Fimela.com, Jakarta - Mom, pernahkah mendapati si kecil mulai mencoba berbohong? Misalnya berpura-pura sudah mengerjakan PR, tidak mengakui kesalahan, atau mengaku melihat sosok imajiner yang sebenarnya hanya hasil imajinasi mereka. Setiap orang tua tentu mengharapkan anak tumbuh jadi pribadi yang jujur. Tetapi, ada masa di mana mereka mulai tertarik untuk menutup-nutupi sesuatu.
Sebuah penelitian menunjukkan bahwa sejak usia dua tahun, anak-anak sudah bisa mencoba berbohong. Seiring bertambahnya usia, kebiasaan ini sering muncul, bahkan hampir semua anak remaja pernah melakukannya. Sekilas mungkin terdengar sepele, tapi jika dibiarkan bisa menjadi kebiasaan yang menemaninya tumbuh. Di balik itu, perilaku berbohong pada anak mempunyai alasan yang penting untuk dipahami. Berikut penjelasan mengapa si kecil tertarik untuk berbohong.
1. Sulit Membedakan Fantasi dan Realita
Pada proses tumbuh kembangnya, anak masih kesulitan untuk membedakan dunia nyata dan imajinasinya. Hidup di dunia penuh imajinasi, terkadang kebohongan muncul tanpa sengaja. Belum sepenuhnya paham, mereka sedang belajar memaknai batas antara pemikirannya yang kreatif dengan kenyataan yang ada.
2. Melindungi Diri dan Orang Lain
Berbohong kadang menjadi cara anak melindungi diri dari rasa takut atau perasaan bersalah. Keinginan untuk melindungi perasaan orang lain, mendorong mereka untuk tidak berkata jujur. Seperti berkata bahwa makanan hari ini enak, agar tidak melukai perasaan ibunya yang memasak. Alasan berbohong ini mencerminkan cara anak melindungi diri, sekaligus tanda empati mereka.
3. Menghindari Masalah
Anak-anak sering membayangkan bagaimana reaksi orang tua saat mereka berkata jujur. Ketakutan akan dimarahi atau mendapat hukuman membuat mereka memilih cara aman dengan berbohong. Bagi mereka, bohong terasa seperti solusi cepat untuk menghindari konsekuensi. Kebohongan bisa lahir dari rasa takut, sehingga orang tua perlu mengarahkan dengan bijak agar ini tidak berkembang menjadi kebiasaan.
4. Mencari Perhatian
Ada kalanya seorang anak berbohong hanya untuk terlihat keren atau menarik perhatian. Mereka ingin didengar, dianggap hebat, atau sekadar menjadi pusat obrolan. Seperti melebih-lebihkan cerita demi mendapatkan reaksi dari orang lain. Hal ini biasanya terjadi saat anak belajar berinteraksi dalam lingkungan sosial.
Apa yang Harus Dilakukan Orang Tua?
Mendapati anak berbohong memang melahirkan kekhawatiran. Berbohong sering dikaitkan dengan moral, padahal ini merupakan proses belajar pada anak untuk memahami perasaan dan dunia. Karenanya, respons yang bijak jauh lebih penting untuk mendukung pertumbuhan mereka. Orang tua sebaiknya memberikan ruang aman bagi mereka untuk lebih berani mengekspresikan dirinya dengan jujur. Dengan membangun komunikasi terbuka, mengenalkan konsekuensi dari berbohong, dan mengajarkan pentingnya kepercayaan dalam hubungan bisa membantu si kecil untuk berkata jujur tanpa merasa dihakimi.