Kenali 10 Tips Menjadi Orangtua yang Lebih Sabar di Situasi Sulit

Siti Nur ArishaDiterbitkan 13 Februari 2026, 12:30 WIB

Fimela.com, Jakarta Menjadi orangtua berarti menghadapi berbagai situasi yang sering berubah dalam hitungan detik. Ada hari penuh tawa, ada hari penuh drama, dan ada pula hari ketika emosi terasa mudah meledak hanya karena hal sepele. Di tengah kesibukan mengurus anak dan rumah, mempertahankan kesabaran bukanlah hal mudah. Wajar jika kadang Anda merasa kewalahan—karena pada akhirnya, orangtua juga manusia yang punya batas energi dan perasaan.

Kesabaran bukan tentang tidak pernah marah, tapi tentang bagaimana kita mengendalikan respon. Saat orangtua sedang lelah, stres, atau punya ekspektasi yang terlalu tinggi, situasi kecil bisa terlihat seperti masalah besar. Di momen seperti ini, reaksi spontan sering muncul tanpa sempat dipikirkan, yang kemudian membuat orangtua merasa bersalah. Padahal, kesabaran tidak muncul dari kondisi ideal lho—kesabaran berkembang dari proses memahami diri sendiri.

Dilansir dari Alli Worthington, kesabaran tumbuh saat orangtua mulai mengenali pemicu emosi, menurunkan ekspektasi yang tidak realistis, dan membangun strategi yang membuat diri lebih tenang. Artinya, menjadi lebih sabar bukan tentang mengubah anak, tetapi mengubah cara kita merespons situasi. Dan kabar baiknya: semua ini bisa dipelajari melalui langkah-langkah sederhana. Yuk simak penjelasan lengkapnya Sahabat Fimela!

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

1. Kenali Pemicu Emosi Anda

Sebelum bisa mengendalikan reaksi, orangtua perlu tahu apa yang memicu ketidaksabaran. Misalnya, merasa anak tidak mendengarkan, rumah berantakan, atau Anda sedang banyak pekerjaan. (foto/dok: freepik)

Sebelum bisa mengendalikan reaksi, orangtua perlu tahu apa yang memicu ketidaksabaran. Misalnya, merasa anak tidak mendengarkan, rumah berantakan, atau Anda sedang banyak pekerjaan. Beberapa orangtua juga sering mengambil perilaku anak secara personal—padahal tantrum dan kekecewaan adalah bagian dari perkembangan normal. Dengan memahami apa yang membuat Anda mudah tersulut, Anda bisa mengantisipasi dan mengatur ulang respon sebelum emosi naik.

2. Jadikan Self-Care sebagai Prioritas

Self-care bukan hanya tentang spa atau me time panjang. Sesederhana tidur cukup, minum air, bernafas dalam-dalam, atau menikmati lima menit tanpa gangguan sudah dapat menenangkan sistem saraf. Ketika tubuh dan pikiran lebih terisi, Anda memiliki kapasitas emosional yang lebih besar untuk menghadapi perilaku anak yang tidak terduga. Anak akan belajar bahwa menjaga diri itu penting karena melihat Anda mencontohkannya.

3. Atur Ulang Jadwal agar Beban Tidak Menumpuk

Banyak orangtua sebenarnya bukan kehilangan kesabaran pada anak, tetapi pada rasa kewalahan. Cobalah meninjau ulang rutinitas seperti apakah ada tugas yang bisa disederhanakan? Belanja online, berbagi tugas antar jemput, atau membuat jadwal harian yang lebih realistis dapat mengurangi tekanan. Ketika beban turun, energi emosional meningkat—dan kesabaran pun lebih mudah hadir.

4. Gunakan Jurnal untuk Mengenali Pola Emosi

Menulis membantu Anda melihat pola—kapan Anda paling mudah marah, situasi apa yang membuat stres, dan kebutuhan apa yang belum terpenuhi. Jurnal memudahkan Anda memproses emosi yang menumpuk agar tidak meledak dalam bentuk kemarahan. Banyak orangtua merasa lebih tenang hanya dengan mencatat pikiran mereka setiap hari, meski hanya beberapa menit.

5. Biasakan Berdoa atau Merenung Setiap Hari

Doa atau momen refleksi memberikan ruang untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk harian. Ini membantu menstabilkan pikiran, menyentuh sisi diri yang lebih tenang, dan memberi Anda sudut pandang baru. Bahkan doa singkat atau afirmasi sederhana dapat mengalihkan energi negatif dan mengembalikan fokus pada hal-hal penting.

3 dari 3 halaman

6. Siapkan Rencana Darurat untuk Momen Tidak Sabar

Saat emosi memuncak, orangtua perlu strategi cepat untuk mencegah ledakan. Mulailah dengan mengambil jeda: pastikan anak aman, lalu pergi ke ruangan lain untuk menarik napas. (foto/dok: freepik)

Saat emosi memuncak, orangtua perlu strategi cepat untuk mencegah ledakan. Mulailah dengan mengambil jeda: pastikan anak aman, lalu pergi ke ruangan lain untuk menarik napas. Alihkan pikiran dengan musik atau kalimat positif, lalu kendalikan kembali nada suara sebelum kembali menghadapi anak. Langkah kecil ini dapat menyelamatkan situasi dari pertengkaran kecil yang menjadi besar.

7. Cobalah Melihat dari Sudut Pandang Anak

Anak-anak belum punya kemampuan mengatur emosi, jadi hal kecil seperti kehilangan mainan favorit bisa terasa sangat besar bagi mereka. Dengan mencoba melihat dunia dari perspektif anak, Anda akan lebih mudah menunjukkan empati dan mengurangi reaksi keras. Terkadang anak hanya ingin dimengerti, bukan disalahkan.

8. Sesuaikan Gaya Parenting dengan Usia dan Perkembangan Anak

Anak tumbuh, dan pendekatan Anda pun harus ikut menyesuaikan. Apa yang berhasil untuk balita mungkin tidak cocok lagi untuk anak usia sekolah. Banyak konflik muncul karena orangtua berharap anak bertindak lebih dewasa daripada kemampuan mereka saat ini. Dengan mempelajari tahapan perkembangan, Anda bisa menetapkan ekspektasi yang lebih realistis dan merespons lebih tepat.

9. Luangkan Waktu One-on-One dengan Setiap Anak

Waktu berkualitas membantu memperkuat hubungan dan mengurangi perilaku menantang. Tidak perlu lama cukup berbincang 10 menit, membaca buku bersama, atau bermain sederhana sudah membuat anak merasa diperhatikan. Ketika anak merasa dekat dengan orangtuanya, mereka lebih kooperatif dan lebih mudah diarahkan.

10. Apresiasi Hal-Hal Kecil yang Anak Lakukan

Anak butuh melihat bahwa usaha mereka dihargai. Pujian singkat seperti, “Aku lihat kamu sabar menunggu,” atau “Terima kasih sudah membereskan mainan,” bisa meningkatkan rasa percaya diri dan mendorong perilaku positif. Apresiasi membuat anak merasa dicintai, dan hubungan pun menjadi lebih hangat.

Penulis: Siti Nur Arisha