Waspada Akan 5 Kebohongan yang Sering Menjebak Pasangan dalam Pernikahan Tidak Bahagia

Vinsensia DianawantiDiterbitkan 08 Juni 2026, 15:31 WIB

ringkasan

  • Banyak orang terjebak dalam pernikahan tidak bahagia karena meyakini kebohongan yang merugikan diri sendiri.
  • Salah satu kebohongan adalah keyakinan bahwa cinta cukup untuk mengubah pasangan, padahal perubahan harus datang dari diri sendiri.
  • Nostalgia masa lalu yang indah bisa menjebak, karena hubungan terus berkembang dan tidak bisa kembali ke titik awal.

Fimela.com, Jakarta - Pernikahan adalah sebuah perjalanan yang diharapkan penuh kebahagiaan, pengertian, dan dukungan timbal balik. Namun, realitasnya, tidak sedikit individu yang merasa terperangkap dalam hubungan yang tidak memuaskan, bahkan selama bertahun-tahun lamanya. Ironisnya, kondisi ini seringkali bukan disebabkan oleh ketiadaan pilihan untuk keluar, melainkan karena mereka tanpa sadar memegang teguh serangkaian kebohongan yang justru mengikat mereka pada ketidakbahagiaan.

Platform YourTango, yang dikenal fokus pada isu-isu hubungan, menyoroti lima kebohongan menyakitkan yang kerap kali menjadi perangkap bagi seseorang dalam pernikahan yang tidak bahagia. Memahami kebohongan-kebohongan ini adalah langkah awal untuk bisa melepaskan diri dari ilusi yang merugikan dan mencari jalan menuju kebahagiaan yang sesungguhnya.

What's On Fimela
2 dari 6 halaman

Harapan Palsu: Cinta Saja Tak Cukup Mengubah Pasangan

Ilustrasi pria yang sedang berbohong. Credit: freepik.com

Banyak orang percaya bahwa kekuatan cinta yang tulus mampu mengubah pasangan mereka. Mereka berpegang pada harapan bahwa dengan curahan kasih sayang dan dukungan yang tak terbatas, pasangan akan mengatasi masalah atau perilaku negatif yang ada. Padahal, perubahan sejati harus datang dari individu itu sendiri, bukan dipaksakan oleh pihak lain.

YourTango menjelaskan, "Ketika kita mencintai seseorang, kita ingin melihat yang terbaik dalam diri mereka." Namun, upaya untuk "memperbaiki" pasangan seringkali hanya berujung pada kekecewaan dan kelelahan emosional yang mendalam. "Bahkan jika orang kita menyebabkan kita sakit, kita ingin percaya bahwa mereka bukan orang yang mengerikan, bahwa mereka hanyalah orang yang rusak yang bisa diperbaiki," ungkap YourTango. "Dan, lebih sering daripada tidak, kita berusaha untuk memperbaiki mereka agar kita bisa menyelamatkan hubungan."

3 dari 6 halaman

Nostalgia yang Menjerat: Masa Lalu Tak Selalu Kembali

Pernikahan yang tidak bahagia seringkali diwarnai oleh kenangan akan masa-masa awal yang penuh gairah dan kebahagiaan. Banyak pasangan berharap keajaiban di awal pernikahan itu akan kembali, sehingga mereka terpaku pada nostalgia dan mengabaikan realitas pahit yang sedang terjadi. YourTango menegaskan, "Hal-hal akan kembali seperti semula di awal." Keyakinan ini adalah sebuah kebohongan.

Hubungan, layaknya kehidupan, terus berkembang dan berubah seiring waktu. Berharap untuk kembali ke masa lalu adalah bentuk penolakan terhadap kondisi saat ini, yang pada akhirnya menghambat pertumbuhan pribadi dan kemajuan hubungan. Nathan Timmel dari YourTango bahkan pernah menulis, "Jika Anda berpikir Anda akan melihat pasangan Anda 10 tahun kemudian dan merasakan hal yang sama seperti saat pertama kali Anda melihat mereka, Anda delusi."

4 dari 6 halaman

Menyalahkan Diri Sendiri: Perubahan Harus Datang dari Dalam

Dalam pernikahan yang tidak bahagia, tidak jarang individu menyalahkan diri sendiri atas masalah yang timbul. Mereka meyakini bahwa jika mereka mengubah diri, pasangan akan lebih bahagia, dan semua masalah akan lenyap. Namun, perubahan yang tidak otentik dan hanya dilakukan untuk menyenangkan orang lain tidak akan bertahan lama dan justru dapat memperburuk keadaan.

"Saya tidak bisa memberi tahu Anda berapa banyak orang yang saya latih yang percaya bahwa hubungan yang beracun adalah kesalahan mereka," kata YourTango. Perubahan yang dipaksakan atau tidak tulus justru akan terasa tidak asli. "Kecuali Anda ingin berubah untuk diri sendiri, setiap perubahan yang Anda buat akan tidak otentik, dan pasangan Anda akan tahu," tambah YourTango.

5 dari 6 halaman

Ketakutan Akan Kesendirian: Takut Tak Akan Ada Cinta Lagi

Salah satu alasan kuat yang membuat banyak orang bertahan dalam pernikahan yang tidak bahagia adalah ketakutan akan kesendirian dan keyakinan bahwa mereka tidak akan pernah menemukan cinta lagi. Mereka merasa bahwa hubungan yang sedang dijalani adalah satu-satunya kesempatan mereka untuk memiliki pasangan, seolah tidak ada pilihan lain.

Kebohongan ini, "Aku tidak akan pernah mencintai atau dicintai lagi," seringkali diperparah oleh rendahnya harga diri yang terkikis akibat hubungan yang tidak sehat. YourTango menjelaskan, "Minggu, bulan, atau tahun bersama seseorang yang merendahkan mereka, mengabaikan mereka, memperlakukan mereka dengan penghinaan, berselingkuh, atau meremehkan mereka dapat menyebabkan bahkan orang terkuat sekalipun kehilangan harga diri mereka." Akibatnya, mereka mulai percaya bahwa hubungan beracun seperti itulah yang pantas mereka dapatkan.

6 dari 6 halaman

Merasa Tidak Layak: Ini yang Kamu Pantas Dapatkan?

Kebohongan yang paling menyakitkan adalah ketika seseorang mulai percaya bahwa mereka memang tidak pantas mendapatkan kebahagiaan atau cinta yang lebih baik. Hubungan yang buruk secara perlahan dapat mengikis harga diri, membuat mereka merasa tidak berharga dan tidak layak untuk diperlakukan dengan baik.

YourTango mengamati, "Sayangnya, orang-orang yang berada dalam hubungan yang buruk bagi mereka seringkali merasa sangat buruk tentang diri mereka sendiri." Keyakinan ini merupakan jebakan berbahaya yang menghalangi mereka untuk mencari kebahagiaan yang sebenarnya pantas mereka dapatkan. "Tidak ada seorang pun yang pantas diperlakukan dengan buruk dalam suatu hubungan," tegas YourTango. "Kita semua adalah manusia di dunia yang pantas bahagia dan pantas dicintai dan diperhatikan."

Mengidentifikasi dan menolak kebohongan-kebohongan ini adalah langkah krusial untuk bisa keluar dari lingkaran pernikahan yang tidak bahagia. Setiap individu berhak mendapatkan cinta, rasa hormat, dan kebahagiaan sejati dalam hubungan mereka, serta membangun kembali harga diri yang mungkin telah terkikis.