Fimela.com, Jakarta - Kondisi ekonomi ternyata dapat memengaruhi cara seseorang berpakaian. Ketika daya beli menurun dan masyarakat mulai lebih berhati-hati dalam mengatur pengeluaran, pilihan fashion pun dapat bergeser dari gaya yang berlebihan menuju tampilan yang lebih sederhana. Fenomena inilah yang kemudian dikenal sebagai recession core.
Dilansir dari Vogue Germany, tren ini sebagai respons terhadap menurunnya daya beli yang tidak hanya mengubah perilaku konsumsi, tetapi juga gaya berpakaian.
Dalam praktiknya, recession core identik dengan pakaian yang lebih fungsional, mudah dipadukan, memiliki warna netral, serta tidak terlalu menonjolkan logo atau detail berlebihan. Gaya tersebut mencerminkan pertimbangan konsumen untuk mendapatkan pakaian yang dapat digunakan dalam berbagai kesempatan dan tidak cepat kehilangan relavansinya.
Perubahan ini juga sejalan dengan penelitian mengenai konsumsi fashion saat krisis ekonomi. Dilansir dari Journal of Global Fashion Marketing, bahwa kondisi ekonomi dapat mendorong konsumen melakukan reuse, mengurangi pembelian, mencari alternatif, serta lebih bergantung pada diskon.
Dengan demikian, recession core bukan sekadar tren visual, tetapi juga dapat mencerminkan perubahan cara masyarakat memandang kebutuhan dan pengeluaran.
Ciri Khas Recession Core yang Serba Sederhana
Salah satu ciri paling mudah dikenali dari recession core adalah pilihan busana yang sederhana dan tidak berlebihan. Warna seperti hitam, putih, abu-abu, cokelat, dan beige menjadi pilihan yang mudah digunakan kembali dalam berbagai kombinasi. Potongan pakaian pun cenderung klasik dan tidak terlalu mengikuti tren yang cepat berganti.
Gaya ini juga mengutamakan konsep versatility, yaitu satu pakaian yang dapat digunakan untuk berbagai kesempatan.Seperti blazer sederhana, celana berpotongan lurus, kemeja, cardigan, rok panjang, hingga kaus polos dapat menjadi bagian dari tampilan recession core. Penggunaan aksesoris pun biasanya lebih minim sehingga keseluruhan penampilan terlihat effortless.
Recession core berkembang dengan kecenderungan menuju minimalisme, ketika fashion mulai memprioritaskan kegunaan dibandingkan detail yang terlalu dekoratif.
Menariknya, kesederhanaan tersebut tidak selalu berarti pakaian yang murah. Estetika recession core justru dapat terlihat melalui pilihan busana yang berkualitas, tahan lama, dan dapat digunakan berulang kali. Oleh karena itu, tampil sederhana bukan berarti mengabaikan gaya, melainkan memilih pakaian berdasarkan fungsi, kebutuhan dan umur pemakaiannya.
Bukan Sekadar Tren, Recession Core Cerminkan Cara Konsumsi Baru
Lebih dari sekadar estetika fashion, recession core memperlihatkan bagaimana kondisi ekonomi dapat memengaruhi keputusan seseorang dalam berbelanja. Ketika situasi finansial terasa tidak menentu, membeli pakaian baru tidak lagi hanya didasarkan pada keinginan mengikuti tren. Pertimbangan mengenai harga, kegunaan, kualitas, hingga seberapa sering pakaian tersebut dapat digunakan menjadi semakin penting.
Perubahan tersebut terlihat dalam perilaku konsumen yang mulai mencari alternatif dengan harga lebih terjangkau, mengurangi pembelian barang non-esensial, serta mempertimbangkan kembali kebiasaan konsumsi. BCG mencatat bahwa dalam kondisi ekonomi yang sulit, konsumen cenderung mengurangi pengeluaran untuk kategori non-esensial seperti pakaian dan beralih mencari alternatif dengan harga lebih rendah.
Namun, recession core juga memiliki sisi yang menarik. Kesederhanaan yang awalnya muncul sebagai respons terhadap tekanan ekonomi dapat berubah menjadi pilihan estetika yang sengaja diterapkan. Pakaian basic, warna tenang, dan tampilan minimalis akhirnya tidak hanya dipandang sebagai bentuk penghematan, tetapi juga sebagai gaya yang dianggap modern dan mudah diterapkan.
Pada akhirnya, recession core menunjukkan bahwa ketika kondisi ekonomi berubah, definisi tentang tampil stylish pun dapat ikut bergeser.