Fimela.com, Jakarta - Menjadi ibu bekerja sering kali dihadapkan pada dilema emosional: di satu sisi ingin memberikan yang terbaik bagi buah hati, di sisi lain harus menjalankan tanggung jawab profesional. Salah satu kekhawatiran terbesar adalah bagaimana mempertahankan ASI eksklusif di tengah jadwal kerja yang padat. Padahal, ASI merupakan fondasi penting bagi tumbuh kembang anak, terutama dalam 1000 hari pertama kehidupan yang sangat krusial.
Mengutip buku "Mommyclopedia: Tanya Jawab tentang Nutrisi di 1000 Hari Kehidupan Anak", terdapat beberapa langkah konkret yang dapat dilakukan ibu bekerja agar tetap berhasil memberikan ASI eksklusif. Strategi ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga menyentuh aspek emosional, dukungan keluarga, serta manajemen energi ibu.
Pentingnya ASI Eksklusif bagi Anak dan Ibu
ASI eksklusif selama enam bulan pertama memberikan manfaat luar biasa bagi bayi. Kandungan antibodi alami dalam ASI membantu meningkatkan daya tahan tubuh, mendukung perkembangan otak, serta menurunkan risiko infeksi dan penyakit kronis di kemudian hari.
Bagi ibu, menyusui juga membantu pemulihan pascamelahirkan, menurunkan risiko kanker payudara dan ovarium, serta memperkuat ikatan emosional dengan bayi.
1. Memerah dan Menyimpan ASI sebagai Solusi Utama
Salah satu langkah paling efektif bagi ibu bekerja adalah memerah dan menyimpan ASI. ASI perah memungkinkan bayi tetap mendapatkan nutrisi terbaik meskipun ibu tidak berada di rumah.
Ibu dapat mulai membangun stok ASI sejak masa cuti melahirkan dengan memerah ASI secara bertahap. ASI yang disimpan dengan cara dan suhu yang tepat dapat bertahan cukup lama, baik di lemari pendingin maupun freezer. Dengan perencanaan yang baik, ibu tidak perlu merasa cemas kehabisan ASI saat kembali bekerja.
Selain itu, memberikan ASI perah juga membantu bayi tetap terbiasa dengan rasa ASI, sehingga transisi antara menyusu langsung dan ASI perah tidak menjadi masalah besar.
2. Memerah ASI Secara Rutin di Tempat Kerja
Menjaga produksi ASI sangat bergantung pada prinsip supply and demand. Semakin sering payudara dikosongkan, semakin optimal produksi ASI. Karena itu, memerah ASI saat bekerja secara rutin dan berkala menjadi kunci penting.
Idealnya, ibu memerah ASI setiap 3–4 jam sekali selama jam kerja. Rutinitas ini membantu tubuh “mengerti” bahwa ASI tetap dibutuhkan. Meski terasa melelahkan di awal, banyak ibu bekerja yang mengakui bahwa setelah beberapa minggu, tubuh dan pikiran mulai beradaptasi.
Lingkungan kerja yang mendukung, seperti adanya ruang laktasi dan kebijakan perusahaan yang ramah ibu menyusui, juga berperan besar. Jika fasilitas belum ideal, komunikasi terbuka dengan atasan sering kali menjadi langkah awal yang efektif.
3. Meningkatkan Frekuensi Menyusui di Malam Hari dan Akhir Pekan
Bagi ibu bekerja, waktu bersama bayi di malam hari dan akhir pekan menjadi momen berharga yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan frekuensi menyusui langsung. Menyusui di malam hari tidak hanya membantu menjaga produksi ASI, tetapi juga mempererat bonding antara ibu dan bayi setelah seharian terpisah.
Hormon prolaktin yang berperan dalam produksi ASI justru lebih tinggi di malam hari. Karena itu, meskipun tubuh terasa lelah, menyusui malam hari memiliki manfaat ganda: mempertahankan produksi ASI sekaligus memberi rasa aman dan nyaman bagi bayi.
Akhir pekan pun bisa menjadi waktu “recharge” menyusui, di mana ibu lebih sering menyusui langsung tanpa harus terburu-buru oleh jadwal kerja.
4. Dukungan Keluarga: Faktor yang Sering Terlupakan
Keberhasilan ASI eksklusif pada ibu bekerja tidak bisa dilepaskan dari dukungan keluarga. Dalam buku rujukan tersebut ditekankan pentingnya meminta bantuan tambahan dari pasangan, orang tua, atau anggota keluarga lain untuk mengurangi beban pekerjaan rumah tangga.
Ketika ibu tidak kelelahan oleh tugas domestik, energi fisik dan emosional dapat lebih difokuskan pada proses menyusui. Dukungan sederhana seperti membantu menyiapkan makanan, mencuci peralatan ASI, atau menemani bayi saat ibu beristirahat, memiliki dampak besar terhadap keberlangsungan ASI eksklusif.
Lebih dari itu, dukungan emosional, berupa pengertian, empati, dan apresiasi, membantu ibu merasa tidak sendirian dalam perjuangannya.
Mengelola Rasa Bersalah dan Tekanan Sosial
Tidak sedikit ibu bekerja yang dihantui rasa bersalah karena merasa “kurang” hadir bagi anak. Padahal, menjadi ibu bekerja bukanlah kegagalan dalam peran keibuan. Yang terpenting adalah kualitas perhatian dan upaya terbaik yang diberikan sesuai dengan kondisi masing-masing.
ASI eksklusif bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang konsistensi dan niat. Ada hari-hari di mana produksi ASI menurun atau jadwal memerah terasa kacau, dan itu wajar. Mengizinkan diri untuk beristirahat dan meminta bantuan justru merupakan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri dan anak.
Peran Lingkungan dan Kebijakan yang Mendukung
Selain keluarga, lingkungan kerja dan kebijakan publik juga berpengaruh besar. Perusahaan yang menyediakan cuti melahirkan memadai, ruang laktasi, serta fleksibilitas waktu terbukti membantu ibu mempertahankan ASI eksklusif lebih lama.
Di sisi lain, edukasi masyarakat tentang pentingnya ASI dan empati terhadap ibu bekerja perlu terus ditingkatkan agar tekanan sosial dapat berkurang.
Mempertahankan ASI eksklusif sebagai ibu bekerja memang membutuhkan strategi, komitmen, dan dukungan. Seperti yang dijelaskan dalam Mommyclopedia, langkah-langkah seperti memerah dan menyimpan ASI, menjaga rutinitas memerah di tempat kerja, meningkatkan frekuensi menyusui di rumah, serta meminta dukungan keluarga adalah fondasi penting yang realistis dan dapat diterapkan.
Setiap ibu memiliki perjalanan yang unik. Selama keputusan diambil dengan penuh kesadaran, cinta, dan upaya terbaik, maka apa pun bentuk perjuangannya tetap layak dihargai. Ibu bekerja bisa, dan berhak, sukses memberikan ASI eksklusif sambil tetap bertumbuh dalam peran profesional dan personalnya.