Fimela.com, Jakarta Sahabat Fimela, siapa yang sedang berjuang menjaga pola makan tapi masih suka tergoda dengan aroma pizza hangat atau es krim rasa cokelat? Menjalani gaya hidup sehat memang tak selalu mudah. Ada kalanya tubuh dan pikiran kita butuh jeda dari rutinitas diet yang ketat dan di sinilah konsep cheat day dan cheat meal muncul sebagai penyelamat.
Namun, banyak yang masih bingung, sebenarnya apa perbedaan antara keduanya? Dan mana yang sebenarnya lebih baik untuk tubuh dan keberlanjutan diet kita?
Dilansir dari Healthline.com, cheat meal adalah satu waktu makan di mana kamu boleh menikmati makanan di luar menu diet, misalnya makan seporsi mie goreng favorit di akhir minggu. Sementara cheat day memberi kelonggaran seharian penuh untuk menikmati makanan apa pun tanpa batasan, dari pagi hingga malam.
Perbedaannya memang hanya di durasi, namun dampaknya dapat menjadi besar. Cheat meal bersifat terkontrol, sementara cheat day berpotensi membuatmu “terlalu bebas”. Jika tidak disertai kesadaran, cheat day bisa berubah menjadi pesta makan yang justru menggagalkan hasil diet berhari-hari.
Manfaat Positif Jika Cheat Day dan Cheat Meal Dilakukan dengan Benar
Mengurangi Stres Selama Diet
Diet ketat sering kali membuat seseorang merasa tertekan. Dengan adanya cheat meal, kamu bisa menikmati makanan favorit tanpa rasa bersalah, sehingga secara mental tetap sehat dan termotivasi.
Menjaga Keseimbangan Metabolisme
Saat tubuh terlalu lama berada dalam defisit kalori, metabolisme bisa melambat. Sedikit peningkatan kalori dari cheat meal bisa membantu menjaga metabolisme tetap aktif.
Meningkatkan Konsistensi dan Disiplin
Mengetahui bahwa kamu punya “waktu bebas” tertentu bisa membuatmu lebih mudah bertahan dalam pola makan sehat di hari-hari lainnya.
Namun, Sahabat Fimela, perlu diingat bahwa tidak semua bentuk “cheat” berdampak baik. Cheat day tanpa kontrol bisa membuat seseorang kelebihan kalori hingga ribuan kalori dalam sehari, apalagi jika diisi dengan makanan tinggi gula dan lemak.
Selain itu, terlalu sering melakukannya bisa membuat tubuh sulit menyesuaikan kembali dengan pola makan sehat. Tak jarang, perasaan bersalah setelah cheat day juga muncul, membuat kita justru kehilangan motivasi untuk melanjutkan diet.
Mengapa Tubuh Terkadang Membutuhkan “Cheat”?
Sedikit “melanggar aturan” justru bisa memberi efek positif, lho, Sahabat Fimela. Menurut ahli gizi, memberi tubuh jeda sesekali dari diet ketat bisa membantu menjaga keseimbangan hormon lapar dan kenyang, seperti leptin dan ghrelin.Selain itu, makan makanan favorit juga bisa meningkatkan produksi dopamin, hormon kebahagiaan yang bikin kita lebih semangat melanjutkan pola hidup sehat.
Psikolog makanan, Dr. Susan Albers, bahkan menyebutkan bahwa “membolehkan diri menikmati makanan tanpa rasa bersalah bisa mengurangi kemungkinan binge eating.” Artinya, dengan cheat meal yang terencana, kita bisa tetap menikmati hidup tanpa harus merasa gagal dalam diet.
Sahabat Fimela, apabila kamu adalah tipe orang yang mudah “terlena”, cheat meal dapat jadi pilihan yang lebih aman. Kamu tetap bisa menikmati makanan yang kamu suka tanpa kehilangan kendali.Namun, kalau kamu sudah cukup mengenali batasan diri dan bisa menahan porsi dengan baik, sesekali cheat day mungkin tak masalah, asalkan tidak berlebihan.
Kuncinya berada pada kesadaran dan perencanaan. Bukan soal kapan kamu boleh makan makanan favorit, tapi bagaimana kamu menikmatinya dengan penuh rasa syukur dan tanpa rasa bersalah.