Siasat Memanfaatkan THR agar Tidak Cepat Habis

Nabila MecadinisaDiterbitkan 16 Maret 2026, 13:12 WIB

ringkasan

  • Kurangnya perencanaan anggaran sejak awal dan pola pikir yang menganggap THR sebagai uang kaget adalah penyebab utama uang THR cepat habis.
  • Belanja impulsif, konsumtif, serta berbagi berlebihan tanpa perhitungan saat Lebaran dapat menguras dana THR secara signifikan.
  • Mengabaikan kewajiban finansial seperti membayar utang dan tidak menyisihkan dana untuk tabungan atau investasi merupakan kesalahan fatal dalam pengelolaan THR.

Fimela.com, Jakarta - Tunjangan Hari Raya (THR) adalah momen yang paling dinanti oleh banyak pekerja menjelang Idulfitri. Dana tambahan ini diharapkan dapat membantu memenuhi berbagai kebutuhan, mulai dari belanja rumah tangga hingga persiapan mudik. Namun, seringkali uang THR terasa cepat habis, bahkan sebelum Lebaran usai, menimbulkan kebingungan dan kekhawatiran finansial.

Kondisi ini umumnya terjadi bukan karena jumlah THR yang kecil, melainkan karena kesalahan dalam pengelolaannya. Banyak orang tanpa sadar melakukan kebiasaan buruk yang membuat dana tambahan ini lenyap tanpa terasa. Euforia Lebaran sering membuat seseorang menjadi lebih longgar dalam mengatur pengeluaran, sehingga keputusan keuangan diambil secara spontan.

Untuk menghindari jebakan finansial yang sama setiap tahun, Sahabat Fimela perlu memahami berbagai kesalahan finansial setelah menerima THR yang umum terjadi. Dengan mengenali pola-pola ini, Anda dapat menyusun strategi yang lebih bijak agar THR memberikan manfaat maksimal dan berkontribusi pada stabilitas keuangan jangka panjang.

2 dari 8 halaman

1. Tanpa Perencanaan: Resep Instan THR Cepat Habis

Biar THR nggak sekadar lewat, ini cara mengaturnya dengan bijak. [Dok/Pexels.com/Defrino Maasy].

Kesalahan paling mendasar yang sering terjadi adalah tidak menyusun pembagian dana sejak THR diterima. Tanpa perencanaan yang matang, uang cenderung digunakan secara spontan untuk berbagai kebutuhan. Hal ini membuat pengeluaran menjadi sulit dikontrol dan dana bisa habis tanpa disadari.

Banyak orang langsung menggunakan uang tersebut tanpa menghitung prioritasnya terlebih dahulu. Akibatnya, pengeluaran menjadi tidak terkendali dan THR pun habis sebelum semua kebutuhan terpenuhi. Kurangnya kesadaran akan anggaran atau pengelolaan keuangan yang buruk membuat seseorang rentan terhadap godaan belanja impulsif.

Padahal, membuat pembagian anggaran dapat membantu mengontrol pengeluaran secara efektif. Misalnya, dengan memisahkan dana untuk kebutuhan Lebaran, biaya perjalanan, serta kebutuhan rumah tangga setelah hari raya. Dengan cara ini, penggunaan uang menjadi lebih terarah dan tidak mudah habis.

Menyusun daftar kebutuhan seperti zakat, kebutuhan Lebaran, hingga dana cadangan adalah langkah penting. Strategi ini membuat penggunaan THR lebih terkontrol, sehingga Anda bisa fokus pada kebutuhan yang benar-benar penting.

3 dari 8 halaman

2. Jebakan Belanja Impulsif dan Konsumtif Saat Lebaran

Tradisi membeli pakaian baru atau makanan khas memang menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Lebaran. Namun, tanpa kontrol yang baik, aktivitas ini bisa membuat pengeluaran meningkat tajam. Godaan diskon besar-besaran, iklan Lebaran, dan suasana euforia sering membuat orang belanja tanpa berpikir panjang.

Belanja impulsif sering terjadi ketika seseorang tergoda oleh diskon musiman atau promosi menjelang hari raya. Akibatnya, banyak barang dibeli hanya karena keinginan sesaat, bukan karena benar-benar dibutuhkan. Belanja seperti ini biasanya terasa menyenangkan di awal, tetapi menimbulkan penyesalan setelah uang habis.

Ekonom perilaku Sarah Newcomb dari Morningstar menyebutkan bahwa belanja emosional meningkat tajam saat momen perayaan. Banyak pembelian dilakukan hanya karena tergoda promo atau takut kehabisan tren, bukan karena benar-benar dibutuhkan.

Untuk menghindari jebakan ini, Sahabat Fimela perlu bertanya pada diri sendiri apakah barang yang akan dibeli benar-benar dibutuhkan atau hanya keinginan sesaat. Menentukan prioritas dan membuat daftar belanja dapat membantu mengendalikan diri dari godaan diskon.

4 dari 8 halaman

3. Pola Pikir "Uang Kaget": Mengapa THR Cepat Menguap?

Pola pikir yang menganggap THR sebagai uang tambahan yang datang secara tiba-tiba dan bebas digunakan tanpa perhitungan adalah kesalahan mendasar. Anggapan ini membuat THR diperlakukan berbeda dari gaji bulanan, sehingga cenderung dihabiskan tanpa rencana yang matang.

The New York Times menyebut bahwa uang bonus sering memicu perilaku belanja impulsif karena dianggap "uang tambahan". Ketika seseorang tidak memberi tujuan jelas pada uangnya, maka uang tersebut cenderung habis tanpa terasa.

Perencana keuangan Harrison Kennard menyarankan agar penerima bonus tidak langsung menggunakan uang tersebut. Ia menyarankan untuk "diamkan uangnya selama satu atau dua minggu" untuk memiliki waktu memperoleh tujuan finansial sebelum menggunakannya.

Penting bagi Sahabat Fimela untuk mengubah pola pikir ini dan menganggap THR sebagai bagian dari pendapatan yang harus masuk dalam perencanaan keuangan secara menyeluruh. Dengan begitu, dana ini dapat dimanfaatkan untuk tujuan yang lebih strategis.

5 dari 8 halaman

4. Lupa Menabung: Mengabaikan Masa Depan Finansial

Menggunakan seluruh THR untuk kebutuhan jangka pendek tanpa menyisihkan dana untuk tabungan adalah kesalahan berikutnya. Banyak orang menganggap THR sebagai uang "bonus" yang boleh dihabiskan sepenuhnya.

Padahal, sebagian dana dapat disimpan untuk berbagai kebutuhan masa depan, seperti dana pendidikan, rencana liburan keluarga, perbaikan rumah, atau kebutuhan tak terduga. Dana darurat sangat penting untuk menghadapi kebutuhan tak terduga setelah periode Lebaran berakhir.

Menyisihkan sebagian kecil saja dari THR dapat membantu memperkuat kondisi keuangan setelah Lebaran berlalu. Hal ini juga sangat penting untuk menghadapi situasi tak terduga yang mungkin muncul.

Idealnya, sekitar 20% hingga 30% dari total THR dapat disisihkan untuk simpanan jangka menengah maupun panjang. Ini akan memberikan "bantalan kas" jika suatu saat Anda membutuhkan uang mendesak.

6 dari 8 halaman

5. Mengabaikan Kewajiban Finansial: Utang dan Zakat Terlupakan

Sebagian orang menggunakan THR sepenuhnya untuk kebutuhan Lebaran tanpa menyisihkan dana untuk kewajiban yang lebih penting. Kewajiban tersebut meliputi membayar utang, zakat, atau tagihan bulanan.

Padahal, THR bisa menjadi kesempatan emas untuk meringankan beban keuangan. Misalnya, dengan melunasi sebagian utang atau menutup tagihan yang tertunda. Menyelesaikan kewajiban ini sejak awal akan membuat hati lebih tenang menyambut hari raya.

Perencana keuangan Eko Endarto menyarankan agar THR diprioritaskan untuk membayar zakat, mengurangi beban utang, dan membeli kebutuhan Lebaran. Jika Anda memiliki cicilan atau utang dengan bunga tinggi, sebaiknya prioritaskan pembayaran tersebut.

Dengan mengurangi beban utang sejak awal, Sahabat Fimela dapat menikmati hari raya tanpa tekanan finansial. Langkah ini sangat penting untuk menjaga kesehatan finansial jangka panjang.

7 dari 8 halaman

6. Berbagi Berlebihan Tanpa Batas: Ketika Kedermawanan Jadi Bumerang

Berbagi kepada keluarga, kerabat, dan anak-anak saat Lebaran memang tradisi yang indah dan mulia. Namun, memberi tanpa perhitungan juga bisa membuat keuangan menjadi tidak seimbang.

Terkadang seseorang memberi lebih banyak dari yang seharusnya hanya karena tidak enak hati atau ingin terlihat dermawan di depan orang lain. Akibatnya, uang THR yang awalnya cukup untuk berbagai kebutuhan justru cepat berkurang tanpa terasa.

Penting untuk menentukan anggaran khusus untuk berbagi THR. Hal ini dapat membantu menjaga tradisi tersebut tetap berjalan tanpa mengganggu kondisi keuangan pribadi Anda.

Ikhlas itu penting, tetapi boncos juga bukan solusi. Dengan menetapkan batas sejak awal, Anda bisa tetap berbagi kebahagiaan tanpa mengorbankan stabilitas finansial Anda sendiri.

8 dari 8 halaman

7. Mencampur Rekening Gaji dan THR: Ilusi Saldo Berlimpah

Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah mencampur uang gaji dan THR dalam satu rekening. Ketika melihat saldo yang besar, banyak orang merasa memiliki dana berlimpah. Hal ini membuat mereka menjadi lebih impulsif dalam berbelanja.

Ilusi saldo yang besar dapat memicu pengeluaran yang tidak perlu dan tidak terencana. Tanpa disadari, uang THR bisa terkuras habis untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu mendesak.

Memisahkan rekening dapat membantu mengontrol penggunaan dana dengan lebih baik. Anda bisa menggunakan sistem "kantong keuangan" atau tabungan terpisah untuk membedakan dana "wajib" dan dana "boleh dipakai".

Dengan pembagian yang jelas, Anda akan lebih mudah mengontrol pengeluaran dan menghindari pemborosan. Cara ini juga membantu Anda tetap menikmati momen Lebaran tanpa mengorbankan kondisi keuangan setelahnya.