39% Karyawan Pernah Menangis di Kantor, Ritual Inisiasi yang Bantu Karier Anda

Vinsensia DianawantiDiterbitkan 28 Februari 2026, 09:22 WIB

ringkasan

  • Sebanyak 39% karyawan di AS pernah menangis di tempat kerja, menunjukkan bahwa ekspresi emosi ini adalah hal yang umum dan bukan tanda kelemahan.
  • Menunjukkan kerentanan melalui air mata dapat menjadi kekuatan yang memicu empati, membantu menyelesaikan masalah, dan mempererat hubungan di lingkungan profesional.
  • Pengalaman pribadi dan pandangan ahli menunjukkan bahwa menangis di kantor dapat menghasilkan hasil positif tak terduga, seperti penyelesaian masalah dan dukungan dari rekan kerja

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, pernahkah Anda meneteskan air mata di tempat kerja? Jika ya, Anda tidak sendirian. Sebuah survei terbaru terhadap lebih dari 1.000 orang dewasa di AS oleh situs pembuat resume AI Resume Now menunjukkan bahwa sekitar 39 persen karyawan mengaku pernah menangis setidaknya sekali di tempat kerja. Angka ini membuktikan bahwa ekspresi emosi di lingkungan profesional bukanlah hal yang langka.

Pandangan umum seringkali menganggap menangis sebagai tanda kelemahan, terutama di lingkungan profesional yang kompetitif. Namun, Helen Coffey, seorang Penulis Fitur Senior di Independent, menantang pandangan ini. Ia berpendapat bahwa menangis di tempat kerja adalah "kejahatan yang diperlukan" dan justru dapat membantu, bukan menghambat, karier seseorang.

Fenomena ini mengundang kita untuk melihat kembali stigma seputar emosi di tempat kerja. Mengapa air mata, yang seringkali dianggap tabu, justru bisa menjadi bagian dari perjalanan karier dan bahkan memberikan manfaat tak terduga? Mari kita telusuri lebih jauh perspektif menarik ini.

2 dari 4 halaman

Menunjukkan Kerentanan: Kekuatan Tersembunyi di Balik Air Mata

ilustrasi stres kerja/photo created by wayhomestudio - www.freepik.com

Di tengah tuntutan dunia kerja yang serba kuat dan produktif, seringkali ada tekanan untuk menyembunyikan emosi. Namun, Helen Coffey dengan tegas menyatakan bahwa menunjukkan kerentanan bukanlah kelemahan. Sebaliknya, hal itu adalah kekuatan terbesar kita, terlepas dari pandangan yang ingin dipercayai oleh sebagian orang.

Air mata dapat berfungsi sebagai batas fisik, sebuah sinyal bahwa ada garis yang telah dilampaui. Ini memaksa suatu masalah untuk dihadapi dan diselesaikan, alih-alih dibiarkan membusuk di bawah permukaan. Ketika air mata tumpah, hal itu dapat membuat seseorang menyadari bahwa mereka telah bertindak terlalu jauh, atau bahwa sesuatu perlu diubah.

Lebih dari itu, air mata mengingatkan bahwa orang yang meneteskannya adalah manusia sejati dengan perasaan yang nyata. Dalam ekosistem tempat kerja modern yang seringkali kompetitif, ada sedikit hal yang lebih kuat daripada air mata yang tulus. Ini adalah pengingat akan kemanusiaan kita, yang dapat memicu empati dan pemahaman.

3 dari 4 halaman

Manfaat Tak Terduga dari Air Mata di Lingkungan Profesional

Pengalaman pribadi Helen Coffey menunjukkan bahwa menangis di tempat kerja, meskipun memalukan, tidak selalu merupakan hal yang buruk. Dalam beberapa kasus, hal itu justru menghasilkan hasil yang positif. Ia menceritakan bagaimana seorang penjual meminta maaf setelah ia menangis, atasannya segera mendistribusikan kembali tugas-tugasnya yang menumpuk, dan bahkan tangisan di toilet membantunya menjalin ikatan yang mendalam dengan seorang rekan kerja wanita yang kini menjadi teman dekatnya.

Coffey menegaskan bahwa ia tidak pernah "memalsukan" tangisan atau sengaja menangis untuk mendapatkan keinginannya. Hasil positif ini muncul secara alami dari ekspresi emosi yang tulus. Menangis juga merupakan mekanisme alami tubuh untuk melepaskan stres dan meningkatkan suasana hati. Setelah menangis, banyak orang merasakan kelegaan dan kenyamanan, terutama jika tangisan tersebut disambut dengan empati dan dukungan.

Selain itu, menunjukkan kerentanan melalui air mata dapat mempererat ikatan emosional. Saat Sahabat Fimela menangis di hadapan orang terdekat, hal itu memicu rasa empati dari mereka, yang pada gilirannya memperkuat kedekatan emosional dan hubungan.

4 dari 4 halaman

Mengubah Stigma: Memanusiakan Lingkungan Kerja

Meskipun masyarakat mungkin masih memiliki stigma terhadap menangis di tempat kerja, data dan pengalaman menunjukkan bahwa hal itu adalah kejadian umum dan bahkan dapat menjadi alat yang ampuh untuk komunikasi, penyelesaian masalah, dan pembangunan hubungan. Beberapa ahli berpendapat bahwa menangis adalah tanda bahwa seseorang adalah manusia biasa yang terikat dengan pekerjaannya.

Menangis bisa menjadi sinyal bahwa sesuatu yang sangat penting sedang terjadi, dan dapat memberikan informasi bisnis berharga yang akan diperoleh ketika seseorang menangis sehingga tim bisa bekerja dengan baik. Alih-alih menahan air mata, mungkin sudah saatnya kita melihatnya sebagai bagian alami dari menjadi manusia di lingkungan profesional.

Penting untuk diingat bahwa menangis di tempat kerja bukan berarti Sahabat Fimela gagal menjaga profesionalisme. Tangisan bisa menjadi tanda bahwa Anda sudah menahan terlalu banyak beban, dan bukan berarti Anda lemah, tetapi justru bisa menjadi sinyal bahwa ada yang perlu diperbaiki dalam sistem kerja atau pola komunikasi di kantor. Dengan demikian, penerimaan terhadap emosi ini dapat membantu menciptakan lingkungan kerja yang lebih manusiawi dan suportif.