Kartini Era Kini: melalui Pendidikan hingga Pemberdayaan, Cinta Laura Hidupkan Emansipasi Wanita

hilya KamilaDiterbitkan 17 April 2026, 08:30 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, meski kita sudah hidup di era modern, perjuangan Ibu Kartini sebenarnya masih belum selesai. Perjuangan tersebut masih dilanjutkan hingga saat ini melalui emansipasi wanita. Salah satu publik figur perempuan yang mencerminkan semangat perjuangan Kartini era kini adalah Cinta Laura. Ia tidak hanya dikenal sebagai publik figur, tetapi juga aktif dalam berbagai aksi sosial, seperti bidang pendidikan dan pemberdayaan perempuan. 

Tumbuh dengan pendidikan yang membentuk pola pikir terbuka menjadi sebuah privilege tersendiri. Namun, Cinta Laura menyadari bahwa realitas yang dihadapi tak selalu berjalan seiring dengan nilai-nilai tersebut. Ada pula pengalaman personal, ketika ia sempat merasa perlu menyesuaikan diri, meredam potensi, bahkan seolah harus menjelaskan ambisinya agar bisa diterima. Dari titik itu, ia pun memahami satu hal penting. Jika perempuan dengan akses dan kesempatan seperti dirinya saja masih merasakan tekanan, bagaimana dengan mereka yang tidak memiliki privilege yang sama?

“Semangat Kartini hari ini bukan lagi hanya soal membuka akses, tapi memastikan kualitas dari akses tersebut benar-benar setara. Kita sudah melihat lebih banyak perempuan bisa bersekolah, bekerja, dan punya suara. Tapi apakah mereka punya ruang yang aman untuk berkembang tanpa harus mengorbankan jati diri mereka? Di era sekarang, biasnya lebih halus tapi gak kalah berat. Standar ganda, ekspektasi sosial, tekanan untuk selalu sempurna dan tetap rendah hati itu nyata. Jadi, melanjutkan semangat Kartini hari ini membangun lingkungan yang memungkinkan perempuan tumbuh secara utuh, bukan hanya diterima, tapi juga dihargai,” ujar Cinta Laura.

2 dari 3 halaman

Gerakan Emansipasi Wanita melalui Aksi Nyata

Cinta Laura mengupayakan agar semua perempuan Indonesia bisa mendapatkan akses pendidikan yang baik. (Foto/dok: Cinta Laura)

Dengan motivasinya yang kuat, Cinta Laura mengupayakan agar semua perempuan Indonesia bisa mendapatkan akses pendidikan yang baik. Dari situlah muncul dorongan bagi Cinta Laura, kesuksesan tidak hanya bersifat personal, tetapi juga tentang menciptakan lingkungan yang lebih adil bagi semua. Pada akhirnya, ia percaya bahwa dampak itu bukan sekadar menjadi selalu sempurna atau benar, melainkan tentang konsistensi untuk terus belajar, berbicara, dan bertindak.

Beragam aksi sosial yang dilakukan Cinta Laura menunjukkan bahwa semangat Kartini di era sekarang masih terus hidup dan memberi dampak nyata. Sebagai Duta Nasional UNICEF Indonesia, Cinta Laura seringkali mengikuti aksi sosial, seperti belajar bersama anak-anak kampung pemulung, go green, dan donor darah. Selain itu, dalam langkah kepeduliannya terhadap sesama, Cinta tak hanya aktif di Yayasan Soekarseno sebagai LSM milik keluarganya sejak 2006, tetapi juga menghadirkan inisiatif baru lewat “Cinta Laura Foundation,” sebuah gerakan yang berfokus pada pengembangan infrastruktur pendidikan di Indonesia. Lewat berbagai aksi nyata yang ia lakukan, Cinta Laura menunjukkan komitmennya untuk mendorong perubahan dan perbaikan pendidikan di Indonesia.

Perempuan yang pernah menjadi duta Anti Kekerasan Perempuan dan Anak tersebut juga memiliki concern dengan isu perempuan masa kini. Ia melihat bahwa ada perubahan nyata, perempuan masa kini mulai lebih berani untuk bersuara akan hak mereka. Selain itu, ia juga menjelaskan bahwa dampak yang paling penting tidak hanya empowerment, tetapi juga keberanian untuk menentukan versi hidup yang mereka inginkan. Cinta Laura percaya, emansipasi yang sesungguhnya adalah tentang kebebasan memilih jalan hidup, bukan tekanan untuk mengikuti standar baru yang ditentukan orang lain.

3 dari 3 halaman

Komitmen untuk Melanjutkan Perjuangan Kartini di Era Modern

Di tengah berbagai standar yang terus berdatangan, memahami diri sendiri jadi kunci agar kita tidak mudah terombang-ambing oleh ekspektasi sekitar. (Foto/dok: Cinta Laura)

Sederhananya, Cinta Laura ingin menyampaikan bahwa penting untuk memahami diri sendiri sebelum dunia membentuk definisi tentang siapa dirimu. Di tengah berbagai standar yang terus berdatangan, memahami diri sendiri jadi kunci agar kita tidak mudah terombang-ambing oleh ekspektasi sekitar. Apalagi, di Indonesia banyak perempuan tumbuh dengan identitas yang seolah-olah sudah ditentukan sejak awal. Tekanan ini datang dari berbagai arah, mulai dari keluarga, lingkungan, media sosial, bahkan sesama perempuan.

Tanpa disadari, rasa ragu yang muncul bukan karena kita tidak mampu, melainkan karena terlalu sibuk memenuhi ekspektasi orang lain hingga lupa mendengar suara hati sendiri. Padahal, kita tidak harus menjadi versi perempuan yang disetujui semua orang. Entah sedang berjuang membiayai pendidikan atau meniti karier di kota besar, setiap perempuan berhak menentukan jalannya sendiri. Lebih jauh lagi, Sahabat Fimela sudah saatnya menggeser cara pandang dari “harus bisa semuanya” menjadi “punya kebebasan untuk memilih.” 

Semangat yang dulu diperjuangkan Raden Ajeng Kartini adalah agar perempuan memiliki pilihan. Namun kini, pilihan itu justru sering berubah menjadi tekanan baru. Perempuan yang fokus berkarier dianggap mengabaikan keluarga, sementara yang memilih menjadi ibu rumah tangga kerap dinilai kurang produktif. Padahal, tidak semua perempuan yang menjalani banyak peran bukan karena ambisi, tetapi karena kebutuhan untuk bertahan hidup. “Jadi, melanjutkan perjuangan Kartini hari ini adalah tentang menciptakan ruang bagi semua perempuan, untuk berkembang tanpa rasa bersalah, tanpa rasa takut, dan tanpa harus kehilangan dirinya sendiri di tengah semua tuntutan masyarakat,” tutur Cinta Laura.