Membangun Self-Love Remaja di Tengah Standar Kecantikan Media Sosial

Devita AdyaDiterbitkan 16 September 2026, 20:39 WIB

Fimela.com, Jakarta - Masa remaja merupakan periode ketika perubahan fisik dan penampilan mulai mendapat perhatian lebih besar. Di saat yang sama, media sosial menghadirkan berbagai gambaran mengenai bentuk tubuh, wajah, gaya berpakaian, hingga standar kecantikan yang dianggap ideal. Paparan terhadap konten semacam ini dapat membuat remaja lebih mudah membandingkan dirinya dengan orang lain.

Dilansir dari American Psychological Association (APA), menjelaskan bahwa perbandingan penampilan di media sosial dapat berkaitan dengan citra tubuh yang lebih negatif pada remaja. APA juga merekomendasikan agar penggunaan media sosial tidak terlalu berfokus pada perbandingan penampilan.

Perbandingan penampilan tersebut dapat memengaruhi cara mereka melihat penampilan dan menghargai diri sendiri. Oleh karena itu, penting bagi remaja untuk memahami bahwa setiap orang memiliki karakteristik fisik yang berbeda dan tidak perlu mengikuti satu standar kecantikan tertentu.

Orang tua dapat membantu dengan mengajak remaja membicarakan konten yang mereka lihat dan menyadari bahwa foto atau video di media sosial tidak selalu menggambarkan kondisi seseorang secara utuh. Dengan pemahaman tersebut, remaja dapat belajar menggunakan media sosial secara lebih kritis tanpa menjadikan standar di dalamnya sebagai ukuran nilai diri.

2 dari 3 halaman

Membantu Remaja Menghargai Diri Lebih dari Sekadar Penampilan

Self-love tidak hanya tentang merasa puas dengan penampilan, tetapi juga menghargai kemampuan, karakter, usaha, dan hal-hal positif yang dimiliki diri sendiri. (Foto/Dok: Pexels)

Membangun self-love pada remaja dapat dimulai dengan membantu mereka memahami bahwa nilai diri tidak ditentukan oleh penampilan. Ketika seorang remaja mulai merasa dirinya kurang menarik karena membandingkan wajah, bentuk tubuh, atau gaya dengan orang lain di media sosial, orang tua dapat mengarahkan pembicaraan pada kualitas lain yang dimilikinya.

Ajak remaja mengenali kemampuan, sifat positif, pencapaian, minat, atau hal sederhana yang membuat mereka merasa bangga. Membuat daftar tentang kelebihan diri dapat menjadi latihan sederhana untuk membantu mereka melihat dirinya secara lebih menyeluruh. Orang tua juga dapat mengajak remaja membicarakan hal-hal yang mereka sukai dari diri sendiri, baik berkaitan dengan karakter maupun kemampuan yang dimiliki.

Selain itu, hindari menjadikan penampilan sebagai fokus utama ketika memberikan pujian. Pujian seperti “Kamu cantik” dapat dilengkapi dengan apresiasi terhadap usaha dan karakter, misalnya “Kamu sudah berusaha menyelesaikan tugas itu” atau “Kamu perhatian kepada temanmu.” Cara tersebut membantu remaja memahami bahwa dirinya memiliki banyak kualitas berharga.

Dengan begitu, remaja dapat belajar menerima keunikan diri dan memahami bahwa penampilan hanyalah salah satu bagian dari dirinya, bukan ukuran utama untuk menentukan harga diri.

3 dari 3 halaman

Bangun Kebiasaan Bermedia Sosial yang Lebih Sehat

Membatasi perbandingan dan memilih konten yang lebih beragam dapat membantu remaja menggunakan media sosial dengan lebih sadar tanpa terus merasa harus memenuhi standar tertentu. (Foto/Dok: Pexels)

Mengajarkan self-love bukan berarti melarang remaja menggunakan media sosial sepenuhnya. Sebaliknya, orang tua dapat membantu mereka membangun kebiasaan menggunakan media sosial secara lebih sadar dan bijak. Salah satunya dengan mengajak remaja mengevaluasi akun yang mereka ikuti serta memperhatikan bagaimana perasaan mereka setelah melihat konten tertentu.

Jika suatu akun terus membuat remaja merasa kurang cantik, kurang menarik, atau tidak percaya diri, mereka dapat mempertimbangkan untuk berhenti mengikuti, membisukan, atau mengurangi interaksi dengan konten tersebut. Sebaliknya, dorong remaja mengikuti akun yang menghadirkan konten positif, beragam, dan dapat memberikan inspirasi tanpa membuat mereka merasa harus menjadi seperti orang lain.

Remaja juga perlu belajar mempertanyakan konten yang muncul di layar. Foto dan video dapat melalui berbagai proses pengeditan sehingga tidak selalu menggambarkan kondisi seseorang secara utuh. Orang tua dapat mengajak mereka berdiskusi mengenai hal tersebut agar tidak mudah membandingkan kehidupan nyata dengan apa yang terlihat di media sosial.

Selain itu, orang tua dapat menjadi contoh dengan menghindari komentar negatif tentang tubuh sendiri maupun orang lain. Lingkungan yang penuh penerimaan dapat membantu remaja belajar menghargai dirinya tanpa harus mengikuti standar kecantikan yang terus berubah.