Fimela.com, Jakarta - Gaji CEO perempuan terus mencatat momentum positif. Pada 2025, median gaji CEO perempuan di S&P 500 mencapai $18,5 juta (sekitar Rp296 miliar), melampaui rekan pria. Tren ini menandai pergeseran penting dalam lanskap kompensasi eksekutif sekaligus menempatkan isu kesetaraan gender di pucuk pimpinan perusahaan kembali di pusat perhatian.
Di balik kenaikan ini, struktur kompensasi untuk CEO perempuan kerap lebih bertumpu pada insentif berbasis kinerja dibanding gaji tetap. Dinamika tersebut menggarisbawahi bahwa preferensi risiko tidak semata-mata terkait gender, melainkan dipengaruhi tata kelola dan konteks korporasi. Dorongan keragaman kepemimpinan pascakrisis juga ikut menguatkan posisi CEO perempuan sebagai aset strategis.
Sementara itu, tantangan terbesar dinilai bukan hanya soal besaran gaji, melainkan kesempatan menuju kursi puncak. "Memastikan lebih banyak perempuan mencapai level CEO," ujar Andrew Jones, peneliti utama di The Conference Board Governance & Sustainability Center.
Median Gaji CEO Perempuan Menyalip Pria
Pada 2025, median gaji CEO perempuan di S&P 500 tercatat $18,5 juta (sekitar Rp296 miliar). Angka tersebut 11% lebih tinggi dibandingkan median gaji CEO laki-laki pada periode yang sama, menandai titik balik penting dalam Gaji CEO di level korporasi tertinggi.
Perbaikan ini bukan lonjakan sesaat. Pada 2023, paket gaji median CEO perempuan meningkat 21% menjadi $17,6 juta (sekitar Rp281,6 miliar). Kenaikan itu melampaui pertumbuhan 12% yang dialami CEO laki-laki di tahun sama, dengan median $16,3 juta (sekitar Rp260,8 miliar).
Di banyak perusahaan, porsi insentif kinerja dalam paket kompensasi CEO perempuan cenderung lebih dominan ketimbang gaji pokok. Catatan ini memperlihatkan bahwa risiko dan imbalan yang dihadapi para pemimpin perempuan banyak dipengaruhi desain kompensasi serta tata kelola. Permintaan pasar akan keragaman pascakrisis turut memosisikan CEO perempuan sebagai talenta bernilai tinggi.
Di Puncak Tertinggi, Kesenjangan Masih Lebar
Kendati median gaji CEO perempuan sudah menyalip pria, jurang di level bayaran tertinggi masih menganga. Pada 2023, CEO Broadcom Hock Tan meraih $161,8 juta (sekitar Rp2,59 triliun), jauh di atas Lisa Su dari Advanced Micro Devices sebagai CEO perempuan dengan bayaran tertinggi sebesar $30,3 juta (sekitar Rp484,8 miliar).
Dari sisi jumlah, representasi perempuan di kursi CEO juga belum besar. Pada 2024, hanya 25 dari 341 CEO yang disurvei merupakan perempuan—tertinggi sejak survei dimulai pada 2011, namun tetap menunjukkan basis yang terbatas.
Data 2025 menguatkan potret tersebut: perempuan baru menduduki 7% posisi CEO di S&P 500 dan 6% di Russell 3000. Selain akses yang sempit, fenomena "glass cliff" atau tebing kaca masih membayangi.
Dalam situasi tebing kaca, perempuan lebih sering ditunjuk memimpin saat perusahaan menghadapi krisis atau tekanan berat. Penugasan di momen sulit membuat risiko kegagalan meningkat, sehingga jalur karier ke puncak kerap disertai tantangan yang tidak proporsional.
Dampak pada Kinerja dan Dinamika Organisasi
Berbagai studi mengaitkan kehadiran pemimpin perempuan dengan performa bisnis yang lebih kuat. "Perusahaan dengan lebih banyak perempuan di posisi eksekutif cenderung mengungguli rekan-rekan mereka dalam hal profitabilitas, pangsa pasar, dan pengembalian pemegang saham secara keseluruhan," demikian laporan dari National Girls Collaborative Project.
Penelitian bank Finlandia, Nordea, terhadap 11.000 perusahaan menemukan bahwa entitas yang dipimpin CEO perempuan atau memiliki ketua dewan perempuan mencatatkan pengembalian tahunan 25% selama delapan tahun. Kinerja tersebut lebih tinggi dibandingkan 11% yang dicapai indeks perusahaan global yang lebih luas.
Riset lain juga menyoroti performa perusahaan yang dipimpin perempuan di daftar Fortune 1000—menghasilkan pengembalian 226% lebih tinggi dibandingkan S&P 500 pada periode 2002–2014. Pola ini menambah bukti korelasi positif antara keragaman gender di eksekutif dan kinerja finansial.
Dari sisi organisasi, CEO perempuan tercatat memiliki kecenderungan 50% lebih besar untuk menunjuk Chief Financial Officer (CFO) perempuan dan 55% lebih mungkin memiliki perempuan yang memimpin unit bisnis. Dinamika ini berkontribusi pada rantai pasokan talenta yang lebih beragam di jajaran pimpinan.
Sektor teknologi, keuangan, perawatan kesehatan, pertahanan, dan energi menjadi ranah dengan banyak CEO perempuan berbayar tertinggi. Pada 2025, sektor teknologi informasi mencatat median Gaji CEO tertinggi, sementara keuangan dan layanan kesehatan mengalami peningkatan kompensasi paling besar.
Peta Global dan 10 CEO Perempuan Berbayar Tertinggi 2025
Di kancah internasional, Selandia Baru menonjol dengan rata-rata gaji CEO perempuan $5,9 juta (sekitar Rp94,4 miliar), lebih dari dua kali lipat rekan pria yang rata-rata $2,6 juta (sekitar Rp41,6 miliar). Sebaliknya, negara-negara seperti Swiss, Belanda, dan Jerman mencatat kurang dari 5% CEO perempuan. Korea Selatan juga menunjukkan pola unik: CEO perempuan berpenghasilan lebih tinggi daripada pria, meski representasi mereka masih rendah.
Berikut daftar 10 CEO perempuan dengan total kompensasi tertinggi di 2025. Angka mencakup gaji, bonus, tunjangan, serta penghargaan saham atau opsi sesuai data yang tersedia.
-
Jane Fraser (Citigroup)
Total Kompensasi: $95,76 juta (sekitar Rp1,53 triliun)
-
Lisa Su (Advanced Micro Devices - AMD)
Total Kompensasi: $55,16 juta (sekitar Rp882,56 miliar)
-
Mary Barra (General Motors)
Total Kompensasi: $29,90 juta (sekitar Rp478,4 miliar)
-
Phebe Novakovic (General Dynamics)
Total Kompensasi: $25,92 juta (sekitar Rp414,72 miliar)
-
Adena Friedman (Nasdaq)
Total Kompensasi: $25,01 juta (sekitar Rp400,16 miliar)
-
Kathy Warden (Northrop Grumman)
Total Kompensasi: $24,09 juta (sekitar Rp385,44 miliar)
-
Stephanie Ferris (Fidelity National Information Services)
Total Kompensasi: $22,93 juta (sekitar Rp366,88 miliar)
-
Carol Tomé (UPS)
Total Kompensasi: $22,88 juta (sekitar Rp366,08 miliar)
-
Gail Boudreaux (Elevance Health)
Total Kompensasi: $22,58 juta (sekitar Rp361,28 miliar)
-
Reshma Kewalramani (Vertex Pharmaceuticals)
Total Kompensasi: $21,14 juta (sekitar Rp338,24 miliar)