7 Sikap agar Bulan Ramadan Ini Hati Makin Tenang

Endah WijayantiDiterbitkan 18 Februari 2026, 10:15 WIB

Fimela.com, Jakarta - Ramadan selalu datang dengan suasana yang berbeda. Ritmenya berubah, waktu terasa lebih padat, emosi lebih sensitif, dan hati seperti diajak untuk lebih jujur melihat diri sendiri. Ada yang menyambutnya dengan penuh semangat, ada juga yang justru merasa cemas karena beban hidup belum juga ringan.

Padahal, Ramadan bukan hanya soal menahan lapar dan haus. Ramadan adalah kesempatan untuk menata ulang sikap. Bukan mengubah hidup secara drastis dalam semalam, melainkan memperhalus cara menyikapi hari demi hari. Jika sikap yang dipilih tepat, hati pun akan terasa lebih tenang.

Sahabat Fimela, berikut tujuh sikap yang bisa membuat Ramadan kali ini terasa lebih damai dan bermakna.

What's On Fimela
2 dari 8 halaman

1. Menyeleraskan Ekspektasi dengan Kenyamanan Diri

1. Menyeleraskan Ekspektasi dengan Kenyamanan Diri./Copyright Fimela/Adrian Putra

Sering kali ketenangan hilang karena ekspektasi yang tidak realistis. Ingin ibadah sempurna, ingin lebih produktif dari biasanya, ingin berubah total dalam satu bulan. Niatnya baik, tetapi jika terlalu menekan diri, justru memicu rasa gagal.

Belajar menerima bahwa setiap orang memiliki kapasitas berbeda adalah langkah awal menuju ketenangan. Jika hari ini hanya mampu melakukan sedikit, lakukan dengan sungguh-sungguh. Ramadan bukan perlombaan dengan orang lain. Ini perjalanan pribadi.

Dengan ekspektasi yang lebih sehat, hati tidak mudah kecewa. Fokus pun berpindah dari hasil ke proses.

3 dari 8 halaman

2. Memilih Respons, Bukan Sekadar Bereaksi

2. Memilih Respons, Bukan Sekadar Bereaksi./Copyright Fimela/Adrian Putra

Saat berpuasa, energi menurun dan emosi lebih mudah tersulut. Hal kecil bisa terasa besar. Perkataan orang lain bisa terasa lebih menyakitkan dari biasanya.

Di sinilah sikap menentukan kualitas Ramadan. Belajar memberi jeda sebelum merespon adalah latihan yang sangat berharga. Tidak semua hal perlu dibalas saat itu juga. Tidak semua perdebatan perlu dimenangkan.

Menahan diri bukan tanda lemah. Justru di situlah kekuatan sebenarnya terbentuk. Ketika mampu memilih respon yang lebih tenang, hati ikut menjadi lebih ringan.

4 dari 8 halaman

3. Mengurangi Perbandingan Sosial

3. Mengurangi Perbandingan Sosial./Copyright Fimela/Adrian Putra

Media sosial sering kali membuat Ramadan terasa seperti panggung pencapaian. Ada yang khatam berkali-kali, ada yang rutin berbagi, ada yang terlihat sangat disiplin menjalankan berbagai ibadah.

Tanpa sadar, perbandingan muncul. Merasa kurang. Merasa tertinggal.Padahal, yang terlihat belum tentu mencerminkan keseluruhan. Setiap orang berjuang dengan caranya sendiri. Ramadan bukan tentang siapa yang terlihat paling religius, melainkan siapa yang paling tulus memperbaiki diri.

Mengurangi konsumsi hal-hal yang memicu perbandingan bisa menjaga kestabilan hati. Fokus pada langkah kecil yang konsisten jauh lebih menenangkan daripada sibuk mengukur diri dengan standar orang lain.

5 dari 8 halaman

4. Memaafkan, Termasuk pada Diri Sendiri

4. Memaafkan, Termasuk pada Diri Sendiri./Copyright Fimela/Adrian Putra

Ramadan identik dengan memaafkan. Namun sering kali yang paling sulit dimaafkan justru diri sendiri. Kesalahan masa lalu, keputusan yang keliru, kegagalan yang belum terbayar lunas.

Menyimpan penyesalan terus-menerus hanya akan membuat hati berat. Ramadan adalah waktu yang tepat untuk berdamai. Bukan dengan mengabaikan kesalahan, tetapi dengan mengakui, belajar, lalu melangkah.

Memaafkan diri bukan berarti membenarkan kesalahan. Itu berarti memberi kesempatan pada diri untuk tumbuh. Ketika beban batin berkurang, ruang untuk ketenangan pun terbuka lebih luas.

6 dari 8 halaman

5. Menjaga Pola Istirahat dan Ritme Harian

5. Menjaga Pola Istirahat dan Ritme Harian./Copyright depositphotos.com/itchaz

Banyak orang mengira ketenangan hanya soal spiritual. Padahal kondisi fisik sangat memengaruhi suasana hati. Kurang tidur, pola makan berantakan, atau jadwal yang terlalu padat bisa membuat emosi tidak stabil.

Ramadan memang mengubah rutinitas, tetapi tetap perlu pengaturan yang bijak. Tidur cukup, mengatur waktu kerja, dan memberi ruang istirahat bukan tanda kurang semangat beribadah. Justru itu bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.

Hati yang tenang sering kali lahir dari tubuh yang tidak terlalu lelah. Keseimbangan adalah kunci.

7 dari 8 halaman

6. Memperbanyak Refleksi, Bukan Sekadar Aktivitas

6. Memperbanyak Refleksi, Bukan Sekadar Aktivitas./Copyright depositphotos.com/marchmeena

Ramadan sering diisi dengan berbagai kegiatan: buka bersama, tadarus kelompok, kajian, berbagi takjil, dan lain-lain. Semua itu baik. Namun jangan sampai sibuk secara fisik, tetapi hening secara batin.

Luangkan waktu beberapa menit setiap hari untuk refleksi. Tidak perlu lama. Cukup duduk tenang setelah sahur atau sebelum tidur. Tanyakan pada diri sendiri: apa yang sudah diperbaiki hari ini? Apa yang masih perlu dibenahi?

Refleksi membantu menjaga arah. Tanpa itu, Ramadan bisa berlalu begitu saja tanpa perubahan berarti. Dengan refleksi, setiap hari terasa lebih sadar dan terarah.

8 dari 8 halaman

7. Mengikhlaskan Hal yang di Luar Kendali

7. Mengikhlaskan Hal yang di Luar Kendali./Copyright depositphotos.com/bongkarngraphic

Tidak semua hal berjalan sesuai rencana, bahkan di bulan yang penuh harapan ini. Target yang tidak tercapai, kondisi keluarga yang belum ideal, masalah pekerjaan yang tetap ada.

Belajar menerima bahwa ada hal-hal di luar kendali adalah bentuk kedewasaan. Fokuslah pada apa yang bisa diatur: sikap, niat, dan tindakan pribadi.

Mengikhlaskan bukan berarti menyerah. Itu berarti berhenti memaksakan sesuatu yang memang tidak bisa dikendalikan. Ketika tidak lagi melawan hal yang tidak bisa diubah, energi bisa dialihkan untuk memperbaiki yang masih mungkin.

Sahabat Fimela, ketenangan bukan sesuatu yang datang tiba-tiba. Ia tumbuh dari pilihan sikap yang diulang setiap hari. Ramadan memberi ruang untuk melatihnya dengan lebih intens.

Tidak perlu menunggu menjadi pribadi yang sempurna untuk merasa damai. Cukup mulai dengan kesadaran kecil: menurunkan ekspektasi, menahan respon, berhenti membandingkan, memaafkan, menjaga ritme hidup, meluangkan refleksi, dan mengikhlaskan yang di luar kendali.

Ramadan hanya sebulan, tetapi dampaknya bisa jauh lebih panjang. Jika hati dilatih lebih tenang selama bulan ini, kebiasaan itu bisa terbawa ke bulan-bulan berikutnya.

Semoga Ramadan kali ini bukan hanya tentang rutinitas tahunan, melainkan benar-benar menjadi ruang untuk menenangkan hati dan memperkuat diri dari dalam.