Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, liburan keluarga ke luar kota memang selalu jadi momen yang menyenangkan. Mulai dari menjelajahi tempat baru, mencoba aktivitas seru bersama anak, hingga menikmati quality time yang jarang didapatkan di tengah kesibukan sehari-hari. Namun, bagi sebagian orangtua, perjalanan liburan juga bisa menjadi tantangan tersendiri ketika si kecil termasuk anak yang picky eater atau pemilih soal makanan.
Tidak sedikit orangtua yang merasa cemas karena anak sulit makan selama perjalanan. Apalagi saat pilihan makanan terbatas, jadwal berubah, atau anak menolak mencoba menu baru di tempat wisata. Padahal, kondisi ini sebenarnya cukup umum terjadi, terutama karena anak berada di lingkungan yang berbeda dari rutinitas biasanya.
Agar liburan tetap terasa menyenangkan tanpa drama makan, ada beberapa hal yang bisa dilakukan orang tua untuk membantu anak tetap nyaman saat bepergian. Dilansir dari beberapa sumber termasuk parents.com, berikut ini adalah tips mengatasi anak picky eater yang bisa kamu coba saat pergi liburan keluarga.
1. Kenali Makanan Favorit Anak Sejak Awal
Sebelum berangkat, penting untuk mengetahui makanan apa saja yang menjadi safe food atau makanan yang biasanya selalu mau dimakan anak. Makanan ini bisa berupa camilan sederhana, roti, biskuit, nugget, buah tertentu, atau menu favorit lainnya.
Jika memungkinkan, bawalah beberapa stok makanan tersebut selama perjalanan. Selain itu, orangtua juga bisa mencari tahu lebih dulu tempat makan atau minimarket yang menyediakan makanan favorit anak di kota tujuan. Cara ini dapat membantu mengurangi rasa khawatir ketika anak mulai sulit makan selama liburan.
2. Jangan Terlalu Stres dengan Pola Makan Anak Selama Liburan
Saat bepergian, rutinitas anak biasanya berubah total. Jam makan bisa berantakan, anak jadi lebih sering ngemil, atau justru lebih memilih makan makanan ringan dibanding menu lengkap. Kondisi ini sebenarnya wajar terjadi selama masa liburan.
Sahabat Fimela tidak perlu terlalu memaksakan anak untuk makan sempurna seperti di rumah. Selama kebutuhan dasarnya tetap terpenuhi dan anak tidak kelaparan, liburan tetap bisa dinikmati dengan lebih santai. Sesekali makan es krim lebih sering atau memilih camilan favorit bukanlah masalah besar selama perjalanan singkat.
3. Tidak Perlu Memaksa Anak Mencoba Makanan Baru
Banyak orangtua berharap liburan bisa menjadi kesempatan agar anak mencoba berbagai makanan baru. Namun, untuk anak picky eater, kondisi di luar rutinitas justru bisa membuat mereka semakin mencari rasa aman lewat makanan yang familiar.
Meski begitu, orangtua tetap bisa mengenalkan makanan baru tanpa tekanan. Misalnya dengan menunjukkan bentuk makanan khas daerah tertentu, mengajak anak melihat proses memasak, atau membiarkan mereka mencium aroma makanan baru terlebih dahulu. Fokus utamanya adalah mengenalkan, bukan memaksa.
4. Lakukan Persiapan Sebelum Berangkat
Persiapan menjadi kunci penting saat traveling bersama anak picky eater. Orang tua sebaiknya mulai mencari tahu restoran di sekitar tempat menginap, melihat pilihan menu yang tersedia, hingga memastikan akses ke supermarket terdekat. Selain itu, menyiapkan bekal berisi makanan favorit anak juga bisa membantu mereka merasa lebih nyaman selama perjalanan.
Jika anak sudah cukup besar, ajak mereka berdiskusi mengenai pilihan makanan selama liburan. Cara ini dapat membuat anak merasa lebih tenang karena mengetahui apa yang akan mereka makan nantinya.
5. Pastikan Fasilitas Tempat Menginap Mendukung
Sebelum memesan penginapan, perhatikan fasilitas yang tersedia. Apakah ada dapur kecil? Apakah kamar hotel memiliki kulkas? Hal-hal sederhana seperti ini ternyata sangat membantu untuk menyimpan stok makanan anak atau menyiapkan makanan praktis sendiri.
Bagi anak picky eater, keberadaan makanan yang familiar sering kali membuat mereka lebih tenang selama bepergian. Karena itu, fasilitas penginapan juga penting dipertimbangkan sejak awal.
6. Komunikasikan Kondisi Anak kepada Keluarga atau Teman
Jika liburan dilakukan bersama keluarga besar atau teman, jangan ragu untuk memberi tahu kondisi anak sejak awal. Jelaskan bahwa anak memiliki preferensi makanan tertentu sehingga mungkin membawa makanan sendiri atau tidak selalu mau makan menu yang sama dengan orang lain.
Komunikasi sederhana seperti ini dapat membantu mengurangi rasa cemas orang tua sekaligus membuat orang lain lebih memahami situasi anak tanpa memberikan tekanan berlebihan.