Waspadai Bahaya GERD, Komplikasi Serius yang Mengintai

Nabila MecadinisaDiterbitkan 26 Januari 2026, 11:34 WIB

ringkasan

  • GERD adalah kondisi serius di mana asam lambung naik ke kerongkongan akibat melemahnya katup, berpotensi merusak jaringan dan menyebabkan berbagai komplikasi.
  • Komplikasi GERD tidak hanya terjadi pada kerongkongan seperti esofagitis, striktur, dan Barrett's esophagus, tetapi juga dapat memengaruhi organ lain seperti paru-paru, gigi, dan tenggorokan.
  • Penanganan GERD yang tepat melalui perubahan gaya hidup dan konsultasi medis sangat penting untuk mencegah komplikasi fatal, termasuk risiko kanker esofagus.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, penyakit Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) seringkali dianggap sepele, padahal kondisi ini menyimpan potensi bahaya yang tidak main-main. GERD terjadi ketika asam lambung naik kembali ke kerongkongan (esofagus) akibat melemahnya katup antara kerongkongan dan lambung. Fenomena ini menyebabkan sensasi tidak nyaman seperti rasa terbakar di dada atau ulu hati (heartburn) dan rasa pahit di mulut, yang kerap kali menjadi tanda awal adanya masalah.

Meskipun gejala awalnya terasa ringan, GERD yang dibiarkan tanpa penanganan yang tepat dan berkelanjutan dapat memicu serangkaian komplikasi serius. Komplikasi ini tidak hanya terbatas pada kerongkongan, tetapi juga dapat memengaruhi organ lain dalam tubuh. Oleh karena itu, penting bagi kita semua untuk memahami lebih dalam mengenai bahaya GERD agar dapat melakukan pencegahan dan penanganan sedini mungkin.

Memahami risiko yang terkait dengan GERD adalah langkah pertama untuk menjaga kesehatan pencernaan dan mencegah dampak jangka panjang yang lebih parah. Artikel ini akan mengulas berbagai komplikasi GERD yang perlu diwaspadai, baik yang terjadi pada kerongkongan maupun di luar kerongkongan, serta pentingnya penanganan yang tepat untuk menghindari ancaman fatal.

What's On Fimela
2 dari 4 halaman

Komplikasi GERD pada Kerongkongan: Ancaman Serius yang Tak Terduga

Paparan asam lambung yang berulang dan terus-menerus pada kerongkongan dapat menyebabkan kerusakan serius pada jaringan. Salah satu komplikasi awal adalah esofagitis, yaitu peradangan pada kerongkongan. Kondisi ini dapat menimbulkan nyeri hebat saat menelan makanan dan rasa tidak nyaman di area ulu hati atau dada.

Jika esofagitis tidak diobati, peradangan yang kronis dapat mengikis lapisan kerongkongan dan membentuk luka terbuka yang disebut ulkus esofagus. Ulkus ini tidak hanya menyakitkan tetapi juga dapat berdarah, memperparah rasa nyeri dan kesulitan menelan.

Kerusakan jangka panjang akibat asam lambung juga bisa memicu pembentukan jaringan parut pada kerongkongan, yang menyebabkan striktur esofagus atau penyempitan kerongkongan. Kondisi ini membuat makanan dan cairan sulit melewati kerongkongan, bahkan dapat menyebabkan malnutrisi dan dehidrasi.

Lebih lanjut, GERD kronis dapat menyebabkan perubahan sel pada lapisan kerongkongan, yang dikenal sebagai Barrett's Esophagus. Ini adalah kondisi pra-kanker di mana sel-sel kerongkongan berubah menyerupai sel usus, meningkatkan risiko terkena kanker esofagus (adenokarsinoma esofagus) jika tidak ditangani dengan serius.

3 dari 4 halaman

Bahaya GERD di Luar Kerongkongan: Dampak pada Organ Lain

What is heartburn? (Photo: jcomp/Freepik)

Tidak hanya kerongkongan, asam lambung yang naik juga dapat memengaruhi organ lain di luar sistem pencernaan. Salah satu dampaknya adalah masalah pernapasan. Asam lambung yang terhirup ke paru-paru dapat menyebabkan iritasi, peradangan, dan memicu kondisi seperti batuk kronis, asma, bronkitis, hingga pneumonia aspirasi.

GERD juga dapat merusak kesehatan mulut dan gigi. Asam lambung yang mencapai mulut dapat mengikis enamel gigi, menyebabkan kerusakan gigi atau erosi gigi. Hal ini meningkatkan risiko gigi berlubang dan sensitivitas gigi.

Selain itu, refluks asam dapat menyebabkan masalah sinus dan tenggorokan. Asam yang naik hingga ke laring (pita suara) dan faring (tenggorokan) dapat menyebabkan suara serak, sering berdehem, sensasi mengganjal di tenggorokan, hingga peradangan pita suara (laringitis refluks).

Komplikasi lain yang mungkin terjadi adalah dismotilitas esofagus, di mana koordinasi dan kekuatan otot kerongkongan terganggu, menyebabkan kesulitan menelan. GERD juga seringkali menjadi penyebab nyeri dada non-kardiak, yaitu nyeri dada yang tidak berhubungan dengan masalah jantung, namun seringkali disalahartikan sebagai serangan jantung.

4 dari 4 halaman

Pencegahan dan Penanganan: Kunci Mengatasi Bahaya GERD

Mengingat potensi komplikasi serius, penanganan GERD yang tepat dan berkelanjutan sangatlah penting. Perubahan gaya hidup menjadi kunci utama dalam mengelola GERD dan mencegah kekambuhan. Sahabat Fimela dapat memulai dengan menjaga berat badan ideal, menghindari makanan pemicu seperti makanan berlemak, pedas, asam, serta minuman berkafein dan beralkohol.

Pola makan yang teratur dengan porsi kecil namun sering, serta tidak langsung berbaring setelah makan, juga sangat dianjurkan. Hindari merokok dan kelola stres dengan baik, karena stres dapat memicu produksi asam lambung.

Jika gejala GERD tidak membaik dengan perubahan gaya hidup atau justru memburuk, segera konsultasikan dengan dokter. Dokter mungkin akan merekomendasikan obat-obatan atau pemeriksaan lebih lanjut seperti endoskopi untuk menegakkan diagnosis dan menentukan penanganan yang paling sesuai. Penanganan yang cepat dan tepat dapat membantu mengendalikan gejala, mencegah komplikasi, dan meningkatkan kualitas hidup penderita GERD.