Kenali trategi Pembagian Pekerjaan Rumah Tangga yang Seimbang

Adinda Tri WardhaniDiterbitkan 11 Juni 2026, 13:12 WIB

ringkasan

  • Pekerjaan orang tua di rumah memiliki nilai ekonomi signifikan, setara ribuan dolar per bulan jika dialihdayakan.
  • Komunikasi terbuka dan penetapan ekspektasi realistis adalah kunci untuk menghindari konflik dan memastikan apresiasi.
  • Pembagian tugas yang adil dapat dicapai melalui sistem seperti 'Fair Play', memanfaatkan kekuatan masing-masing, dan melibatkan anak-anak.

Fimela.com, Jakarta - Ketika salah satu orangtua memilih untuk tinggal di rumah, dinamika pembagian pekerjaan rumah tangga seringkali menjadi perhatian utama. Untuk menciptakan lingkungan keluarga yang harmonis dan memastikan kedua belah pihak merasa dihargai serta didukung, diperlukan komunikasi yang jelas, ekspektasi yang realistis, dan pembagian tugas yang adil. Pendekatan ini krusial agar beban tidak hanya tertumpu pada satu individu, tetapi menjadi tanggung jawab bersama.

Peran orangtua yang tinggal di rumah, entah itu ibu atau ayah, memiliki nilai yang seringkali tidak terlihat namun sangat signifikan. Menyeimbangkan pekerjaan rumah tangga dalam kondisi ini adalah kunci untuk menjaga keutuhan dan kebahagiaan keluarga.

Pekerjaan yang dilakukan oleh orangtua yang tinggal di rumah memiliki nilai ekonomi yang substansial, meskipun tidak selalu dihitung dalam bentuk gaji. Sebuah studi pada tahun 2024 mengungkapkan bahwa orang tua yang tinggal di rumah dengan dua anak di Amerika Serikat menghabiskan sekitar 200 jam setiap bulan untuk berbagai tugas. Ini mencakup membersihkan, berbelanja, memasak, mengasuh anak, dan berbagai pekerjaan rumah tangga lainnya. 

Kontribusi orangtua yang tinggal di rumah sangat beragam, meliputi pengasuhan anak, memasak, membersihkan, berbelanja kebutuhan sehari-hari, transportasi, memberikan dukungan emosional, membantu bimbingan belajar anak, hingga mengelola tugas-tugas administratif keluarga.

2 dari 4 halaman

Pentingnya Komunikasi Terbuka dan Ekspektasi Realistis

Komunikasi merupakan fondasi utama dalam setiap hubungan, dan hal ini menjadi semakin vital ketika salah satu pasangan adalah orangtua yang tinggal di rumah. Penting untuk secara terbuka dan jujur membicarakan ekspektasi, kebutuhan, dan kekhawatiran masing-masing. [Dok/freepik.com]

Komunikasi merupakan fondasi utama dalam setiap hubungan, dan hal ini menjadi semakin vital ketika salah satu pasangan adalah orangtua yang tinggal di rumah. Penting untuk secara terbuka dan jujur membicarakan ekspektasi, kebutuhan, dan kekhawatiran masing-masing.

“Komunikasi adalah kunci dalam setiap hubungan, dan sangat penting ketika salah satu pasangan adalah ibu rumah tangga yang hampir tidak punya waktu untuk berkomunikasi,” demikian disampaikan oleh Marriage.com.

Selain itu, menetapkan ekspektasi yang realistis bagi orangtua di rumah juga tidak kalah penting. Meskipun mungkin ada keinginan untuk memiliki rumah yang selalu bersih sempurna dan anak-anak yang selalu berperilaku baik, ekspektasi tersebut harus mempertimbangkan realitas dan tantangan menjadi orangtua yang sepenuhnya mengurus rumah dan anak. “Penting untuk menetapkan ekspektasi yang realistis untuk ibu rumah tangga. Meskipun mungkin menggoda untuk mengharapkan rumah yang bersih sempurna dan anak-anak yang berperilaku baik, tetapkan ekspektasi realistis yang mempertimbangkan realitas menjadi ibu rumah tangga,” menurut Marriage.com.

Menunjukkan penghargaan atas kontribusi orangtua di rumah juga sangat berarti. Ini adalah cara untuk mengakui pengorbanan yang mereka lakukan dalam merawat anak-anak dan mengelola rumah. “Tunjukkan padanya bahwa Anda menghargai kontribusinya kepada keluarga dan bahwa Anda mengakui pengorbanan yang dia lakukan untuk merawat anak-anak dan rumah Anda,” saran Marriage.com.

3 dari 4 halaman

Menerapkan Pembagian Tugas yang Adil dan Efektif

Untuk mencapai keseimbangan yang adil dalam pekerjaan rumah tangga, berbagai strategi dapat diterapkan. Salah satunya adalah Sistem "Fair Play", sebuah pendekatan inovatif yang bertujuan menyeimbangkan kembali pekerjaan domestik dan tanggung jawab pengasuhan anak di antara pasangan. Sistem ini menggunakan kartu yang masing-masing mewakili tugas atau tanggung jawab, mulai dari pengasuhan anak hingga manajemen keuangan, yang kemudian didistribusikan sesuai preferensi, kemampuan, dan batasan waktu masing-masing pasangan. “Sistem Fair Play adalah pendekatan revolusioner yang dirancang untuk menyeimbangkan kembali pekerjaan domestik dan tanggung jawab pengasuhan antara pasangan, memupuk pernikahan. Fair Play menekankan tanggung jawab dan nilai-nilai bersama, bukan hanya membagi tugas secara merata,” jelas Marriage.com.

Selain itu, penting untuk "bermain sesuai kekuatan" masing-masing. Lakukan tugas-tugas yang paling Anda kuasai atau yang tidak terlalu Anda keberatan untuk mengerjakannya. Sebagai contoh, jika salah satu pasangan lebih toleran terhadap percikan air saat memandikan anak, ia dapat mengambil alih tugas tersebut sementara yang lain fokus membersihkan dapur. “Jika ini malam mandi di rumah kami, saya hampir selalu yang melakukannya. Saya memiliki toleransi yang lebih tinggi terhadap percikan air dan mengulang seribu kali ‘tolong jangan tumpahkan air dari bak mandi’ daripada suami saya,” ungkap ParentCo.

Dalam pembagian tugas, hindari kebiasaan "mencatat skor" atau mencoba membuat setiap hari atau setiap tugas sama persis. Pendekatan ini justru dapat menimbulkan rasa pahit dan pertengkaran. Fokuslah pada sistem "bagi dan taklukkan" yang fleksibel. “Jangan mencatat skor. Mencoba membuat setiap hari atau setiap tugas sama persis akan mengakibatkan kepahitan dan pertengkaran,” ParentCo mengingatkan. Melibatkan anak-anak juga merupakan langkah cerdas. Biasakan untuk menyebarkan pekerjaan kepada mereka ketika sudah cukup besar. Orang tua yang tinggal di rumah tidak harus melakukan semuanya sendiri. “Biasakan untuk menyebarkan pekerjaan, termasuk kepada anak-anak Anda ketika mereka sudah cukup besar. Ibu rumah tangga tidak harus menjadi orang yang melakukan segalanya,” saran ParentCo.

Memanfaatkan teknologi, seperti kalender digital bersama atau aplikasi tugas, dapat membantu membagi tugas rumah tangga dan pengasuhan anak secara visual, sehingga setiap orang tahu siapa yang bertanggung jawab atas apa setiap hari. Ketika orang tua yang bekerja pulang, tanggung jawab pengasuhan anak dan pekerjaan rumah tangga harus kembali menjadi tanggung jawab bersama. “Di rumah kami, orangtua yang tinggal di rumah melakukan lebih banyak di siang hari, tetapi begitu orangtua yang bekerja pulang, pengasuhan dan tugas-tugas menjadi tanggung jawab bersama lagi,” sebuah komentar di Reddit menyatakan. Memiliki rutinitas juga sangat membantu dalam menjaga keseimbangan antara pekerjaan rumah tangga dan pengasuhan anak. Ini bisa berarti menetapkan waktu khusus untuk tugas tertentu atau mengikuti alur kerja yang fleksibel. 

4 dari 4 halaman

Menjaga Kesejahteraan Mental dan Fisik Seluruh Anggota Keluarga

Mencegah kelelahan adalah aspek krusial dalam menjaga keseimbangan ini. Orangtua yang bekerja harus mendukung orangtua yang tinggal di rumah untuk menjadwalkan istirahat yang cukup. Ini bisa berupa satu malam dalam seminggu untuk bersantai atau waktu luang di siang hari. “Mencegah kelelahan adalah tema umum, dengan banyak orang menyarankan wanita itu untuk membantu suaminya menjadwalkan istirahat agar dia tidak bertugas mengurus bayi 24/7,” demikian laporan Care.com.

Penting juga untuk mengakui bahwa akan ada hari-hari yang baik dan hari-hari yang buruk. Terkadang rumah mungkin berantakan atau makan malam hanya berupa makanan cepat saji, dan itu adalah hal yang wajar. “Yang lain menyarankan calon ibu untuk membiarkan pasangan ibu rumah tangganya mengatur jadwalnya dengan cara apa pun yang cocok untuknya, dan untuk mengenali serta menghormati bahwa beberapa hari akan lebih sulit daripada yang lain,” tambah Care.com.

Investasi pada barang-barang yang dapat mempermudah hidup orangtua di rumah juga patut dipertimbangkan. Contohnya, headphone Bluetooth untuk mendengarkan musik atau podcast saat bayi tidur, atau gendongan bayi yang nyaman. “Tips lain termasuk memberikan orang tua di rumah sepasang headphone Bluetooth yang bagus agar mereka dapat mendengarkan musik atau podcast saat bayi tidur dan berinvestasi pada gendongan, selendang, dan penggendong bayi,” sebut Care.com. Terakhir, orang tua yang bekerja juga harus memprioritaskan kesehatan mental mereka sendiri. Merawat diri sendiri memungkinkan mereka untuk memberikan yang terbaik bagi keluarga dan pekerjaan. “DAHULUKAN KESEHATAN MENTAL ANDA SENDIRI. Seperti pepatah terkenal, Anda tidak bisa minum dari cangkir yang kosong. Apa yang baik untuk Anda, baik pula untuk keluarga Anda – memenuhi kebutuhan emosional Anda sendiri bukanlah tindakan egois, melainkan penting,” Anna Hardy Photography menekankan.