Rahasia Pernikahan Langgeng, Abaikan Nasihat yang Tidak Perlu

Vinsensia DianawantiDiterbitkan 04 Juni 2026, 18:50 WIB

ringkasan

  • Pasangan yang bahagia dalam pernikahan jangka panjang sering mengabaikan nasihat konvensional dan menciptakan aturan hubungan mereka sendiri.
  • Mengelola konflik dengan bijak berarti memahami kapan perlu ruang untuk menenangkan diri, bukan selalu menyelesaikan masalah saat itu juga.
  • Hubungan yang langgeng menghargai batasan pribadi, menyeimbangkan dukungan impian, dan membiarkan romantisme berkembang secara alami tanpa paksaan.

Fimela.com, Jakarta - Pernikahan yang bahagia dan langgeng seringkali menjadi dambaan setiap pasangan. Namun, siapa sangka bahwa untuk mencapai kebahagiaan tersebut, terkadang kita perlu mengabaikan beberapa nasihat konvensional yang justru dianggap sebagai kunci keberhasilan hubungan? Menurut Bell, pasangan yang berhasil mempertahankan pernikahan bahagia selama puluhan tahun cenderung menciptakan aturan main mereka sendiri, menyesuaikan apa yang berhasil bagi mereka, dan mengabaikan yang tidak.

Mengelola Konflik dengan Bijak: Bukan Sekadar 'Jangan Tidur dalam Keadaan Marah'

Salah satu nasihat yang paling sering digaungkan adalah "Jangan Pernah Tidur dalam Keadaan Marah." Secara harfiah, nasihat ini menyiratkan pentingnya menyelesaikan konflik sesegera mungkin agar tidak berlarut-larut. Namun, realitanya, berbicara sampai tuntas dalam satu percakapan tidak selalu menjadi solusi terbaik. Terkadang, pasangan justru membutuhkan waktu dan ruang untuk menenangkan diri, mengumpulkan pikiran, atau bahkan menyadari kesalahan mereka. Ketika argumen memanas, percakapan produktif menjadi sulit. Mundur sejenak untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan diskusi seringkali lebih efektif untuk menjaga ketenangan dan menghindari pertengkaran yang lebih besar.

Senada dengan itu, nasihat "Komunikasikan Segala Hal" juga sering diabaikan. Meskipun mengomunikasikan kebutuhan itu esensial, tidak setiap gangguan kecil perlu dipermasalahkan. Lily Bell menjelaskan, "Masih ada perbedaan antara masalah dan gangguan. Beberapa pasangan merasa perlu untuk berkomunikasi setiap kali pasangan mereka melakukan sesuatu yang mengganggu mereka." Pasangan yang bahagia memahami kapan harus melepaskan hal-hal kecil dan kapan suatu masalah benar-benar serius. Mengkritik setiap tindakan pasangan dapat membuat mereka merasa dihakimi atau tidak memuaskan, padahal terkadang gangguan kecil bisa berasal dari faktor lain dalam hidup kita.t

 

2 dari 2 halaman

Menghargai Ruang dan Batasan Pribadi

Nasihat lain yang kerap dipertanyakan adalah "Perlakukan Pasangan Anda Sebagaimana Anda Ingin Diperlakukan." Konsep ini terdengar ideal, namun dalam hubungan jangka panjang, dinamika bisa berubah. "Tidak semua orang memperlakukan Anda dengan hormat. Jika seseorang tidak memperlakukan Anda dengan baik, Anda tidak harus menerima ini dan terus memperlakukan mereka dengan perhatian yang seharusnya mereka tunjukkan kepada Anda," kata Bell. Pasangan yang bahagia akan secara tegas menyampaikan jika mereka merasa diperlakukan kurang hormat, bukan berarti harus bertengkar, melainkan untuk mempertahankan rasa hormat pribadi dalam hubungan.

Begitu pula dengan anjuran "Luangkan Waktu untuk Satu Sama Lain." Pasangan yang langgeng memahami pentingnya menghormati kehidupan individu masing-masing. Memaksa pasangan untuk menghabiskan waktu bersama hanya akan membuat momen kebersamaan terasa seperti kewajiban. Sebaliknya, jika pasangan dapat mendengarkan dan memahami mengapa pasangannya membutuhkan waktu atau ruang, hal itu justru dapat membuat mereka merasa lebih didukung dan dihargai.

Kompromi dan Dukungan yang Realistis

Ketika konflik muncul, nasihat "Selalu Bersedia Berkompromi" seringkali menjadi solusi yang disarankan. Memang, kompromi dapat membantu setiap pasangan merasa puas dan memastikan tidak ada yang merasa marah atau tidak didengar. Namun, pasangan yang bahagia tahu kapan harus berkompromi dan kapan tidak. Ada batasan-batasan tertentu yang tidak dapat dinegosiasikan. Berkompromi pada masalah-masalah fundamental hanya akan meninggalkan rasa tidak puas. Penting untuk mengkomunikasikan hal-hal yang tidak ingin Anda kompromikan kepada pasangan.

Dukungan terhadap pasangan juga seringkali disalahartikan. Nasihat "Selalu Dukung Impian Satu Sama Lain" bisa menjadi masalah jika salah satu pihak merasa lebih banyak mendukung impian pasangan daripada sebaliknya. Bahkan, bisa menjadi bumerang jika Anda mengesampingkan impian pribadi demi mewujudkan impian pasangan. Pasangan yang bahagia justru mempertahankan gairah dan impian individu mereka, saling mendukung aspirasi sambil tetap mengejar tujuan masing-masing.

Romantisme yang Fleksibel

Terakhir, ekspektasi untuk "Selalu Romantis" juga sering diabaikan. Pasangan yang bahagia memahami bahwa romantisme tidak selalu harus ada setiap saat. "Penting untuk tidak memaksakan diri untuk menjadi romantis dengan pasangan Anda jika Anda tidak merasakannya pada waktu tertentu. Selain itu, pasangan tidak boleh menekan Anda untuk menjadi romantis sepanjang waktu," terang Bell. Mereka tahu bahwa meskipun aspek romantis dalam hubungan mungkin tidak selalu menonjol, hal itu bisa kembali hadir ketika keduanya berada dalam kondisi pikiran yang tepat dan alami.

Pada akhirnya, pelajaran terbesar dari pasangan yang berhasil mempertahankan pernikahan bahagia adalah bahwa tidak ada satu pun resep universal. Kunci utamanya adalah mengenal diri sendiri dan pasangan, serta berani menciptakan dinamika hubungan yang paling sesuai dan otentik bagi keduanya, terlepas dari apa kata nasihat umum.