Fimela.com, Jakarta - Pernah merasa malas membuka aplikasi mobile banking karena takut melihat saldo? Atau sengaja menunda mengecek tagihan karena rasanya lebih nyaman kalau tidak tahu jumlahnya? Kalau iya, kebiasaan tersebut bisa menjadi salah satu bentuk money avoidance, yaitu kecenderungan untuk menghindari berbagai hal yang berkaitan dengan kondisi keuangan atau masalah keuangan yang sedang dihadapi.
Dilansir dari Simply Psychology, money avoidance dapat terlihat dari kebiasaan tidak mengecek rekening, menunda membayar tagihan, menghindari pembicaraan soal uang, hingga terus menunda membuat anggaran. Perilaku ini sering berkaitan dengan rasa cemas, malu, takut, atau kewalahan ketika harus berhadapan dengan kondisi finansial.
Menariknya, menghindari uang sering kali memang terasa seperti solusi. Saat belum melihat saldo, misalnya, kita tidak perlu langsung berhadapan dengan rasa khawatir. Begitu pula ketika tagihan dibiarkan belum dibuka, ada perasaan lega karena masalah tersebut seolah belum benar-benar terjadi.
Padahal, masalah keuangan tidak ikut menghilang hanya karena kita berhenti melihatnya. Justru, semakin lama dihindari, semakin banyak hal yang berpotensi menumpuk.
Tagihan bisa melewati jatuh tempo, pengeluaran kecil terus berjalan, sementara kondisi tabungan tidak pernah benar-benar diketahui. Akhirnya, ketika terpaksa harus mengecek semuanya, situasinya terasa jauh lebih berat dari sebelumnya.
Karena itu, money avoidance bukan sekadar soal malas mengatur uang. Kebiasaan kecil untuk terus menghindar bisa membuat seseorang semakin jauh dari kondisi finansialnya sendiri.
Kenapa Kita Suka Menghindari Urusan Uang?
Ada banyak alasan seseorang memilih menjauh dari urusan keuangan. Salah satunya adalah rasa cemas. Bagi sebagian orang, melihat saldo rekening atau jumlah tagihan bisa langsung memunculkan kekhawatiran, terutama ketika kondisi keuangan sedang tidak ideal.
Daripada berhadapan dengan perasaan tersebut, otak memilih jalan yang terasa lebih muda, hindari dulu. Tidak membuka aplikasi bank membuat rasa tidak nyaman hilang untuk sementara. Tidak membicarakan utang juga membuat percakapan sulit terasa bisa ditunda.
Masalahnya, rasa lega tersebut hanya bersifat sementara. Ketika seseorang terus menggunakan penghindaran sebagai cara menghadapi kecemasan, urusan finansial justru bisa terasa semakin sulit untuk disentuh.
Contohnya sederhana. Bulan ini mungkin hanya lupa mengecek tagihan. Bulan berikutnya mulai menunda membuat anggaran. Setelah itu, saldo tabungan tidak pernah diperiksa dan pengeluaran pun berjalan tanpa benar-benar dicatat.
Padahal, kondisi tersebut belum tentu separah yang dibayangkan. Salah satu masalah dari money avoidance adalah kita bisa membentuk gambaran yang lebih menakutkan karena tidak pernah benar-benar melihat situasinya.
Bukan berarti semua orang yang jarang mengecek saldo mengalami money avoidance. Sesekali lupa atau sedang sibuk tentu berbeda. Kebiasaan ini menjadi lebih perlu diperhatikan ketika menghindari urusan uang sudah dilakukan berulang kali dan mulai mengganggu kehidupan sehari-hari.
Jadi, kalau selama ini membuka aplikasi bank saja sudah terasa seperti pekerjaan berat, mungkin yang perlu dihadapi bukan hanya angka di dalamnya, tetapi juga rasa tidak nyaman yang muncul ketika melihat angka tersebut.
Cara Perlahan Keluar dari Money Avoidance
Menghadapi money avoidance tidak berarti harus langsung membuat spreadsheet keuangan yang rumit atau menghentikan semua pengeluaran. Justru, langkah pertama bisa sesederhana berani melihat kondisi keuangan sendiri.
Mulailah dengan membuka aplikasi bank dan melihat saldo. Tidak perlu langsung menghakimi diri sendiri karena jumlahnya. Tujuannya hanya mengetahui posisi keuangan saat ini.
Setelah itu, coba lihat beberapa pengeluaran terakhir. Mana yang memang dibutuhkan dan mana yang sebenarnya bisa dikurangi? Dengan melihatnya secara perlahan, kondisi finansial yang sebelumnya terasa samar mulai menjadi lebih jelas.
Langkah berikutnya bisa berupa membuat satu kebiasaan kecil. Misalnya, luangkan waktu 10 menit setiap minggu untuk mengecek saldo, tagihan, dan pengeluaran. Tidak perlu dilakukan setiap hari jika justru membuat stres.
Kalau ada tagihan yang tertunda, prioritaskan satu per satu. Jangan menunggu sampai semuanya terasa harus diselesaikan dalam waktu bersamaan.
Hal yang tidak kalah penting adalah mengubah cara berbicara kepada diri sendiri. Kondisi keuangan yang kurang ideal bukan berarti seseorang gagal mengatur hidup. Menghakimi diri sendiri justru bisa membuat keinginan untuk menghindar semakin kuat.
Pada akhirnya, tujuan menghadapi money avoidance bukan membuat urusan uang menjadi sempurna. Yang lebih penting adalah berhenti membiarkan rasa takut menentukan kapan kita mau melihat, memahami, dan mengambil keputusan soal uang.
Karena semakin cepat berani melihat kondisi sebenarnya, semakin banyak kesempatan untuk menentukan langkah berikutnya dengan lebih tenang.