Gut Health, Benarkah Kesehatan Usus Bisa Memengaruhi Mood?

najwa maulidinaDiterbitkan 08 September 2026, 15:27 WIB

Fimela.com, Jakarta - Pernah merasa perut kurang nyaman saat sedang stres? Atau justru merasa lebih sulit berkonsentrasi ketika pencernaan sedang bermasalah? Hubungan antara keduanya ternyata bukan sekadar kebetulan. Gut health atau kesehatan usus ternyata berkaitan erat dengan kondisi otak dan suasana hati. Usus dan otak saling berkomunikasi melalui sistem yang dikenal sebagai gut brain axis.

Dilansir dari Harvard Health, gut brain axis merupakan jalur komunikasi dua arah antara sistem pencernaan dan otak. Kondisi di dalam saluran pencernaan, termasuk peradangan dan perubahan pada mikrobioma usus, dapat berkaitan dengan suasana hati. Sebaliknya, stres dan kondisi emosional juga dapat memengaruhi sistem pencernaan.

Di dalam usus terdapat triliunan mikroorganisme yang membentuk gut microbiome. Komunitas mikroorganisme ini bukan sekadar penghuni saluran pencernaan. Mereka ikut berperan dalam berbagai proses di dalam tubuh dan menjadi salah satu bagian penting dalam pembahasan mengenai kesehatan usus. Karena itu, gut health bukan hanya tentang seberapa sering seseorang mengalami kembung atau masalah buang air besar. Kondisi usus juga berkaitan dengan bagaimana tubuh berfungsi secara keseluruhan.

Menariknya, menjaga kesehatan usus tidak harus dimulai dari perubahan besar. Pola makan sehari-hari, pilihan makanan, aktivitas fisik, waktu istirahat, hingga cara mengelola stres bisa menjadi bagian dari kebiasaan yang mendukung kesehatan pencernaan. Jadi, kalau selama ini perhatian terhadap kesehatan hanya berpusat pada kulit, berat badan, atau kebugaran, mungkin sudah waktunya memberi perhatian lebih pada organ yang satu ini.

2 dari 3 halaman

Cara Sederhana Menjaga Gut Health

Mulai dari memperhatikan isi piring hingga memberi tubuh waktu untuk beristirahat, semuanya bisa menjadi bagian dari rutinitas gut friendly. (Foto/Dok: Pixels)

Menjaga kesehatan usus tidak berarti harus mengikuti pola makan yang rumit. Salah satu langkah yang paling mudah adalah memperhatikan keberagaman makanan yang dikonsumsi setiap hari. Sayur, buah, biji-bijian, kacang-kacangan, serta berbagai sumber protein dapat menjadi bagian dari pola makan yang lebih beragam.

Serat juga menjadi salah satu komponen yang menarik untuk diperhatikan. Makanan kaya serat dapat membantu mendukung sistem pencernaan sekaligus menjadi sumber makanan bagi sebagian mikroorganisme baik di dalam usus. Karena itu, menambahkan sayuran atau buah ke dalam menu harian bisa menjadi langkah sederhana.

Selain serat, makanan yang mengandung probiotik seperti yogurt atau makanan fermentasi juga sering dikaitkan dengan gut health. Namun, bukan berarti satu jenis makanan tertentu bisa langsung membuat kondisi usus menjadi sehat. Pola makan secara keseluruhan tetap lebih penting. Hal lain yang sering terlupakan adalah cukup minum. Air membantu berbagai proses tubuh, termasuk fungsi sistem pencernaan. Aktivitas fisik secara rutin juga dapat menjadi bagian dari gaya hidup yang mendukung kesehatan tubuh secara keseluruhan.

Kemudian, jangan lupakan waktu istirahat. Tubuh membutuhkan tidur yang cukup untuk menjalankan berbagai proses pemulihan. Mengelola stres juga penting karena kondisi emosional dan sistem pencernaan memiliki hubungan yang cukup erat.

Intinya, gut friendly lifestyle bukan tentang harus selalu makan makanan tertentu atau menghindari semua makanan favorit. Justru, kebiasaan yang realistis dan bisa dilakukan secara konsisten lebih mudah dipertahankan dalam jangka panjang.

3 dari 3 halaman

Gut Health dan Mood, Apa Hubungannya?

Dengan pola makan seimbang dan gaya hidup yang lebih teratur, kesehatan usus bisa menjadi salah satu bagian dari cara merawat tubuh sekaligus keseharian. (Foto/Dok: Pixels)

Hubungan antara usus dan mood menjadi salah satu alasan mengapa gut health semakin banyak dibicarakan. Komunikasi antara usus dan otak berlangsung melalui berbagai jalur, termasuk sistem saraf, sistem kekebalan tubuh, serta zat yang dihasilkan oleh mikroorganisme di dalam usus.

Ketika kondisi saluran pencernaan terganggu, komunikasi tersebut dapat ikut berubah. Begitu pula sebaliknya, stres dan tekanan emosional dapat memengaruhi cara kerja sistem pencernaan. Itulah mengapa sebagian orang mungkin merasakan perubahan pada perut ketika sedang gugup, cemas, atau menghadapi situasi yang membuat stres.

Namun, penting untuk tidak menyederhanakan hubungan ini menjadi anggapan bahwa masalah pencernaan otomatis menyebabkan masalah mood. Penelitian mengenai gut brain axis masih terus berkembang dan hubungan keduanya cukup kompleks.

Karena itu, merawat gut health sebaiknya dipandang sebagai salah satu bagian dari gaya hidup sehat, bukan sebagai solusi tunggal untuk memperbaiki suasana hati.

Kamu bisa mulai dari hal-hal kecil. Misalnya, membuat menu harian lebih beragam, menambahkan sayuran dan buah, memilih sumber serat, cukup minum, rutin bergerak, serta menjaga waktu tidur. Sesekali menikmati makanan favorit juga tetap boleh selama pola makan secara keseluruhan tetap seimbang.

Pada akhirnya, kesehatan tubuh bukan tentang mengejar pola hidup yang sempurna. Mendengarkan kondisi tubuh dan membangun kebiasaan yang bisa dilakukan secara konsisten justru lebih penting. Dengan begitu, menjaga kesehatan usus bisa menjadi bagian kecil dari rutinitas yang membantu tubuh terasa lebih nyaman setiap hari.

Penulis: Najwa Maulidina