, FOMO dapat memicu rasa cemas, menurunkan kepercayaan diri, hingga membuat anak sulit menikmati apa yang dimiliki.

Peran orangtua menjadi kunci untuk membantu anak menghadapi tekanan sosial ini. Dengan memahami penyebab FOMO dan cara menanganinya, orangtua dapat mendampingi anak belajar mengendalikan keinginan mengikuti tren tanpa merasa terbebani. Berdasarkan sumber dari eset.com, sikap hangat, komunikasi yang terbuka, dan teladan untuk menghargai hal-hal sederhana dapat menumbuhkan rasa cukup dan ketenangan dalam diri anak.

Artikel ini mengajak orangtua menemukan langkah praktis untuk membangun kepercayaan diri mereka. Dengan dukungan yang tepat, anak dapat memahami bahwa kebahagiaan tidak ditentukan oleh selalu mengikuti tren, melainkan oleh kemampuan untuk menikmati apa yang ada dan fokus pada hal-hal yang benar-benar berarti bagi dirinya.

2 dari 5 halaman

Bangun rasa percaya diri

Dorong anak untuk mengenali kelebihan dan minatnya sendiri. (Foto: StockSnap/Pixabay)

Langkah awal untuk membantu anak menghadapi FOMO adalah dengan menanamkan rasa percaya diri yang kokoh. Anak yang percaya pada kemampuan dirinya akan lebih fokus pada minat dan potensi yang dimiliki, sehingga tidak mudah terpengaruh oleh tren maupun tekanan teman sebaya.

Orangtua dapat mendukung proses ini dengan memberikan apresiasi atas setiap usaha yang dilakukan anak, bukan hanya pada hasil akhirnya, serta membantu mereka mengenali kelebihan dan pencapaian diri. Memberi ruang bagi anak untuk membuat keputusan sederhana, seperti menentukan pakaian atau aktivitas yang ingin dilakukan, juga membantu menumbuhkan keyakinan terhadap pilihan sendiri. Dengan fondasi percaya diri yang kuat sejak dini, anak akan lebih mampu menghargai dirinya tanpa merasa perlu selalu mengikuti apa yang dilakukan orang lain.

3 dari 5 halaman

Latih anak mengelola emosi

Ajak anak bicara tentang perasaannya saat merasa tertinggal atau tidak diajak. (Foto: StockSnap/Pixabay)

Melatih anak mengenali dan mengendalikan emosinya merupakan langkah penting untuk membantu mereka menghadapi FOMO. Rasa kecewa, sedih, atau cemas kerap muncul saat anak tidak dapat ikut serta dalam tren atau kegiatan yang dilakukan teman-temannya. Orangtua dapat mendampingi dengan mengajarkan anak memberi nama pada setiap perasaan yang muncul, seperti sedih atau kesal, agar mereka lebih mudah memahami dan menerima emosinya.

Penting juga untuk memvalidasi perasaan tersebut tanpa menghakimi sehingga anak merasa dihargai dan dimengerti. Selain itu, ajarkan cara-cara sederhana untuk menenangkan diri, misalnya menarik napas dalam, berbicara dengan orang dewasa yang dipercaya, atau melakukan aktivitas yang membuatnya nyaman. Dengan kemampuan mengelola emosi yang baik, anak akan lebih tangguh menghadapi kekecewaan dan tekanan sosial tanpa merasa harus selalu mengikuti orang lain demi merasa bahagia.

4 dari 5 halaman

Ajarkan rasa cukup dan bersyukur

Biasakan anak menghargai apa yang dimiliki dan menikmati momen sederhana. (Foto: Div_Iv/Pixabay)

Menanamkan rasa cukup dan bersyukur pada anak adalah langkah untuk membantu anak lepas dari FOMO. Anak yang terbiasa menghargai apa yang dimiliki akan lebih mudah merasa bahagia tanpa perlu terus-menerus mengejar hal baru atau membandingkan diri dengan orang lain. Orangtua dapat mencontohkan sikap ini melalui hal sederhana, seperti berterima kasih atas makanan yang tersedia, menghargai waktu bersama keluarga, atau mensyukuri hal kecil dalam keseharian.

Ajak anak untuk menyadari hal-hal yang patut disyukuri, seperti kesempatan bermain, memiliki sahabat yang baik, atau belajar keterampilan baru. Dengan membiasakan sikap ini, anak akan belajar menemukan kebahagiaan dari apa yang ada saat ini, bukan dari apa yang belum dimiliki. Rasa cukup dan syukur yang dipupuk sejak dini dapat membuat anak lebih tenang, percaya diri, serta tidak mudah terpengaruh oleh tren maupun tekanan sosial di sekitarnya.

5 dari 5 halaman

Fokus pada aktivitas yang bermakna

Dorong anak mengikuti kegiatan yang sesuai minat dan memberikan manfaat, bukan sekadar ikut-ikutan. (Foto: DigtalLife4/Pixabay)

Mendorong anak untuk fokus pada aktivitas yang bermakna dapat menjadi cara efektif membantu mereka terhindar dari FOMO sekaligus merasakan kepuasan yang lebih mendalam. Saat anak terlibat dalam kegiatan yang sesuai dengan minat dan memberi manfaat positif, seperti olahraga, seni, atau mempelajari keterampilan baru, mereka akan merasa lebih percaya diri dan tidak mudah tergoda oleh tren sesaat.

Peran orangtua penting dalam mendukung proses ini, mulai dari membantu anak menemukan aktivitas yang disukai, menyediakan waktu untuk mengeksplorasi, hingga memberikan apresiasi atas setiap usaha yang dilakukan. Dengan mengisi hari-hari dengan kegiatan yang bermanfaat, anak akan belajar menikmati proses, menghargai setiap pencapaian kecil, dan merasa bangga atas perkembangan dirinya. Kebiasaan ini menumbuhkan kesadaran bahwa kebahagiaan sejati tidak berasal dari mengikuti tren, melainkan dari melakukan hal-hal yang bermakna dan sesuai dengan minat pribadi.