Bukan Hanya Bilang ‘Tenang, ya’: 8 Cara Ilmiah Menenangkan Anak yang Cemas

Annisa Kharisma DewiDiterbitkan 09 Maret 2026, 09:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, setiap anak tentu pernah merasa cemas atau gelisah. Ada yang menunjukkan rasa takutnya dengan menangis, bersembunyi, atau memeluk orang tuanya erat-erat. Ada pula yang justru diam, tertekan, atau bertingkah “aneh” seperti berlari, marah, atau bercanda berlebihan. Namun sebelum kita mencoba menenangkan mereka dengan kata-kata, penting untuk memahami satu hal, ketika anak sedang cemas, tubuh mereka sebenarnya sedang berada dalam mode fight, flight, atau freeze.

Dilansir dari psychologytoday.com, pada kondisi ini, sistem saraf simpatis aktif, melepaskan adrenalin dan noradrenalin yang membuat detak jantung meningkat, napas menjadi cepat, dan tubuh terasa seperti “siap melawan bahaya”, bahkan ketika ancamannya sebenarnya tidak nyata. Butuh waktu 20–60 menit bagi tubuh anak untuk kembali normal. Karena itu, menenangkan mereka tidak cukup dengan mengatakan, “Tenang ya,” atau “Kamu jangan takut.”

Sahabat Fimela, berikut 8 tips membuat hati anak tenang saat sedang cemas dan gelisah, berdasarkan riset dan pendekatan yang lembut untuk perkembangan emosional mereka.

1. Stimulasi Vagus Nerve

Vagus nerve terletak di kedua sisi pita suara dan berfungsi menghentikan reaksi panik ketika dirangsang. Dengan menstimulasi saraf ini, anak mendapatkan sinyal bahwa mereka tidak dalam bahaya. Cara sederhana yang bisa kamu lakukan adalah dengan mengunyah permen karet, bernyanyi atau bersenandung, mengatur napas perlahan, ataupun berkumur dengan air. 

 

 

2 dari 3 halaman

2. Bantu Anak Mengatur Napas

Saat merasa camas, pernapasan anak menjadi dangkal dan cepat untuk itu sebagai orangtua kita haru mengajarkan mereka untuk mengembalikan rasa tenang. [Dok/freepik.com]

Saat cemas, anak bernapas dangkal dan cepat. Mengajarkan mereka bernapas dari diafragma dapat mengembalikan rasa tenang. Cobalah ajak anak untuk meniup gelembung sabun, meniup baling-baling kertas, “meniup lilin” dari jari tangan, lomba bersiul, ataupun menarik napas 3 detik - tahan 3 detik - hembuskan 3 detik. 

3. Beri Aktivitas Heavy Work

Aktivitas yang melibatkan dorong–tarik dapat membantu menstabilkan emosi anak karena memberi input ke otot dan sendi. Contohnya adalah dengan push-up dinding, membawa tas ransel, menarik kereta mainan, membersihkan meja, dan memanjat playground. 

4. Alihkan dengan “Narrow Focus”

Mengajak anak untuk fokus pada satu hal dapat menenangkan sistem saraf mereka. Kamu dapat mengajak mereka untuk membayangkan “happy place” dengan menggunakan visualisasi seperti warna, bau, suara, atau cahaya favorit. Selain itu bisa juga dengan mewarnai ataupun bermain glitter jar. 

5. Buat Rencana (MAP: My Anxiety Plan)

Memberi anak rencana tindakan membuat mereka lebih siap menghadapi situasi yang memicu kecemasan. Contohnya adalah saat anak merasa di sekolah, anak akan ke toilet untuk menenangkan diri atau saat gugup bertemu dengan orang baru, anak dapat menguyah permen karet dan menarik napas 3 kali.

 

 

3 dari 3 halaman

6. Gunakan Humor

Dengan mengajak anak menonton ataupun membaca hal yang lucu dapat menenangkan rasa cemasnya. [Dok/freepik.com/jcomp]

Humor adalah penyembuh alami. Tawa dapat merilis endorfin yang membantu menurunkan stres. Dengan mencoba anak untuk menonton tontonan yang lucu, permainan konyol, membaca buku komedi, ataupun tebak-tebakan sederhana untuk menenangkan rasa cemasnya, karena humor membuat anak merasa aman dan rileks. 

7. Gunakan Ritual Sebelum/Saat Terjadi/Setelah Momen Cemas

Ritual memberi rasa konsistensi dan kontrol bagi anak. Contohnya membaca komik favorit saat menunggu di dokter, memilih lagu untuk diputar saat imunisasi, mendapatkan minuman kesukaan setelah menghadapi tugas sulit. Dengan ritual kecil dapat menjadi jangkar emosional bagi mereka. 

8. Ajak Anak Refleksi Setelah Mereka Berhasil Melewati Momen Cemas

Hal ini membantu membangun ketahanan emosional jangka panjang. Tanyakan pertanyaan reflektif seperti  “Dari 1 sampai 10, seberapa sulit tadi?” atau “Apa yang membantumu saat melewati ini?” 

Kecemasan pada anak bukan tanda kelemahan, dan bukan sesuatu yang harus “diperbaiki.” Yang mereka butuhkan adalah pendampingan, ritme yang menenangkan, dan seseorang yang memahami bahwa sebelum mereka bisa mendengar nasihat, tubuh mereka harus merasa aman terlebih dahulu.