7 Ciri Keluarga Performatif seperti yang Dialami Brooklyn Beckham

Anisha Saktian PutriDiterbitkan 21 Januari 2026, 08:42 WIB

ringkasan

  • Keluarga performatif adalah dinamika di mana tindakan anggota keluarga didorong oleh keinginan menampilkan citra ideal kepada audiens eksternal
  • Ciri utamanya meliputi fokus pada persepsi eksternal, penyajian citra ideal, pencarian validasi, dan kadang memperlakukan anak sebagai properti atau aksesori.
  • Fenomena ini dapat menyebabkan kurangnya keaslian, gangguan dari realitas, kecemasan evaluasi sosial, dan hubungan berbasis kinerja yang merugikan perkembangan anak.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, istilah keluarga performatif mungkin masih terdengar asing di telinga sebagian orang. Namun, fenomena ini semakin relevan di era media sosial saat ini, di mana setiap momen dapat dibagikan kepada publik. Keluarga performatif merujuk pada dinamika keluarga yang tindakannya didorong oleh keinginan untuk menampilkan citra ideal kepada audiens eksternal, bukan keaslian hubungan internal.

Perilaku ini sering disebut sebagai performative parenting atau performative caregiving, di mana peran sebagai orang tua diperlakukan sebagai sebuah pertunjukan publik. Hal ini tidak hanya terjadi di media sosial, tetapi juga bisa di lingkungan sehari-hari seperti sekolah atau toko. Baru-baru ini, Brooklyn Beckham, putra dari pasangan David dan Victoria Beckham, secara terbuka menuding keluarganya sebagai performatif dan mengontrol. Ia merasa orang tuanya lebih mementingkan citra merek 'Beckham' daripada hubungannya dengan sang istri.

Brooklyn bahkan menyatakan tidak ingin berdamai dengan keluarganya, menuduh mereka menyebarkan informasi tidak benar demi menjaga citra publik. Pernyataan ini menyoroti bagaimana dinamika keluarga yang berfokus pada penampilan eksternal dapat menimbulkan konflik. Ini menjadi contoh nyata bagaimana tekanan untuk tampil sempurna bisa mengikis keaslian hubungan.

What's On Fimela
2 dari 4 halaman

Fokus pada Persepsi Eksternal dan Citra Ideal

Keluarga performatif memilih tindakan berdasarkan bagaimana hal tersebut akan dipersepsikan oleh audiens di luar, bukan berdasarkan apa yang terbaik untuk anggota keluarga. Ini berarti peran sebagai orang tua seringkali dianggap sebagai sebuah pertunjukan publik. Fenomena ini tidak hanya terbatas pada media sosial dan budaya 'sharenting' di Instagram, tetapi juga dapat terjadi di berbagai lingkungan sosial lainnya.

Orang tua dalam keluarga seperti ini cenderung menyajikan citra yang sempurna atau terkurasi, terutama di platform media sosial. Citra ini seringkali tidak mencerminkan realitas kehidupan sehari-hari yang penuh dengan tantangan dan keindahan yang berantakan. Mereka merasa perlu menunjukkan bahwa mereka 'memiliki segalanya' atau 'melakukan segalanya dengan benar'.

Psikologi menunjukkan bahwa perilaku seseorang dapat berubah ketika merasa terus-menerus diamati. Hal ini disebut kecemasan evaluasi sosial, di mana peran sebagai ibu, khususnya, telah menjadi pertunjukan publik yang tak terhindarkan karena internet.

3 dari 4 halaman

Anak sebagai Properti dan Pencarian Validasi

Dalam kasus ekstrem, anak-anak dapat dipandang sebagai objek atau properti, di mana kehidupan mereka menjadi aksesori bagi narasi orang tua. Orang tua mungkin memamerkan anak-anak sebagai pusat hidup mereka, padahal sebenarnya anak-anak tersebut menjadi karakter pendukung dalam cerita yang lebih berpusat pada orang tua.

Orang tua yang performatif mungkin mencari penghargaan, identitas, atau validasi di luar peran mereka sebagai orang tua. Mereka bisa saja menggunakan anak-anak mereka untuk meningkatkan citra diri sendiri. Hubungan dalam keluarga semacam ini seringkali bersifat berbasis kinerja, di mana nilai seseorang diukur dari tindakan, pencapaian, dan prestasi mereka.

Anak-anak dalam lingkungan ini mungkin merasa bahwa nilai mereka didasarkan pada kinerja, dan cinta orang tua bersifat kondisional. Hal ini dapat menciptakan tekanan besar bagi anak untuk selalu tampil sempurna dan memenuhi ekspektasi.

4 dari 4 halaman

Dampak pada Keaslian dan Hubungan Internal

Meskipun di rumah, kamu bisa memiliki waktu berlibur yang menyenangkan dengan keluarga. (Foto: Unsplash.com/ Jonathan Borba)

Fokus yang berlebihan pada penampilan dapat mengalihkan perhatian dari momen-momen keluarga yang sakral dan otentik. Ini juga bisa mengganggu dari perjuangan internal yang sebenarnya. Akibatnya, orang tua bisa menjadi terganggu, tidak aman, dan cenderung mengendalikan dalam kehidupan sehari-hari mereka.

Sistem keluarga performatif memprioritaskan citra keluarga di atas keaslian hubungan. Kesalahan seringkali tidak ditoleransi, dan anggota keluarga terus-menerus berusaha memenuhi harapan yang tidak realistis. Ini dapat menyebabkan rasa malu dan keyakinan bahwa segala sesuatu yang kurang dari sempurna tidak dapat diterima.

Ketika anak tumbuh dalam rumah di mana segala sesuatu adalah pertunjukan untuk audiens, mereka belajar untuk berargumen seperti bagian komentar di YouTube. Mereka berhenti mencari koneksi dan mulai mencari kemenangan. Mereka belajar bahwa tujuan percakapan bukanlah untuk memahami orang lain, tetapi untuk menunjukkan kebenaran kepada pengamat imajiner.