Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, apakah Anda sering merasakan sensasi terbakar di dada atau rasa pahit di mulut setelah makan? Kondisi ini bisa jadi merupakan gejala dari Gastroesophageal Reflux Disease (GERD) atau penyakit asam lambung. GERD adalah kondisi umum di mana asam lambung naik kembali ke kerongkongan, menyebabkan iritasi pada lapisan kerongkongan dan menimbulkan rasa tidak nyaman yang mengganggu.
Gejala GERD yang umum terjadi meliputi rasa asam atau pahit di mulut serta sensasi perih atau panas terbakar di dada dan ulu hati. Kedua gejala ini biasanya akan semakin memburuk saat penderita membungkuk, berbaring, atau setelah makan. Kondisi ini terjadi karena otot bagian bawah kerongkongan (sfingter esofagus bawah) melemah, sehingga tidak mampu menahan isi lambung agar tidak naik ke kerongkongan.
Meskipun seringkali dikaitkan dengan obat-obatan, banyak cara atasi GERD yang berpusat pada perubahan gaya hidup dan pola makan yang sehat. Dengan pendekatan yang tepat, Anda bisa mengurangi frekuensi dan keparahan gejala, serta meningkatkan kualitas hidup tanpa harus selalu bergantung pada obat.
Ubah Gaya Hidup dan Pola Makan, Kunci Redakan GERD
Mengatasi GERD seringkali dimulai dengan penyesuaian gaya hidup dan pola makan yang lebih sehat. Salah satu langkah penting adalah menjaga berat badan ideal, karena berat badan berlebih dapat meningkatkan tekanan di area perut dan mempertinggi risiko GERD. Menurunkan berat badan, jika memiliki berat badan berlebih, dapat membantu mengurangi gejala.
Pola makan juga memegang peranan krusial. Makan dalam porsi kecil namun lebih sering dapat membantu menjaga keseimbangan asam lambung dan mencegah rasa perih atau panas di dada. Hindari makan berlebihan dan pastikan untuk tidak berbaring atau tidur setidaknya 2 hingga 3 jam setelah makan, untuk memberi kesempatan pencernaan bekerja optimal dan mencegah asam lambung naik.
Selain itu, penting untuk menghindari makanan dan minuman pemicu asam lambung, seperti alkohol, makanan pedas dan berlemak, cokelat, mint, buah asam seperti jeruk nipis, dan kopi. Merokok juga harus dihentikan karena nikotin dapat melemahkan otot sfingter esofagus bagian bawah, membuat asam lambung lebih mudah naik. Mengelola stres juga sangat penting, karena stres berlebihan dapat memperparah gejala GERD.
Pilihan Obat-obatan untuk Meredakan Gejala GERD
Meskipun perubahan gaya hidup adalah fondasi utama cara atasi GERD, penggunaan obat-obatan dapat membantu meredakan gejala yang muncul. Namun, sebaiknya konsultasikan terlebih dahulu dengan dokter untuk menentukan jenis obat yang paling sesuai.
Antasida adalah salah satu pilihan obat yang bekerja dengan menetralkan asam lambung. Obat ini dapat dikonsumsi saat gejala muncul atau 1 jam setelah makan, dengan kandungan aktif seperti aluminium hidroksida dan kalsium karbonat yang ampuh meredakan gejala GERD.
Golongan obat lain adalah H2 Receptor Blockers, seperti cimetidine, famotidine, dan ranitidine, yang bekerja dengan mengurangi produksi asam lambung. Ada pula Proton Pump Inhibitors (PPIs), seperti lansoprazole dan omeprazole, yang lebih kuat dalam menghambat pompa proton yang bertanggung jawab memproduksi asam lambung, sehingga mengurangi jumlah asam secara signifikan.
Solusi Alami dan Kapan Harus ke Dokter untuk GERD
Beberapa metode alami juga bisa menjadi cara atasi GERD untuk meredakan gejala ringan. Mengunyah permen karet (non-mint) dapat merangsang produksi air liur yang membantu menetralkan asam di kerongkongan. Selain itu, mengonsumsi air jahe juga dikenal memiliki khasiat untuk menurunkan gejala GERD, namun perlu diperhatikan agar tidak berlebihan karena dapat memicu perut panas.
Susu, yang bersifat alkali, kadang disebut dapat meredakan mulas akibat GERD. Namun, perlu hati-hati karena tidak semua orang cocok, terutama bagi mereka yang memiliki intoleransi laktosa. Penting untuk mengamati respons tubuh terhadap setiap pengobatan alami yang dicoba.
Kapan harus ke dokter? Jika gejala GERD tidak membaik dengan perubahan gaya hidup dan obat-obatan bebas, atau jika gejala semakin parah dan mengganggu aktivitas sehari-hari, sangat disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter. Dokter dapat melakukan diagnosis lebih lanjut dan merekomendasikan penanganan yang lebih spesifik, termasuk obat resep atau prosedur medis jika diperlukan, guna mencegah komplikasi serius seperti esofagitis atau peningkatan risiko kanker esofagus.