Penyesalan Terbesar Wanita, Hampir Setengahnya Merasa Kehilangan Setelah Melepaskan Seseorang

Vinsensia DianawantiDiterbitkan 14 Juni 2026, 21:49 WIB

ringkasan

  • Hampir 50% wanita memiliki penyesalan hidup terbesar yang sama: 'the one that got away' atau 'orang yang terlepas'.
  • Penyesalan romantis lebih dominan di kalangan wanita (44%) dibandingkan pria (19%), dan lebih kuat bagi mereka yang tidak bertindak untuk mempertahankan hubungan.
  • Penyesalan yang lebih lama berpusat pada peluang yang hilang, sedangkan penyesalan baru berfokus pada tindakan yang ingin ditarik kembali, namun secara umum penyesalan adalah emosi yang membantu.

Fimela.com, Jakarta - Bagi sebagian besar orang, penyesalan adalah bagian tak terpisahkan dari perjalanan hidup. Namun, sebuah penelitian terbaru menyoroti satu jenis penyesalan yang sangat dominan, terutama di kalangan wanita. Hampir setengah dari kaum hawa ternyata memiliki penyesalan hidup terbesar yang sama: 'orang yang terlepas' atau 'the one that got away'. Fenomena ini menunjukkan betapa signifikan dampak penyesalan romantis dalam kehidupan perempuan.

Pengalaman akan 'orang yang terlepas', koneksi yang terlewatkan, atau hampir-cinta yang tak terwujud, adalah hal yang umum. Sebuah sumber menyatakan, "Yang lolos begitu saja. Kesempatan yang terlewatkan. Hubungan yang hampir terjalin. Jika Anda pernah mengalami penyesalan romantis, Anda tidak sendirian." Ini menandakan bahwa banyak individu, khususnya wanita, merasakan beban emosional dari hubungan yang tidak berhasil dipertahankan.

Mengungkap Penyesalan Romantis yang Mendalam

Pada tahun 2011, sebuah studi komprehensif dilakukan oleh para peneliti dari Northwestern University dan University of Illinois di Urbana-Champaign. Penelitian ini melibatkan survei terhadap 370 orang dewasa Amerika, dengan rentang usia yang sangat luas, yaitu dari 19 hingga 103 tahun. Mereka diminta untuk mengungkapkan penyesalan terbesar dalam hidup mereka. Hasilnya cukup mengejutkan, menunjukkan bahwa hampir 50% wanita berbagi penyesalan yang sama.

Penyesalan yang berkaitan dengan hubungan menempati peringkat tertinggi dalam survei ini, dan dampaknya terasa lebih kuat di kalangan wanita. Hampir separuh dari semua wanita yang disurvei, tepatnya 44 persen, mengungkapkan penyesalan romantis. Angka ini sangat kontras dengan pria, di mana hanya 19 persen yang menyatakan penyesalan serupa.

Studi ini juga menemukan bahwa pria dan wanita yang masih lajang cenderung lebih sering merenungkan patah hati di masa lalu mereka. Perenungan ini lebih intens dibandingkan dengan mereka yang telah menjalin hubungan baru yang berkomitmen. Hal ini mengindikasikan bahwa status hubungan saat ini dapat memengaruhi bagaimana seseorang memandang penyesalan masa lalu.

 

What's On Fimela
2 dari 2 halaman

Dilema 'The One That Got Away': Bertindak atau Tidak Bertindak?

Dr. Neal J. Roese, seorang psikolog dan profesor di Kellogg School of Management di Northwestern University, yang turut memimpin penelitian ini, memberikan wawasan lebih lanjut. Ia menjelaskan bahwa individu yang membicarakan tentang cinta yang hilang sering kali berfokus pada topik klasik: 'orang yang terlepas'.

"Orang-orang menyebutkan romansa sekolah menengah dan orang-orang yang terlepas dari mereka," kata Dr. Roese. Menariknya, responden dalam survei ini terbagi rata antara penyesalan atas situasi di mana mereka mengambil tindakan dan penyesalan atas skenario di mana mereka gagal bertindak.

Namun, ada perbedaan signifikan dalam intensitas penyesalan. Penyesalan terkait hubungan ternyata lebih kuat bagi mereka yang tidak mengejar 'orang yang terlepas'. Individu yang merasa menyesal karena tidak berusaha lebih keras untuk menyelamatkan cinta yang hilang cenderung menyimpan penyesalan itu jauh lebih lama dibandingkan dengan mereka yang menyesali tindakan yang telah diambil.

Kekuatan Penyesalan dan Pelajaran dari Peluang yang Hilang

Dr. Roese juga membedakan jenis penyesalan berdasarkan durasi waktu. Ia menjelaskan, "Penyesalan yang lebih lama cenderung berfokus pada peluang yang hilang — hal-hal yang seharusnya bisa Anda lakukan atau seharusnya Anda lakukan secara berbeda." Sementara itu, "penyesalan yang lebih baru cenderung berfokus pada hal-hal yang Anda lakukan yang Anda harap bisa Anda tarik kembali."

Meskipun penyesalan seringkali terasa tidak menyenangkan dan membebani, Dr. Roese menekankan bahwa secara rata-rata, emosi ini memiliki fungsi positif. "Regret feels bad, but, on average, it's a helpful emotion," ujarnya. Ini berarti, meskipun menyakitkan, penyesalan dapat menjadi pendorong untuk belajar dari kesalahan dan membuat pilihan yang lebih baik di masa depan.