Fakta Unik: Bolehkah Ibu Menyusui Diet? Panduan Aman Turunkan Berat Badan Pasca Melahirkan

Nabila MecadinisaDiterbitkan 14 Januari 2026, 15:17 WIB

ringkasan

  • Ibu menyusui diperbolehkan diet untuk menurunkan berat badan pasca melahirkan, asalkan dilakukan secara aman dan tidak ketat, dengan fokus pada pemulihan tubuh dan produksi ASI optimal.
  • Waktu terbaik untuk memulai diet adalah setelah bayi berusia minimal dua bulan atau suplai ASI sudah stabil, dengan target penurunan berat badan bertahap 0,5–1 kg per minggu dan asupan kalori tidak kurang dari 1.500-1.800 per
  • Diet yang aman melibatkan pola makan bergizi seimbang, hidrasi cukup, olahraga teratur, istirahat memadai, manajemen stres, dan rutin menyusui, sambil membatasi alkohol, kafein, serta makanan olahan.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, banyak ibu yang ingin kembali mendapatkan berat badan ideal setelah melahirkan. Pertanyaan umum yang sering muncul adalah, bolehkah ibu menyusui diet untuk menurunkan berat badan tanpa mengganggu produksi ASI? Kabar baiknya, ibu menyusui diperbolehkan untuk melakukan diet, namun dengan catatan penting yang harus diperhatikan agar tetap aman bagi ibu dan bayi.

Diet yang ketat, seperti memangkas waktu makan atau menghilangkan kelompok makanan tertentu secara drastis, sangat tidak dianjurkan selama periode menyusui. Hal ini karena tubuh ibu membutuhkan energi dan nutrisi ekstra untuk pemulihan pasca melahirkan serta untuk memastikan produksi Air Susu Ibu (ASI) yang optimal dan berkualitas.

Oleh karena itu, penting bagi Sahabat Fimela untuk memahami panduan diet yang tepat dan aman. Dengan perencanaan yang baik, ibu menyusui bisa menurunkan berat badan secara bertahap tanpa mengorbankan kesehatan diri sendiri maupun nutrisi penting bagi buah hati tercinta.

What's On Fimela
2 dari 6 halaman

Kapan Waktu Ideal Ibu Menyusui Memulai Diet?

Memulai program diet setelah melahirkan memerlukan pertimbangan waktu yang matang, Sahabat Fimela. Sebagian besar dokter menyarankan agar ibu menunda diet hingga tubuh benar-benar pulih sepenuhnya dari proses persalinan. Ini adalah langkah krusial untuk memastikan kesehatan ibu dan kelancaran produksi ASI.

Waktu ideal yang sering disarankan adalah menunggu setidaknya enam minggu setelah persalinan sebelum mencoba menurunkan berat badan. Khusus bagi ibu menyusui, para ahli lebih menganjurkan untuk menunda diet hingga bayi berusia minimal dua bulan. Pada masa ini, suplai ASI umumnya sudah optimal dan stabil.

Memulai diet terlalu cepat setelah melahirkan dapat membawa risiko yang tidak diinginkan. Hal ini bisa menunda proses pemulihan tubuh ibu, menyebabkan kelelahan ekstrem, dan pada akhirnya dapat memengaruhi kualitas serta kuantitas produksi ASI. Prioritaskan pemulihan dan stabilitas ASI sebelum fokus pada penurunan berat badan.

3 dari 6 halaman

Berapa Kebutuhan Kalori Ibu Menyusui Saat Diet?

Menyusui adalah momen istimewa antara ibu dan bayi, tetapi tidak bisa dimungkiri bahwa proses ini sering kali disertai tantangan, terutama pada masa awal. Puting terasa nyeri, perih, bahkan sampai lecet dan berdarah menjadi keluhan yang cukup umum dialami busui, baik yang menyusui langsung maupun yang rutin memompa ASI. Apa Itu Silver Nipple Cups? (foto/dok:freepik/shurkin_son)

Saat menyusui, tubuh Sahabat Fimela bekerja ekstra keras untuk memproduksi ASI yang kaya nutrisi bagi bayi. Oleh karena itu, kebutuhan kalori ibu menyusui akan lebih tinggi dibandingkan wanita yang tidak menyusui. Penyesuaian asupan kalori adalah kunci dalam program diet yang aman.

Secara rata-rata, ibu menyusui membutuhkan tambahan sekitar 400-500 kalori per hari di atas kebutuhan kalori normal mereka. Ini berarti total asupan kalori harian sebaiknya tidak kurang dari 1.500-1.800 kalori, bahkan beberapa sumber menyarankan antara 2.000-2.500 kalori per hari.

Kebutuhan kalori ini bisa bervariasi tergantung pada tingkat aktivitas fisik ibu. Misalnya, ibu dengan aktivitas ringan mungkin memerlukan 1.800-2.000 kalori, sedangkan yang aktif bisa mencapai 2.200-2.400 kalori per hari. Penurunan asupan kalori secara drastis dan tiba-tiba dapat berdampak negatif pada produksi ASI, jadi hindari diet ekstrem.

4 dari 6 halaman

Target Penurunan Berat Badan Aman untuk Ibu Menyusui

Penurunan berat badan yang aman dan sehat bagi ibu menyusui adalah yang dilakukan secara bertahap dan konsisten, Sahabat Fimela. Jangan terburu-buru untuk mencapai target berat badan sebelum melahirkan, karena proses ini membutuhkan waktu dan kesabaran. Tubuh ibu perlu beradaptasi dan memastikan ASI tetap lancar.

Ibu menyusui disarankan untuk menargetkan penurunan berat badan sekitar 0,5–1 kg per minggu. Penurunan yang lebih cepat dari 0,5 kg per minggu setelah enam minggu pertama mungkin menjadi indikasi bahwa asupan kalori perlu ditingkatkan. Batas maksimal penurunan berat badan yang dianjurkan adalah 2 kg per bulan agar suplai ASI tetap terjaga dengan baik.

Menariknya, proses menyusui itu sendiri merupakan pembakar kalori alami yang efektif. Menyusui dapat membantu membakar sekitar 300-500 kalori setiap hari, sehingga secara tidak langsung berkontribusi pada penurunan berat badan pasca melahirkan. Ini adalah bonus alami yang didapatkan ibu menyusui dalam perjalanan menuju berat badan idealnya.

5 dari 6 halaman

Panduan Diet Aman dan Sehat bagi Ibu Menyusui

Untuk Sahabat Fimela yang ingin melakukan diet saat menyusui, ada beberapa panduan penting yang harus diikuti agar prosesnya aman dan tidak mengganggu kualitas ASI. Fokus utama adalah pada pola makan sehat, hidrasi, aktivitas fisik, dan manajemen stres. Dengan kombinasi ini, penurunan berat badan dapat tercapai secara optimal.

1. Pola Makan Sehat dan Bergizi Seimbang

Kunci utama diet ibu menyusui adalah mengonsumsi makanan sehat dan bergizi seimbang dengan variasi yang cukup. Pastikan ada asupan protein tinggi sekitar 50-60 gram per hari dari sumber seperti daging sapi, ayam, ikan, telur, dan kacang-kacangan.

Pilihlah karbohidrat kompleks kaya serat seperti oatmeal, beras merah, roti gandum, dan kentang untuk energi yang tahan lama, serta batasi karbohidrat sederhana. Jangan lupa konsumsi 4-5 porsi buah dan sayuran setiap hari, terutama yang berdaun hijau dan kuning.

Sertakan lemak sehat dari alpukat, kacang-kacangan, biji-bijian, minyak zaitun, dan ikan berlemak seperti salmon, yang penting untuk perkembangan otak bayi. Penuhi juga kebutuhan kalsium dari produk susu dan zat besi dari daging merah atau bayam untuk mencegah anemia.

2. Cukupi Kebutuhan Cairan

Hidrasi yang cukup sangat vital bagi ibu menyusui. Pastikan Sahabat Fimela minum air putih setidaknya 8-10 gelas per hari, atau lebih jika merasa haus. Asupan cairan yang memadai tidak hanya mendukung produksi ASI, tetapi juga dapat mempercepat metabolisme dan membantu menghindari "lapar palsu".

3. Olahraga Teratur

Mulailah aktivitas olahraga secara rutin dan bertahap, beberapa minggu setelah melahirkan dan suplai ASI sudah optimal. Contoh olahraga aman meliputi jalan kaki santai, berenang, yoga, pilates, atau latihan beban ringan. Olahraga tidak hanya membantu penurunan berat badan, tetapi juga mengurangi stres dan meningkatkan kualitas tidur.

4. Cukup Tidur dan Kelola Stres

Istirahat yang cukup adalah komponen penting dalam diet yang sehat. Pastikan Sahabat Fimela memiliki waktu tidur yang memadai. Selain itu, kelola stres dengan baik, karena stres dapat memengaruhi kesehatan secara keseluruhan dan menghambat proses penurunan berat badan.

5. Rutin Menyusui

Menyusui secara teratur dan tanpa batasan adalah cara paling alami dan efektif untuk membantu membakar kalori. Semakin sering bayi menyusu, produksi ASI akan semakin lancar, dan kalori yang dibakar tubuh ibu juga akan lebih banyak, sehingga mendukung penurunan berat badan.

6 dari 6 halaman

Makanan dan Minuman yang Perlu Dihindari atau Dibatasi Ibu Menyusui

Meskipun diet saat menyusui diperbolehkan, ada beberapa jenis makanan dan minuman yang sebaiknya dihindari atau dibatasi, Sahabat Fimela. Hal ini penting untuk menjaga kualitas ASI dan mencegah potensi masalah kesehatan pada bayi. Perhatikan daftar berikut agar diet tetap aman dan efektif.

  • Alkohol: Konsumsi alkohol dapat masuk ke dalam ASI dan berisiko mengganggu perkembangan kognitif, pola tidur bayi, serta mengurangi produksi ASI.
  • Kafein: Batasi asupan kafein tidak lebih dari 300 miligram per hari (sekitar 2-3 cangkir kopi) untuk mencegah bayi menjadi gelisah atau sulit tidur.
  • Ikan dengan Merkuri Tinggi: Hindari ikan laut seperti tuna mata besar, makarel raja, todak, marlin, dan tilefish, karena merkuri dapat merusak sistem saraf dan fungsi otak bayi.
  • Makanan Olahan: Makanan olahan umumnya tinggi kalori, lemak jenuh, gula tambahan, serta rendah serat, vitamin, dan mineral yang kurang bermanfaat bagi ibu menyusui.
  • Makanan Pedas: Konsumsi makanan pedas berlebihan dapat memengaruhi rasa ASI dan berpotensi memicu gangguan pencernaan pada bayi seperti perut kembung atau diare.
  • Minuman Manis: Minuman tinggi gula dan pengawet tidak memiliki nutrisi yang cukup dan hanya akan menambah kalori tanpa manfaat gizi yang berarti.
  • Suplemen Herbal: Selalu konsultasikan dengan dokter sebelum mengonsumsi suplemen herbal apa pun saat menyusui.
  • Makanan Mentah: Hindari makanan mentah karena risiko kontaminasi bakteri yang berbahaya.
  • Peppermint, Peterseli, dan Sage: Beberapa sumber menyarankan pembatasan konsumsi herbal ini karena berpotensi mengurangi suplai ASI.
  • Makanan Penghasil Gas: Meskipun beberapa orang percaya brokoli, kubis, dan kol dapat menyebabkan perut bayi kembung, belum ada bukti kuat yang mendukung klaim ini, dan sayuran ini justru kaya nutrisi.

Penting untuk diingat bahwa setiap ibu dan bayi memiliki respons yang berbeda terhadap makanan tertentu. Selalu konsultasikan dengan dokter atau ahli gizi sebelum memulai program diet apa pun saat menyusui, terutama jika Sahabat Fimela memiliki kondisi medis tertentu. Pendekatan yang bijak dan terinformasi akan memastikan kesehatan optimal bagi ibu dan buah hati.