Lonjakan Fomo Nongkrong di SCBD Didorong oleh Tekanan Sosial Ibu Kota, Berdampak pada Kesehatan Mental

Vinsensia DianawantiDiterbitkan 17 September 2026, 10:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Fenomena Fomo Nongkrong di kawasan populer seperti SCBD semakin mencuat di tengah ritme ibu kota. Gemerlap kehidupan malam, deretan kafe estetik, hingga sorotan media sosial menciptakan panggung baru bagi tekanan sosial yang sering tak kasat mata. Banyak anak muda terdorong untuk hadir agar tidak merasa tertinggal, memotret momen, dan membagikannya demi ikut berada dalam percakapan yang sedang hangat.

FOMO atau fear of missing out merujuk pada perasaan cemas atau takut tertinggal dari pengalaman, informasi, atau momen penting yang tengah dinikmati orang lain. Kondisi tersebut sering kali diperparah oleh unggahan media sosial yang menampilkan potret hidup seolah sempurna. Paparan terus-menerus terhadap citra ideal mampu membentuk ekspektasi yang tidak realistis tentang penampilan dan pencapaian.

Perbandingan sosial di dunia digital—ketika individu menilai dirinya terhadap kehidupan orang lain yang tampak lebih baik—berkaitan dengan meningkatnya risiko kecemasan, depresi, dan citra tubuh yang negatif. Kelompok remaja dan dewasa muda termasuk yang paling rentan karena media sosial berperan langsung dalam proses pembentukan identitas, serta kebutuhan akan rasa memiliki dan penerimaan.

What's On Fimela
2 dari 4 halaman

Peran Media Sosial dalam FOMO dan Pembentukan Citra Diri

ilustrasi bermain sosial media/copyright freepik.com/freepik

Menurut Przybylski (2013: 1481), fear of missing out (FOMO) adalah suatu kondisi ketika seseorang merasa gelisah setelah melihat atau mengecek media sosial dan menyaksikan aktivitas menyenangkan yang dilakukan teman atau orang lain di luar sana. Rasa gelisah itu disertai dorongan kuat untuk terus terhubung dengan apa yang orang lain lakukan di internet.

Di sisi lain, media sosial memainkan peran sentral dalam memperkuat FOMO melalui penyebaran standar kecantikan yang ideal dan kerap tidak realistis. Dalam konteks ini, narasi visual di feed dan story menjadi acuan yang memengaruhi cara pandang banyak orang terhadap diri sendiri.

“Platform media sosial dibanjiri dengan profil yang ‘dikurasi dengan cermat,’ menampilkan kehidupan yang tampak sempurna, penampilan tanpa cela, dan tubuh ideal,” ujar Acosta. “Paparan konstan terhadap citra-citra individu yang tampak sempurna ini dapat menyebabkan kaum muda mengembangkan ekspektasi yang tidak realistis tentang penampilan dan pencapaian hidup mereka sendiri.”

Perbandingan diri dengan kehidupan yang telah difilter dan dikurasi di media sosial dapat meningkatkan risiko kecemasan, depresi, dan citra tubuh yang negatif. Remaja dan dewasa muda menghadapi risiko lebih tinggi dari pola tersebut karena media sosial secara langsung memengaruhi pembentukan identitas, termasuk kebutuhan akan rasa memiliki dan penerimaan.

3 dari 4 halaman

Nongkrong di Jakarta: Fomo Nongkrong, Status, dan Desakan Sosial

Ilustrasi Penggunaan Media Sosial Credit: pexels.com/AndreaPiacquadio

Ibu kota kerap menjadi pusat tekanan sosial. Lingkungan kota besar menghadirkan tekanan hidup yang lebih tinggi dibandingkan daerah pedesaan atau kota kecil. Kepadatan penduduk, persaingan ketat, serta tuntutan untuk mengikuti gaya hidup modern berkontribusi pada tingkat stres yang tinggi. Dalam lanskap seperti ini, budaya nongkrong di tempat-tempat seperti SCBD berkembang bukan hanya sebagai aktivitas santai, tetapi juga sebagai bagian dari gaya hidup untuk menunjukkan diri dan memperoleh status sosial.

Kafe sering berfungsi sebagai “tempat ketiga” di luar rumah dan tempat kerja—ruang yang membuat orang merasa memiliki tanpa kewajiban interaksi sosial yang mendalam. Namun, di balik kenyamanan itu, muncul tekanan untuk selalu tampil dan mengikuti tren yang sedang berlangsung.

Penelitian menunjukkan budaya nongkrong diperkuat oleh platform media sosial. Tekanan untuk memamerkan momen dan harta benda melalui cerita dan unggahan di platform seperti Instagram dapat memperkuat dorongan untuk mengejar status, termasuk keinginan terlihat berada di tempat yang sedang ramai dibahas.

Dorongan tersebut dapat memicu perilaku konsumtif yang tidak sehat, ketika individu membeli barang-barang berlabel status demi kepuasan sementara. Akibatnya, keputusan pengeluaran kerap didorong oleh kebutuhan tampil alih-alih pertimbangan kebutuhan jangka panjang.

4 dari 4 halaman

Efek Psikologis serta Cara Mengelola FOMO

Dampak FOMO terhadap kesehatan mental tergolong signifikan. Individu yang mengalaminya cenderung merasa tidak puas terhadap diri sendiri, mudah cemas, dan kesulitan merasakan kebahagiaan atas kondisi saat ini. Rasa takut tertinggal membuat seseorang berulang kali memeriksa ponsel dan khawatir melewatkan informasi terbaru. Kebiasaan ini dapat mengganggu konsentrasi, kualitas tidur, dan produktivitas, serta dalam jangka panjang meningkatkan risiko stres kronis dan kelelahan emosional.

Penggunaan media sosial yang intensif turut berkontribusi terhadap rasa cemas dan ketidakpuasan karena perbandingan sosial. Sebuah studi terhadap remaja Amerika berusia 12–15 tahun menunjukkan bahwa mereka yang menggunakan media sosial lebih dari tiga jam setiap hari menghadapi risiko dua kali lipat mengalami masalah kesehatan mental negatif, termasuk gejala depresi dan kecemasan.

Untuk menjaga kesehatan mental di tengah FOMO dan tekanan sosial ibu kota, para ahli menganjurkan beberapa langkah. Batasi waktu layar agar paparan terhadap perbandingan sosial berkurang, fokus pada pengalaman yang otentik, dan bangun koneksi sosial yang kuat di dunia nyata. Mengembangkan self-compassion juga penting, begitu pula mencari bantuan profesional bila FOMO atau tekanan sosial memicu kecemasan atau depresi yang signifikan.