Fimela.com, Jakarta - Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengingatkan pentingnya orangtua memantau tumbuh kembang anak secara rutin melalui kurva pertumbuhan. Pemantauan ini dinilai menjadi langkah sederhana namun sangat penting untuk mendeteksi lebih dini berbagai gangguan pertumbuhan, mulai dari gizi kurang, stunting, hingga risiko obesitas sehingga penanganan dapat dilakukan sebelum kondisinya semakin berat.
Ketua Pengurus Pusat IDAI, Dr. Piprim Basarah Yanuarso Sp.A., Subsp.Kardio(K), mengatakan tumbuh dan berkembang merupakan dua karakteristik utama pada anak. Pertumbuhan ditandai dengan bertambahnya berat badan dan tinggi badan, sedangkan perkembangan berkaitan dengan semakin matangnya fungsi tubuh serta kemampuan anak.
"Melalui kurva pertumbuhan dan perkembangan, orang tua dapat mengetahui apakah anak masih berada pada jalur pertumbuhan yang sesuai atau sudah mengalami penyimpangan. Jika ditemukan adanya deviasi, intervensi dapat dilakukan lebih dini agar anak dapat kembali mencapai potensi genetiknya," ujar Piprim dalam Seminar Media IDAI bertajuk "Cara Memantau Tumbuh Kembang Anak Melalui Kurva", Selasa (4/8).
Menurutnya, Indonesia kini juga telah memiliki kurva pertumbuhan nasional yang dapat digunakan untuk membantu pemantauan pertumbuhan anak. Namun yang terpenting, orangtua tidak hanya melihat hasil pengukuran satu kali, melainkan memantau perubahan kurva secara berkala sehingga apabila ditemukan penyimpangan, anak dapat segera dibawa ke dokter anak untuk mendapatkan pemeriksaan lebih lanjut.
Mengapa Kurva Pertumbuhan Penting bagi Anak?
Anggota Unit Kerja Koordinasi (UKK) Tumbuh Kembang dan Pediatri Sosial IDAI, dr. I Gusti Ayu Trisna Windiani, menjelaskan bahwa masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan periode emas yang menentukan kualitas tumbuh kembang anak. Pada masa ini perkembangan otak berlangsung sangat pesat sehingga pemantauan pertumbuhan harus dilakukan secara konsisten.
Menurut Trisna, pemantauan pertumbuhan merupakan proses berkelanjutan yang dilakukan dengan mengukur berat badan, panjang atau tinggi badan, serta lingkar kepala anak. Hasil pengukuran tersebut kemudian diplot ke dalam kurva pertumbuhan untuk melihat status gizi sekaligus tren pertumbuhan dari waktu ke waktu.
Ia menjelaskan bahwa penggunaan kurva pertumbuhan WHO dipilih karena disusun berdasarkan anak-anak sehat dari berbagai negara yang tumbuh dalam kondisi optimal, termasuk mendapatkan ASI sesuai rekomendasi. Dengan demikian, kurva tersebut menunjukkan bagaimana seorang anak seharusnya tumbuh, bukan sekadar menggambarkan kondisi pertumbuhan pada populasi tertentu.
"Pemantauan bukan hanya melihat satu kali hasil pengukuran, tetapi melihat kecenderungan pertumbuhan anak dari waktu ke waktu. Dari situlah dapat diketahui apakah pertumbuhannya normal, berisiko, atau sudah mengalami gangguan sehingga membutuhkan intervensi," jelasnya.
Cara Membaca Kurva Pertumbuhan dan Kapan Orangtua Perlu Waspada
Trisna menambahkan, terdapat tiga tahapan penting dalam pemantauan pertumbuhan, yakni melakukan pengukuran dengan benar, memplot hasil pengukuran pada kurva pertumbuhan, kemudian menginterpretasikan hasilnya. Pengukuran meliputi berat badan, panjang atau tinggi badan, serta lingkar kepala sesuai usia anak.
Menurutnya, interpretasi kurva tidak cukup dilakukan dengan melihat posisi titik hasil pengukuran. Orangtua maupun tenaga kesehatan juga perlu memperhatikan arah garis pertumbuhan. Apabila grafik cenderung mendatar, menurun, atau memotong garis z-score ke bawah, kondisi tersebut dapat menjadi sinyal awal adanya gangguan pertumbuhan yang memerlukan evaluasi lebih lanjut.
IDAI berharap pemanfaatan Buku Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) dapat semakin dioptimalkan sebagai alat pemantauan tumbuh kembang. Dengan melakukan pencatatan secara rutin, orang tua dapat mengenali perubahan pertumbuhan anak lebih awal sehingga penanganan, baik berupa perbaikan gizi, stimulasi, maupun rujukan ke fasilitas kesehatan, dapat segera dilakukan sebelum menimbulkan dampangka panjang.