Terungkap, 71% Ibu Mengalami Beban Mental Tak Terlihat, Ini Cara Efektif Mengatasinya

Adinda Tri WardhaniDiterbitkan 24 Februari 2026, 14:10 WIB

ringkasan

  • Beban mental ibu adalah pekerjaan kognitif tak terlihat berupa perencanaan, pengorganisasian, dan kekhawatiran terus-menerus yang dapat menyebabkan stres kronis serta kelelahan.
  • Dampak beban mental yang berlebihan mencakup masalah kesehatan mental seperti kecemasan dan burnout, ketegangan dalam hubungan, hingga masalah kesehatan fisik.
  • Mengatasi beban mental memerlukan komunikasi terbuka dengan pasangan, delegasi tugas, sistematisasi, perawatan diri, dan pencarian dukungan profesional atau komunitas.

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, menjadi seorang ibu seringkali diiringi dengan tanggung jawab yang tak hanya terlihat, tetapi juga yang tersembunyi. Salah satu aspek yang kerap luput dari perhatian adalah beban mental ibu, sebuah pekerjaan kognitif yang tak kasat mata namun memiliki dampak besar pada kesejahteraan. Beban mental ini mencakup segala bentuk perencanaan, pengorganisasian, dan kekhawatiran yang terus-menerus hadir dalam pikiran para ibu demi menjaga kelancaran kehidupan keluarga.

Pekerjaan tak terlihat ini, yang juga dikenal sebagai beban kognitif atau invisible labor, adalah manajemen proyek untuk rumah tangga yang melibatkan upaya mental untuk memastikan semuanya berjalan lancar. Dari menjadwalkan janji temu hingga memastikan persediaan makanan, beban mental ini menjadi bagian tak terpisahkan dari peran seorang ibu. Kondisi ini bisa terasa sangat melelahkan karena ibu harus selalu memikirkan banyak hal secara bersamaan.

Mengenali dan memahami apa itu beban mental ibu sangat penting, terutama karena 71% ibu dilaporkan menanggung beban mental ini. Dengan memahami seluk-beluknya, kita dapat mencari solusi yang tepat untuk mengurangi tekanan, mencegah kelelahan, dan menciptakan keseimbangan hidup yang lebih baik bagi para ibu.

2 dari 4 halaman

Mengenal Lebih Dekat Beban Mental Ibu: Pekerjaan Tak Terlihat yang Krusial

Beban mental adalah seluruh pemikiran yang terjadi di sekitar suatu tugas, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaannya. (Foto: Unsplash/Elisa Ventur)

Beban mental adalah seluruh pemikiran yang terjadi di sekitar suatu tugas, mulai dari perencanaan hingga pelaksanaannya. Ini adalah perencanaan, pengorganisasian, dan kekhawatiran konstan yang dilakukan ibu untuk keluarga mereka, termasuk tugas-tugas rumah tangga, emosi, dan tugas-tugas yang tidak terlihat. Secara sederhana, beban mental adalah pekerjaan berpikir yang dibutuhkan untuk menjaga kehidupan keluarga berjalan lancar, termasuk penjadwalan, perencanaan, dan pengorganisasian tugas.

Aspek beban mental ini mencakup perencanaan dan logistik harian yang kompleks. Misalnya, merencanakan makanan untuk seluruh keluarga, mencatat barang yang habis, membuat daftar belanjaan, dan menentukan waktu berbelanja. Ibu juga bertanggung jawab melacak tanggung jawab rumah tangga dan jadwal pembersihan, serta mengatur semua elemen praktis sekolah anak, seperti transportasi, koordinasi dengan guru, dan mengawasi pekerjaan rumah. Hal ini termasuk mengingat janji dokter, mengelola jadwal sekolah, membeli hadiah ulang tahun, hingga membaca komunikasi dari sekolah.

Selain itu, beban mental juga melibatkan pekerjaan emosional, yaitu mengelola emosi untuk menjaga hubungan tetap harmonis. Ini berarti memantau dan mengelola kesejahteraan emosional setiap orang, seperti memperhatikan ketika pasangan stres, melacak perkembangan sosial dan emosional anak, mengatur jadwal bermain, dan menjaga hubungan dengan keluarga besar. Ibu juga seringkali ditugaskan untuk membuat keputusan penting tentang kesejahteraan, pendidikan, dan kesehatan anak-anak.

3 dari 4 halaman

Dampak Beban Mental Ibu: Ancaman bagi Kesehatan dan Hubungan

Membawa beban mental yang berlebihan dalam peran keibuan dapat menyebabkan kecemasan, kelelahan (burnout), dan stres dalam hubungan. Kewaspadaan konstan dan selalu peka terhadap kebutuhan setiap orang membuat ibu berada dalam kondisi stres atau mode "fight or flight" yang meningkat. Kelelahan keputusan (decision fatigue) akibat membuat ratusan keputusan kecil setiap hari juga dapat memicu kelelahan.

Beban ini dapat menyebabkan stres, kelelahan, kurang tidur, dan bahkan depresi pascapersalinan. Paparan stresor yang berkepanjangan meningkatkan risiko kecemasan, depresi, dan kelelahan pada ibu, serta volatilitas emosional yang berkontribusi pada perasaan kebencian atau rasa bersalah. Sebuah survei menunjukkan bahwa 41% orang tua merasa tidak dapat berfungsi karena stres, dengan ibu menjadi kelompok yang paling rentan.

Selain itu, beban mental dapat menyebabkan kebencian terhadap pasangan. Ketegangan ini seringkali berkembang ketika satu pasangan secara konsisten menanggung sebagian besar beban mental, mengakibatkan konflik dalam hubungan. Studi juga menunjukkan bahwa ibu bekerja dua kali lebih mungkin daripada ayah untuk mempertimbangkan mengurangi jam kerja atau meninggalkan pekerjaan karena tanggung jawab orang tua. Stres akibat beban mental juga dapat berkontribusi pada masalah kesehatan fisik seperti masalah perut, kesulitan tidur, dan ketegangan otot.

4 dari 4 halaman

Strategi Efektif Mengatasi Beban Mental Ibu: Kembali Seimbang dan Berdaya

Untuk mengatasi beban mental, komunikasi terbuka dengan pasangan adalah langkah krusial. Bicarakan dengan pasangan tentang beban mental yang Anda rasakan, jelaskan bagaimana perasaan Anda dan semua yang Anda kelola secara mental. Lakukan percakapan terbuka tentang berbagi tanggung jawab, tidak hanya tugas fisik tetapi juga tugas mental. Penting untuk mengkomunikasikan kebutuhan Anda secara terbuka dan menetapkan harapan yang jelas untuk berbagi beban secara adil.

Delegasi dan berbagi beban adalah kunci; Anda tidak harus melakukan semuanya sendiri. Libatkan anggota keluarga lain secara aktif dalam tanggung jawab rumah tangga. Alokasikan tugas rumah tangga secara merata dan libatkan anak-anak dengan tugas yang sesuai usia. Penting untuk mentransfer kepemilikan tugas sepenuhnya, di mana pasangan yang menerima mengambil alih seluruh proses berpikir tanpa perlu diingatkan.

Sistematisasi dan organisasi juga sangat membantu. Buat sistem yang terorganisir untuk tugas-tugas rumah tangga agar pekerjaan yang tersembunyi menjadi terlihat. Anda bisa menggunakan alat seperti Fair Play Deck untuk mengidentifikasi dan membagi tugas. Buat daftar pekerjaan mental untuk mengeluarkan "daftar tugas" dari kepala Anda. Terapkan kalender keluarga bersama untuk acara, janji temu, dan tenggat waktu.

Jangan lupakan pentingnya perawatan diri dan batasan. Lepaskan rasa bersalah karena membutuhkan istirahat; perawatan diri penting untuk kesehatan mental Anda. Prioritaskan perawatan diri seperti yoga, meditasi, atau hobi, serta tetapkan batasan dengan belajar mengatakan tidak pada komitmen yang tidak penting. Terakhir, jangan ragu mencari dukungan kesehatan mental dari terapis atau bergabung dengan kelompok dukungan untuk ibu.