Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, fenomena iklim global yang dikenal sebagai El Nino merupakan fase hangat dari pola iklim siklus El Niño-Southern Oscillation (ENSO), yang terjadi secara tidak teratur setiap 2 hingga 7 tahun. Peristiwa alami ini ditandai oleh peningkatan suhu permukaan laut yang signifikan di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur, khususnya di sekitar garis khatulistiwa. Nama "El Niño" sendiri berasal dari bahasa Spanyol yang berarti "anak laki-laki" atau "Anak Kristus", merujuk pada kemunculan air laut hangat yang tidak biasa di sekitar waktu Natal, seperti yang diamati oleh para nelayan di Peru dan Ekuador berabad-abad lalu.
Perubahan iklim ini terjadi ketika angin pasat yang biasanya bertiup dari timur ke barat melemah atau bahkan berbalik arah, menyebabkan air hangat yang biasanya menumpuk di Pasifik barat bergerak kembali ke timur. Pergeseran ini mengakibatkan suhu permukaan laut di Pasifik timur dan tengah menjadi lebih hangat dari rata-rata, serta menekan naiknya air dingin yang kaya nutrisi. Dampak El Nino meluas secara global, mengubah pola cuaca dan curah hujan di berbagai belahan dunia, yang dapat menyebabkan kekeringan ekstrem, banjir, dan gelombang panas.
Fenomena El Nino memiliki dampak yang beragam dan signifikan terhadap kesehatan manusia di seluruh dunia, terutama di daerah tropis yang rentan seperti Asia Tenggara, Amerika Latin, dan Afrika. Interaksi kompleks antara peristiwa cuaca abnormal dengan faktor-faktor seperti populasi, kepadatan penduduk, status kesehatan, dan infrastruktur sanitasi dapat memperburuk krisis iklim yang sudah ada. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk memahami berbagai penyakit akibat musim El Nino yang berpotensi mengancam kesehatan.
Ancaman Penyakit Tular Vektor di Musim El Nino
Kondisi El Nino menciptakan lingkungan yang ideal bagi banyak penyakit menular untuk memperluas jangkauannya, terutama yang ditularkan oleh vektor seperti nyamuk. Peningkatan suhu global dan pergeseran curah hujan selama El Nino menghasilkan kondisi yang menguntungkan bagi kelangsungan hidup patogen dan vektor pembawa penyakit.
Salah satu penyakit yang sangat terpengaruh adalah malaria, di mana insidennya meningkat drastis selama peristiwa cuaca ekstrem yang berkorelasi dengan El Nino. Misalnya, kasus malaria pernah meningkat 36,5% di Venezuela setelah El Nino 2014-2016, serta peningkatan serupa juga tercatat di Kolombia, India, Pakistan, dan Peru. Demam Berdarah Dengue (DBD) juga mengalami peningkatan wabah di Kepulauan Pasifik dan Amerika Selatan, dengan El Nino menjadi salah satu faktor pendorongnya.
Penelitian menunjukkan hubungan antara peristiwa El Nino sebelumnya dan peningkatan penyakit yang ditularkan oleh nyamuk lainnya, seperti Chikungunya dan Zika. Kombinasi El Nino yang kuat dan perubahan iklim dapat menciptakan kondisi optimal untuk wabah virus Zika, seperti yang terjadi di Amerika Selatan pada 2015-2016. Selain itu, peningkatan curah hujan dan banjir di beberapa wilayah akibat El Nino juga dapat menciptakan kondisi ideal untuk perkembangbiakan nyamuk dan munculnya Demam Lembah Rift.
Risiko Penyakit Akibat Air Tercemar dan Kerawanan Pangan
El Nino dapat menyebabkan kekeringan parah atau curah hujan yang sangat tinggi, yang secara langsung mengarah pada bencana alam seperti banjir atau kekeringan. Kondisi ini memengaruhi pasokan air bersih dan sanitasi, sehingga meningkatkan risiko penyakit yang ditularkan melalui air.
Wabah kolera telah dikaitkan dengan perubahan cuaca yang disebabkan oleh El Nino, dengan peningkatan kasus yang signifikan di banyak negara Afrika Timur dan India Selatan serta Bangladesh selama El Nino 2015-2016. Bakteri Vibrio, yang berkembang biak di air laut hangat dan rendah salinitas, juga menunjukkan peningkatan kasus terkait El Nino, yang berpotensi memfasilitasi transportasi penyakit dari Asia ke Amerika. Leptospirosis, penyakit yang ditularkan oleh hewan pengerat, juga dikaitkan dengan banjir dan terjadi wabah selama fenomena El Nino Pesisir tahun 2017 di Peru utara. Penyakit lain yang umum terkait dengan pasokan air terkontaminasi dan banjir adalah demam tifus, shigellosis, dan hepatitis A dan E.
Selain itu, El Nino dapat menyebabkan kekeringan dan pola curah hujan yang tidak menentu, ditambah dengan suhu tinggi, yang secara langsung mengurangi hasil panen dan mengancam ketahanan pangan. Kenaikan harga pangan, berkurangnya peluang kerja di bidang pertanian, dan gangguan rantai pasokan berkontribusi pada malnutrisi dan kerawanan pangan. Hampir 1 juta anak di Afrika Timur dan Selatan menderita malnutrisi parah yang sebagian disebabkan oleh kondisi terkait El Nino.
El Nino dan Dampak pada Pernapasan, Stres Panas, serta Kesehatan Mental
Kondisi yang sangat panas dan kering akibat El Nino dapat menyebabkan gelombang panas, kebakaran hutan, peningkatan asap, dan kualitas udara yang memburuk. Hal ini secara langsung menyebabkan atau memperburuk penyakit pernapasan, seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), asma, bronkitis, dan pneumonia. Selama peristiwa El Nino 1997-1998 dan 2015-2016, kebakaran hutan di Indonesia dan Malaysia diperparah, menyebabkan masalah kualitas udara yang besar dan peningkatan dramatis kunjungan penyakit pernapasan di rumah sakit.
El Nino juga membuat gelombang panas lebih mungkin terjadi, dengan suhu global yang meningkat memperkuat potensi panas ekstrem di banyak wilayah. Paparan panas berlebihan dapat memengaruhi kesehatan banyak orang, terutama lansia, bayi, pekerja luar ruangan, dan mereka yang sakit kronis, serta dapat memicu kelelahan dan sengatan panas. Stres panas adalah penyebab utama kematian terkait cuaca dan dapat memperburuk penyakit yang mendasari seperti penyakit kardiovaskular, penyakit ginjal, dan diabetes.
Dampak El Nino juga meluas ke kesehatan mental. Perubahan iklim dan kondisi ekstrem dapat menyebabkan tekanan emosional, kecemasan, stres, dan depresi. Stres akut dan eksaserbasi kondisi kesehatan mental kemungkinan besar diakibatkan oleh berkurangnya mata pencarian, kerawanan pangan, pengungsian, dan berkurangnya akses ke layanan kesehatan selama periode El Nino. Meskipun El Nino adalah fenomena iklim alami, perubahan iklim yang sedang berlangsung memperparah dampaknya, menyebabkan periode kekeringan dan gelombang panas yang lebih ekstrem. Para ilmuwan khawatir bahwa fenomena El Nino akan menjadi lebih sering dan ekstrem karena perubahan iklim.