Fimela.com, Jakarta - Bagi banyak orang tua, malam sering kali menjadi waktu paling melelahkan sejak kehadiran bayi di rumah. Baru saja terlelap, tangisan si kecil kembali memecah keheningan. Kondisi ini kerap membuat orang tua bertanya-tanya, mengapa bayi sering terbangun di tengah malam.
Tidak sedikit yang mengira kebiasaan ini semata karena lapar. Padahal, ada berbagai faktor lain yang memengaruhi pola tidur bayi, mulai dari kondisi fisik hingga kenyamanan lingkungan sekitarnya. Sayangnya, banyak penyebab tersebut tidak disadari oleh orang tua.
Memahami alasan di balik seringnya bayi bangun malam menjadi langkah awal agar orang tua bisa memberikan respon yang tepat. Dengan mengetahui penyebabnya, orang tua juga bisa membantu si kecil mendapatkan kualitas tidur yang lebih baik dan nyenyak setiap malam.
Pola Tidur dan Kebutuhan Dasar Bayi
Salah satu penyebab utama bayi sering bangun tengah malam adalah pola tidurnya yang memang belum matang. Bayi memiliki siklus tidur yang lebih singkat dibandingkan orang dewasa, sehingga mereka lebih sering masuk ke fase tidur ringan. Pada fase ini, bayi mudah terbangun oleh suara kecil, perubahan cahaya, atau rasa tidak nyaman pada tubuhnya. Selain itu, bayi juga lebih cepat merasa lapar karena kapasitas lambungnya masih kecil, sehingga kebutuhan menyusu di malam hari menjadi hal yang wajar terjadi.
Selain rasa lapar, popok yang basah, perut kembung, atau rasa tidak nyaman pada pakaian juga dapat membuat bayi terbangun dari tidurnya. Kondisi fisik yang belum stabil membuat bayi belum mampu bertahan tidur lama tanpa gangguan. Inilah sebabnya, bayi membutuhkan respons orang tua untuk merasa aman dan kembali tenang saat terbangun di malam hari.
Faktor Lingkungan dan Stimulasi Berlebih
Lingkungan tidur yang kurang kondusif juga sering menjadi penyebab bayi susah tidur nyenyak dan mudah terbangun. Cahaya yang terlalu terang, suara televisi, atau aktivitas orang di sekitar bayi dapat mengganggu kenyamanan tidurnya. Selain itu, suhu ruangan yang terlalu panas atau terlalu dingin membuat bayi merasa tidak nyaman sehingga lebih mudah terbangun dan rewel.
Stimulasi yang berlebihan sebelum tidur, seperti mengajak bayi bermain terlalu aktif, paparan gadget, atau suara yang terlalu ramai, juga dapat membuat sistem saraf bayi sulit untuk rileks. Akibatnya, bayi menjadi lebih sulit memasuki fase tidur nyenyak dan lebih sering terbangun di tengah malam. Rutinitas tidur yang tidak teratur juga berperan besar dalam masalah ini karena bayi sulit mengenali waktu istirahatnya.
Pertumbuhan, Perkembangan, dan Kondisi Emosional Bayi
Bayi yang sedang mengalami lonjakan pertumbuhan atau perkembangan sering kali mengalami perubahan pola tidur. Saat bayi mulai belajar berguling, merangkak, atau tumbuh gigi, tubuhnya mengalami banyak penyesuaian yang bisa menimbulkan rasa tidak nyaman. Proses tumbuh gigi, misalnya, dapat menyebabkan gusi terasa nyeri sehingga bayi menjadi lebih rewel di malam hari dan lebih sering terbangun.
Selain faktor fisik, kondisi emosional bayi juga berpengaruh besar terhadap tidurnya. Bayi sangat peka terhadap perubahan suasana di sekitarnya, termasuk perubahan pengasuh, perjalanan jauh, atau suasana rumah yang tidak stabil. Rasa cemas, kaget, atau tidak aman dapat membuat bayi lebih sering terbangun dan membutuhkan kehadiran orang tua sebagai sumber ketenangan.
Dengan memahami berbagai penyebab bayi sering bangun tengah malam, orang tua bisa lebih sabar, tenang, dan tepat dalam memberikan respon, sehingga kualitas tidur bayi pun perlahan dapat menjadi lebih baik.