Fimela.com, Jakarta - Kesehatan mental sering kali menjadi hal yang baru mendapat perhatian ketika mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Padahal, perubahan seperti sulit berkonsentrasi, kecemasan yang muncul berlebihan, perubahan mood, hingga gangguan tidur bisa menjadi sinyal bahwa kondisi mental perlu diperhatikan.
Berbeda dengan masalah kesehatan fisik yang terkadang dapat terlihat secara langsung, kondisi yang berkaitan dengan kesehatan mental sering kali tidak memiliki tanda yang kasatmata. Hal inilah yang membuat upaya memahami kesehatan mental sejak dini menjadi penting.
Bertepatan dengan Hari Kesehatan Mental Sedunia yang diperingati setiap 10 Oktober, perhatian terhadap kesehatan mental kembali menjadi momentum untuk lebih memahami kondisi otak dan pikiran. Salah satu teknologi yang dapat digunakan sebagai alat bantu untuk melihat aktivitas listrik otak secara lebih objektif adalah qEEG Brain Mapping.
Ketika Kondisi Mental Tidak Mudah Terlihat
Rasa cemas, sulit fokus, atau tidur yang tidak berkualitas terkadang dianggap sebagai bagian dari kelelahan dan kesibukan sehari-hari. Akibatnya, seseorang bisa menunda mencari bantuan hingga keluhan tersebut semakin mengganggu kehidupan sehari-hari.
“Banyak orang menunggu sampai kondisinya benar-benar mengganggu keseharian baru mencari bantuan. Padahal, semakin dini kita memahami apa yang sebenarnya terjadi pada otak dan pikiran kita, semakin banyak pula pilihan penanganan yang bisa dilakukan,” ujar dr. Oktaviana Niken P., Sp.N., DAIFIDN., MMRS., FNR., AIFO-K.
Menurutnya, pemahaman mengenai kondisi otak dapat menjadi salah satu bagian dalam proses evaluasi kesehatan seseorang. Salah satu teknologi yang dapat membantu memberikan gambaran tersebut adalah qEEG.
Apa Itu qEEG Brain Mapping?
qEEG merupakan singkatan dari quantitative electroencephalography. Teknologi ini bekerja dengan merekam aktivitas listrik otak menggunakan sejumlah sensor yang ditempelkan pada kulit kepala.
Proses tersebut tidak membutuhkan suntikan, pembedahan, maupun tindakan invasif. Sinyal listrik yang direkam kemudian diolah menjadi data dan visualisasi yang dapat membantu menggambarkan pola aktivitas otak di berbagai area.
“Sederhananya, qEEG itu seperti membuat ‘peta’ dari aktivitas listrik otak kita. Peta ini kemudian dibandingkan dengan pola otak orang-orang pada umumnya, sehingga kita bisa melihat area mana yang polanya berbeda dari kebanyakan orang,” jelas dr. Niken.
Dengan pendekatan tersebut, aktivitas listrik otak yang sebelumnya sulit dipahami secara kasatmata dapat ditampilkan dalam bentuk data dan gambaran yang lebih mudah dibaca.
Bagaimana Pemeriksaan qEEG Dilakukan?
Pemeriksaan qEEG pada dasarnya merupakan proses yang relatif sederhana. Pasien akan melalui beberapa tahapan.
Pertama, sejumlah sensor dipasang pada permukaan kulit kepala untuk menangkap aktivitas listrik otak. Setelah itu, pasien cukup duduk dengan tenang selama proses perekaman berlangsung.
Perekaman dapat dilakukan dalam kondisi mata terbuka maupun tertutup. Data yang diperoleh kemudian diproses menggunakan sistem komputer sehingga menghasilkan gambaran mengenai pola aktivitas listrik di berbagai area otak.
Tahap berikutnya adalah membandingkan pola tersebut dengan database pola otak orang pada umumnya. Dari perbandingan tersebut, dokter dapat melihat pola aktivitas yang berbeda dan menggunakannya sebagai informasi tambahan dalam melakukan evaluasi.
“Seluruh prosesnya nyaman dan tidak menimbulkan rasa sakit. Pasien hanya perlu duduk tenang, tidak perlu takut ada tindakan medis yang invasif,” tambah dr. Niken.
qEEG Bukan Alat Diagnosis Tunggal
Meski mampu memberikan gambaran mengenai aktivitas listrik otak, qEEG tidak dapat digunakan sebagai satu-satunya dasar untuk menentukan diagnosis gangguan mental.
Hasil pemeriksaan tetap perlu dilihat bersama informasi lain, seperti wawancara medis, pemeriksaan langsung, dan bila diperlukan pemeriksaan tambahan.
“qEEG memberi gambaran objektif soal aktivitas otak, tapi tetap perlu digabungkan dengan wawancara medis, pemeriksaan langsung, dan kadang pemeriksaan lain. Tidak ada satu alat pun yang bisa berdiri sendiri untuk menyimpulkan kondisi seseorang,” jelas dr. Niken.
Artinya, hasil qEEG lebih tepat dipahami sebagai informasi tambahan yang dapat membantu dokter mendapatkan gambaran kondisi seseorang secara lebih menyeluruh.
Mengapa Memahami Kondisi Otak Sejak Dini Penting?
Kesadaran terhadap kesehatan mental tidak harus menunggu seseorang mengalami kondisi yang berat. Keluhan yang berlangsung terus-menerus, seperti sulit berkonsentrasi, mudah merasa cemas, atau mengalami gangguan tidur, dapat menjadi alasan untuk mulai mencari bantuan profesional.
Teknologi seperti qEEG dapat membantu membuat pembahasan mengenai kesehatan otak terasa lebih konkret. Namun, pemeriksaan tetap perlu dilakukan sesuai kebutuhan dan diinterpretasikan oleh tenaga medis yang kompeten.
“Kesehatan mental itu sering terasa abstrak buat orang awam, karena tidak terlihat seperti luka fisik. Dengan alat seperti qEEG, kita bisa memberi gambaran yang lebih konkret tentang apa yang terjadi di otak, sehingga orang jadi lebih mudah memahami kondisinya sendiri, dan tidak takut untuk mencari bantuan,” ungkap dr. Niken.
Pada akhirnya, perhatian terhadap kesehatan mental bukan berarti seseorang sedang mengalami masalah serius. Justru, berkonsultasi dapat menjadi bagian dari upaya memahami kondisi diri dan mengambil langkah yang tepat lebih awal.
“Konsultasi bukan berarti ada yang ‘salah’ dengan diri kita. Justru itu adalah cara untuk memahami diri sendiri secara lebih objektif, sehingga kita bisa mengambil langkah yang tepat lebih awal,” pungkas dr. Niken.
Memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia, penting untuk mengingat bahwa menjaga kesehatan bukan hanya tentang merawat tubuh. Memberikan perhatian pada pikiran, emosi, kualitas tidur, serta kondisi otak juga menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas hidup secara menyeluruh.