Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, belajar tidak selalu harus terasa kaku dan membosankan. Di tengah tantangan pemerataan pendidikan di Indonesia, pendekatan belajar yang seru dan menyenangkan justru dapat membantu anak-anak untuk berkembang secara optimal. Inilah yang coba dihadirkan oleh OREO melalui program “OREO Berbagi Seru”.
Menyambut Hari Pendidikan Nasional, OREO kembali menunjukkan komitmennya dalam dunia pendidikan dengan meluncurkan program “OREO Berbagi Seru”. Program ini menjadi bentuk dukungan terhadap visi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah Republik Indonesia yaitu “Pendidikan Bermutu untuk Semua”.
Bekerja sama dengan Indonesia Mengajar, program ini akan menjangkau 7.000 siswa di 7 provinsi, termasuk wilayah 3T dan daerah marginal. Fokusnya bukan hanya pada akses pendidikan, tetapi juga menghadirkan pengalaman belajar yang lebih menyenangkan melalui metode belajar sambil bermain.
Mengubah Cara Anak Belajar
Konsep utama dari program ini adalah “joyful learning” atau belajar dengan suasana yang menyenangkan. Pendekatan ini selaras dengan kurikulum nasional yang kini mengedepankan prinsip deep learning, pembelajaran yang meaningful, mindful, dan joyful.
Melalui program ini, OREO dan Indonesia Mengajar mengembangkan 15 alat pembelajaran interaktif yang mencakup bidang Literasi, Numerasi, Sains, dan Bahasa Inggris. Semua dirancang agar anak-anak tidak hanya menerima materi, tetapi juga aktif mengeksplorasi dan memahami konsep melalui pengalaman langsung.
Pendekatan ini juga sejalan dengan teori Jean Piaget yang menekankan bahwa anak belajar dengan membangun pengetahuan melalui interaksi dan eksplorasi, bukan sekadar menerima informasi.
Perspektif Psikolog: Pentingnya Keseimbangan Digital dan Aktivitas Nyata
Menurut Irma Gustiana A. selaku psikolog anak dan keluarga, pendekatan belajar yang menggabungkan unsur digital dan aktivitas nyata justru dapat memberikan pengalaman belajar yang lebih holistik bagi anak.
Ia menjelaskan bahwa anak-anak saat ini, khususnya generasi alfa, tumbuh dengan akses digital yang sangat kuat. Mereka cenderung menyukai hal yang cepat dan instan, namun di sisi lain juga memiliki rasa ingin tahu yang tinggi dan kemampuan berpikir kritis.
Karena itu, pembelajaran tidak bisa hanya bergantung pada layar. Anak tetap membutuhkan pengalaman nyata yang melibatkan motorik, seperti menyentuh, bergerak, dan bereksplorasi secara langsung. Aktivitas ini penting untuk mendukung perkembangan kognitif sekaligus motorik anak.
“Belajar secara digital tetap penting, tetapi perlu dilengkapi dengan pengalaman nyata agar perkembangan anak lebih optimal,” jelasnya.
Bermain Bukan Sekadar Hiburan
Sahabat Fimela, masih banyak orang tua yang menganggap bermain hanya sebagai aktivitas pengisi waktu. Padahal, menurut Irma, bermain justru merupakan bagian penting dari proses belajar anak.
Permainan, terutama yang bersifat fisik atau tradisional, mampu merangsang motorik kasar dan halus anak. Aktivitas seperti berlari, menyusun balok, atau bermain bersama teman dapat membantu memperkuat koordinasi tubuh sekaligus meningkatkan fokus dan kemampuan berpikir.
Sebaliknya, jika anak terlalu sering terpapar aktivitas pasif seperti penggunaan gadget berlebihan, perkembangan motoriknya bisa terhambat. Hal ini juga dapat berdampak pada kemampuan lain, seperti konsentrasi hingga keterampilan menulis.
Peran Orangtua dalam Mendukung Proses Belajar Anak
Selain metode belajar, peran orangtua juga menjadi kunci penting. Irma menekankan bahwa orang tua perlu memiliki kesadaran penuh dalam mendampingi anak, termasuk dalam mengatur rutinitas harian.
Anak tetap membutuhkan keseimbangan antara belajar, bermain, dan istirahat. Misalnya, setelah pulang sekolah, anak bisa diberi waktu untuk bermain terlebih dahulu sebelum mengerjakan tugas. Hal ini membantu otak anak untuk “recharge” sehingga lebih siap menerima pembelajaran.
Tak kalah penting, orang tua juga perlu membangun pola asuh yang penuh kasih, tetapi tetap tegas. Pendekatan yang ideal adalah pengasuhan demokratis, hangat, suportif, namun konsisten dengan aturan.
Karena pada akhirnya, rasa percaya diri anak juga sangat dipengaruhi oleh lingkungan terdekatnya. Dukungan yang positif akan membuat anak lebih berani mencoba dan berkembang.
Dorong Generasi SERU yang Future-Ready
Melalui “OREO Berbagi Seru”, anak-anak didorong menjadi Generasi SERU: Solutif, Eksploratif, Responsif, dan Unggul. Karakter ini dinilai penting untuk menghadapi dunia yang terus berubah dengan cepat.
Anak-anak masa kini tidak hanya membutuhkan kemampuan akademis, tetapi juga keterampilan berpikir kritis, kemampuan beradaptasi, serta kecerdasan sosial dan emosional. Karena itu, metode belajar yang interaktif dan menyenangkan menjadi semakin relevan.
Program ini juga menunjukkan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Kolaborasi antara pemerintah, organisasi, dan sektor swasta menjadi kunci untuk memperluas akses sekaligus meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia.
Melalui berbagai kegiatan seperti school roadshow, program ini tidak hanya menyasar siswa, tetapi juga melibatkan guru, orang tua, dan komunitas. Guru mendapatkan pelatihan, orang tua dibekali cara mendampingi anak, dan komunitas diajak menciptakan lingkungan belajar yang lebih suportif.