Kenapa Balita Perlu Diajak Banyak Ngobrol? Peran Curiosity Talk dalam Perkembangan Anak

Nazwa Putri KurniawanDiterbitkan 16 Maret 2026, 09:30 WIB

Fimela.com, Jakarta - Masih banyak orangtua yang menganggap berbincang dengan balita sebagai hal remeh dan tidak perlu mendapat perhatian khusus. Padahal, setiap pertanyaan polos, komentar spontan, hingga respons lucu yang mereka lontarkan merupakan bagian dari proses penting dalam perkembangan otak dan emosinya. Balita berada dalam masa emas pertumbuhan rasa ingin tahu, sehingga respons orang dewasa terhadap percakapan mereka akan memengaruhi cara anak memahami lingkungan sekitarnya. Mengajak balita berbicara bukan sekadar menemani waktu luang, melainkan langkah awal untuk menumbuhkan kemampuan berpikir, berbahasa, dan bersosialisasi sejak dini.

Berdasarkan berbagai sumber, di tahap usia balita, proses belajar tidak hanya terjadi melalui pengamatan visual, tetapi juga lewat percakapan yang mereka dengar dan lakukan. Di sinilah konsep curiosity talk berperan sebagai pola komunikasi yang mendorong anak untuk bertanya, menyampaikan ide, serta mengeksplorasi berbagai hal melalui dialog dua arah. Ketika orangtua atau pengasuh memberi kesempatan bagi balita untuk berbicara dan menanggapi rasa ingin tahunya dengan penuh kesabaran, anak akan merasa pendapatnya bernilai. Secara bertahap, hal ini membantu membangun kepercayaan diri, memperkaya perbendaharaan kata, dan mengasah kemampuan berpikir kritis tanpa paksaan.

Tak hanya berpengaruh pada aspek kognitif, kebiasaan mengajak balita banyak berbincang juga memperkuat hubungan emosional antara anak dan orangtua. Percakapan yang penuh perhatian dan responsif membuat balita merasa aman, dihargai, dan dipahami. Dari interaksi inilah anak mulai belajar mengenali emosi, mengelola perasaan, serta mengembangkan empati sejak dini. Menerapkan curiosity talk dalam rutinitas sehari-hari, orangtua tidak hanya mendukung tumbuh kembang balita secara menyeluruh, tetapi juga membangun dasar komunikasi yang sehat untuk masa depan anak.

2 dari 3 halaman

1. Libatkan balita dalam percakapan selama aktivitas harian

Mengajak balita berbincang saat menjalani aktivitas harian membantu mereka terbiasa berkomunikasi dan mengekspresikan rasa ingin tahu. (Foto: jcomp/Freepik)

Manfaatkan momen sederhana seperti saat makan, mandi, berjalan-jalan, atau merapikan mainan untuk mengajak balita berbincang. Ceritakan apa yang sedang dilakukan, sebutkan nama benda di sekitar, dan jelaskan kejadian yang mereka lihat. Kebiasaan ini membantu balita mengenali kata-kata baru sekaligus melatih kemampuan mendengar dan merespons percakapan secara aktif.

2. Respon pertanyaan balita dengan sikap positif dan penuh kesabaran

Saat balita bertanya, usahakan untuk menjawab dengan nada hangat dan ekspresi antusias. Sikap ini menunjukkan bahwa rasa ingin tahu mereka dihargai. Meski pertanyaan yang sama diulang berkali-kali, respons yang sabar akan membuat balita merasa aman untuk terus mengeksplorasi dan tidak takut mengungkapkan rasa penasarannya.

3. Biasakan menggunakan pertanyaan terbuka dalam percakapan

Pertanyaan yang tidak hanya membutuhkan jawaban “ya” atau “tidak” mendorong balita untuk berpikir dan berpendapat. Pertanyaan sederhana seperti “Menurut kamu kenapa hujannya turun?” atau “Kalau mainannya rusak, apa yang bisa kita lakukan?” membantu balita belajar menghubungkan ide dan menyampaikan pemikiran dengan kata-kata sendiri.

4. Berikan ruang dan waktu bagi balita untuk menjawab

Balita membutuhkan waktu untuk memproses informasi dan merangkai kata. Hindari menyela atau langsung melengkapi kalimatnya. Dengan memberi kesempatan untuk menyelesaikan jawabannya, balita belajar percaya pada kemampuannya sendiri dalam berbicara dan mengekspresikan pikiran.

3 dari 3 halaman

5. Kembangkan dan perluas jawaban yang disampaikan balita

Mengembangkan jawaban balita dengan penjelasan tambahan membantu memperkaya kosakata dan pemahamannya. (Foto: jcomp/Freepik)

Saat balita menjawab, orangtua dapat menambahkan penjelasan sederhana untuk memperkaya makna percakapan. Misalnya, jika balita mengatakan “mobil cepat,” orangtua bisa menambahkan “Iya, mobil itu melaju cepat karena mesinnya kuat.” Cara ini membantu memperluas kosakata sekaligus memperdalam pemahaman balita.

6. Manfaatkan buku cerita sebagai sarana membangun dialog

Membaca buku bersama tidak hanya tentang membacakan teks, tetapi juga mengajak balita berdiskusi. Tanyakan tentang gambar, karakter, atau kejadian dalam cerita. Pendekatan ini membuat balita aktif berpikir, berimajinasi, dan berani menyampaikan pendapatnya sendiri.

7. Hargai setiap respons dan usaha balita dalam berbicara

Fokuslah pada pesan yang ingin disampaikan balita, bukan pada kesalahan pengucapan atau struktur kalimat. Hindari koreksi yang keras karena dapat menurunkan kepercayaan diri. Dengan merasa dihargai, balita akan lebih nyaman berbicara dan terdorong untuk terus bertanya serta bereksplorasi.

Melalui kebiasaan-kebiasaan sederhana ini, curiosity talk dapat tumbuh secara alami dan berkelanjutan, membantu balita mengembangkan rasa ingin tahu, kemampuan berbahasa, serta keterampilan berpikir sejak usia dini.