Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, fenomena "keluarga performatif" kini semakin menjadi sorotan, terutama setelah pengakuan mengejutkan dari figur publik. Baru-baru ini, Brooklyn Beckham secara terbuka menuding keluarganya, David dan Victoria Beckham, sebagai performatif dan terlalu mengontrol, demi mempertahankan citra publik atau "Brand Beckham". Pengakuan ini membuka mata banyak orang tentang realitas di balik kehidupan keluarga yang tampak sempurna di media sosial.
Konsep "pengasuhan performatif" mengacu pada tindakan orang tua yang sengaja menyajikan versi terbaik dari kehidupan keluarga mereka di platform digital. Tujuannya adalah untuk menciptakan kesan positif dan mendapatkan validasi. Namun, di balik tampilan yang glamor dan terkurasi, seperti yang disorot Brooklyn Beckham, ada dampak tersembunyi yang mungkin tidak disadari banyak orang.
Tekanan untuk selalu tampil sempurna dan menjaga citra ini bisa membawa konsekuensi serius, terutama bagi kesehatan mental dan keaslian hubungan di dalam keluarga. Mari kita telaah lebih jauh apa saja dampak yang mungkin timbul dari gaya hidup serba performatif ini.
Tekanan Mental dan Perbandingan Sosial yang Merugikan
Gaya hidup keluarga performatif seringkali memicu tekanan dan kecemasan yang signifikan bagi orang tua. Mereka merasa harus selalu tampil sempurna, kreatif, dan terorganisir, padahal realitasnya jauh berbeda. Budaya "ibu performatif" misalnya, menetapkan standar yang tidak realistis, membuat banyak ibu merasa tidak mampu dan insecure. Brooklyn Beckham sendiri mengaku tumbuh dalam kontrol ketat orang tua yang membuatnya hidup dengan kecemasan kronis, yang hilang setelah ia memilih untuk berdiri sendiri.
Perbandingan sosial menjadi dampak negatif lain yang tak terhindarkan. Ketika melihat citra keluarga lain yang tampak "sempurna" di media sosial, baik orang tua maupun anak-anak dapat merasa tidak berharga. Psikolog Leon Festinger bahkan menyatakan bahwa dorongan untuk perbandingan sosial ini sekuat rasa haus dan lapar, menunjukkan betapa fundamentalnya efek ini pada psikologi manusia.
Anak-anak dan remaja adalah kelompok yang sangat rentan terhadap citra tidak realistis ini, yang dapat memengaruhi kesehatan mental dan citra diri mereka. Penggunaan aplikasi pengeditan gambar seperti Photoshop semakin menciptakan ekspektasi yang tidak sesuai kenyataan. Akibatnya, mereka mungkin kehilangan momen berharga karena fokus pada penampilan online, bukan pada keaslian interaksi.
Keaslian Hubungan Keluarga Terancam oleh Validasi Online
Fokus berlebihan pada validasi online dapat mengikis keaslian hubungan di dalam keluarga, Sahabat Fimela. Interaksi di media sosial yang intens seringkali menggantikan percakapan tatap muka yang bermakna, menciptakan jarak emosional. Brooklyn Beckham mengklaim bahwa orang tuanya lebih fokus mempertahankan citra publik keluarga Beckham daripada menjaga hubungan yang autentik, bahkan menyebut unggahan kebersamaan keluarga di media sosial hanyalah "performatif" demi menjaga merek "Beckham" tetap sempurna.
Beberapa keluarga bahkan mungkin merasa cemas tentang "melakukan" tindakan kebersamaan, di mana persatuan keluarga terasa performatif dan menindas. Momen kebersamaan yang seharusnya tulus dan penuh kegembiraan bisa berubah menjadi ajang pamer semata. Brooklyn menyoroti bagaimana "cinta dalam keluarga kami diukur dari seberapa sering kamu muncul di foto atau seberapa cepat kamu meninggalkan pekerjaanmu demi sesi pemotretan keluarga". Ia juga menyebut insiden memalukan saat resepsi pernikahannya, di mana Victoria dituduh mengambil alih momen tarian pertama.
Dalam kasus yang lebih ekstrem, anak-anak dapat menjadi "aksesori" bagi orang tua untuk membangun citra diri di media sosial. Fokus perhatian beralih dari kebutuhan dan perkembangan anak menjadi alat untuk mendapatkan "like" dan komentar positif. Ini tentu mengkhawatirkan karena kebutuhan esensial anak bisa terabaikan demi citra semu, seperti klaim Brooklyn bahwa Victoria membatalkan pembuatan gaun pengantin Nicola Peltz secara tiba-tiba.
Distraksi Digital dan Ekspektasi yang Tidak Realistis
Media sosial dapat menjadi distraksi signifikan yang mengganggu dinamika rumah tangga. Orang tua yang terlalu asyik dengan ponselnya mungkin secara tidak sadar mengabaikan kebutuhan anak-anak mereka. Sebaliknya, anak-anak yang terpaku pada perangkat digital juga bisa merasa diabaikan oleh orang tua yang sibuk dengan media sosial, memicu perasaan cemburu dan pengucilan.
Perhatian yang seharusnya tercurah pada hubungan keluarga seringkali terbagi antara layar, "suka", dan komentar online. Ini menyebabkan pergeseran prioritas yang berbahaya, di mana validasi eksternal lebih diutamakan daripada keaslian interaksi. Momen-momen otentik dalam keluarga adalah fondasi kebahagiaan sejati.
Selain itu, paparan media sosial yang intens dapat menormalkan perilaku yang lebih dewasa, mempercepat masa kanak-kanak. Orang tua juga mungkin merasa tertekan untuk terus mengikuti tren teknologi terbaru dan mengizinkan anak-anak mereka terlibat dalam media sosial. Mereka merasa bahwa ini adalah "kejahatan yang perlu" demi anak-anak tidak ketinggalan, padahal dampaknya bisa sangat kompleks.