Fimela.com, Jakarta - Pernahkah Anda melihat jam di ponsel, meletakkannya, lalu beberapa menit kemudian kembali mengeceknya meski tidak sedang menunggu sesuatu? Kebiasaan memeriksa jam meski baru saja melihatnya sekilas memang terlihat sepele, tetapi bisa berkaitan dengan cara seseorang merespons waktu, jadwal, rasa khawatir, hingga kebutuhan untuk memastikan sesuatu tetap berada dalam kendali.
Pada sebagian orang, melihat jam hanyalah kebiasaan otomatis. Namun, pada kondisi tertentu, dorongan tersebut dapat muncul karena seseorang merasa harus selalu mengetahui berapa banyak waktu yang tersisa. Jam akhirnya bukan sekadar penunjuk waktu, melainkan menjadi alat untuk meredakan rasa tidak nyaman yang muncul ketika seseorang merasa tertinggal, terburu-buru, atau takut melewatkan sesuatu.
Karena itu, frekuensi melihat jam saja tidak cukup untuk menentukan apakah sebuah kebiasaan bermasalah. Yang juga perlu diperhatikan adalah alasan di baliknya, perasaan yang muncul sebelum dan sesudah melihat jam, serta seberapa jauh kebiasaan tersebut mengganggu aktivitas sehari-hari, Kamis (24/9/2026).
Advertisement
Advertisement
Mengapa Seseorang Sering Memeriksa Jam?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4641492/original/037829200_1699502921-pexels-shawn-stutzman-1010480.jpg)
Melihat jam merupakan perilaku yang sangat wajar. Seseorang mungkin mengecek waktu sebelum berangkat kerja, ketika menunggu seseorang, menjelang rapat, atau saat memastikan masih memiliki cukup waktu untuk menyelesaikan pekerjaan. Dalam situasi seperti itu, melihat jam memiliki tujuan yang jelas.
Masalah dapat terasa berbeda ketika seseorang baru saja melihat jam, tetapi beberapa saat kemudian muncul dorongan untuk mengeceknya lagi tanpa kebutuhan yang nyata. Misalnya, seseorang melihat pukul 10.15, kembali bekerja, lalu tidak lama kemudian membuka layar ponsel hanya untuk memastikan waktunya. Setelah melihat pukul 10.18, ia kembali melakukan aktivitas, tetapi beberapa menit berikutnya mengulangi hal yang sama.
Menurut Healthline, kecemasan terhadap waktu atau time anxiety dapat membuat seseorang terus memikirkan kemungkinan terlambat. Salah satu bentuknya adalah terlalu sering melihat jam atau merencanakan perjalanan secara berlebihan. Kebiasaan tersebut mungkin memberikan rasa lega sesaat, tetapi juga dapat mengalihkan perhatian dari aktivitas yang sedang dilakukan.
Dengan demikian, kebiasaan melihat jam berulang tidak selalu menunjukkan adanya gangguan tertentu. Pada beberapa orang, perilaku tersebut lebih mungkin menjadi bagian dari pola kewaspadaan terhadap waktu, terutama ketika memiliki banyak agenda atau merasa harus selalu produktif.
Ketika Waktu Terasa Selalu Mengejar
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3510732/original/041109000_1626260254-AP21195309549741.jpg)
Salah satu kemungkinan yang perlu diperhatikan adalah hubungan seseorang dengan waktu. Orang yang sangat khawatir terlambat dapat merasa perlu memantau waktu secara terus-menerus. Bahkan ketika tidak ada agenda mendesak, pikirannya mungkin sudah sibuk menghitung berapa lama waktu yang tersisa.
Healthline menjelaskan bahwa time anxiety dapat muncul sebagai kekhawatiran terus-menerus mengenai keterlambatan. Seseorang dapat merasa gelisah ketika tidak menyelesaikan semua hal yang sudah direncanakan, terburu-buru berpindah dari satu aktivitas ke aktivitas lain, atau merasa waktu luang seharusnya digunakan untuk melakukan sesuatu yang lebih produktif.
Pola tersebut membuat jam menjadi semacam alat pemantau keamanan. Melihat angka di layar dapat memberikan kepastian bahwa seseorang masih memiliki waktu. Namun, rasa lega tersebut dapat segera hilang sehingga muncul dorongan untuk melihatnya kembali.
Misalnya, seseorang memiliki janji pukul 14.00. Pada pukul 12.30 ia sudah melihat jam dan mengetahui masih ada waktu cukup panjang. Namun, karena terus memikirkan kemungkinan terlambat, ia kembali melihat jam pada 12.45, 12.55, 13.05, dan seterusnya. Padahal, tidak ada perubahan berarti dalam situasi yang mengharuskan pengecekan sesering itu.
Dalam kondisi seperti ini, persoalannya bukan pada jam, melainkan pada rasa khawatir yang membuat seseorang terus mencari kepastian.
Advertisement
Melihat Jam Bisa Berkaitan dengan Kebutuhan untuk Mengontrol Waktu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5362733/original/005178200_1758873061-Gemini_Generated_Image_g0varyg0varyg0va.jpg)
Waktu merupakan sesuatu yang tidak dapat dihentikan atau diputar kembali. Karena itu, sebagian orang berusaha mengendalikan hal-hal yang masih dapat mereka atur, seperti jadwal, durasi perjalanan, urutan pekerjaan, dan waktu istirahat.
Healthline mencatat bahwa kecemasan terhadap waktu dapat berkaitan dengan kebutuhan untuk mengendalikan aspek kehidupan yang masih dapat dikontrol. Kekhawatiran terhadap hal-hal yang tidak dapat dipastikan kemudian dapat membuat seseorang semakin berusaha mengatur jadwal sehari-hari.
Kondisi tersebut dapat menjelaskan mengapa kebiasaan memeriksa jam meski baru saja melihatnya terkadang muncul ketika seseorang sedang menghadapi banyak tuntutan. Semakin banyak hal yang harus dikerjakan, semakin besar keinginan untuk mengetahui posisi waktu secara tepat.
Ada pula orang yang merasa bersalah ketika menghabiskan waktu untuk beristirahat. Alih-alih menikmati waktu luang, pikirannya terus menghitung berapa banyak pekerjaan yang belum selesai. Setiap kali melihat jam, ia kembali menyadari bahwa waktu terus berjalan.
Pada akhirnya, melihat jam tidak lagi hanya berfungsi untuk mengetahui waktu. Aktivitas tersebut menjadi pengingat terus-menerus bahwa ada pekerjaan berikutnya yang harus dilakukan.
Tidak Semua Kebiasaan Memeriksa Jam Berarti OCD
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5199401/original/068816600_1745582085-adult-lady-with-curly-long-hair-holding-clock-with-time-after-8-showing-anger-with-facial-expressions-putting-hand-waist-beige-background_171337-3581.jpg)
Penting untuk tidak langsung menyimpulkan bahwa kebiasaan memeriksa jam berulang merupakan gangguan obsesif-kompulsif atau OCD. Christian Hughes dalam pembahasannya mengenai perilaku checking berulang menjelaskan bahwa hampir semua orang pernah melakukan pengecekan. Perbedaan pentingnya bukan semata-mata terletak pada tindakan mengecek, melainkan pada apa yang terjadi setelah pengecekan.
Dalam pola checking yang kompulsif, pengecekan tidak benar-benar menyelesaikan keraguan. Sebaliknya, setelah mengecek seseorang justru dapat kembali bertanya-tanya apakah ia sudah mengecek dengan benar. Pola tersebut kemudian dapat memunculkan dorongan untuk melakukan pengecekan berikutnya.
Gambaran serupa juga dijelaskan dalam literatur mengenai OCD. NHS mencatat bahwa kompulsi dapat berupa perilaku yang dilakukan berulang-ulang untuk merespons ketakutan tertentu, termasuk pengecekan berulang. Namun, diagnosis tidak dapat ditentukan hanya dari satu kebiasaan atau satu perilaku saja.
Penelitian yang dipublikasikan melalui PubMed juga memberikan gambaran menarik mengenai efek pengecekan berulang. Dalam eksperimen terhadap peserta dengan dan tanpa OCD, pengecekan berulang terhadap objek yang relevan dapat menurunkan keyakinan terhadap ingatan, termasuk berkurangnya rasa yakin terhadap detail dari apa yang baru saja diperiksa.
Artinya, semakin sering seseorang melakukan pengecekan belum tentu semakin yakin. Dalam pola tertentu, pengulangan justru dapat membuat seseorang semakin meragukan ingatannya sendiri.
Advertisement
Perhatikan Perasaan yang Muncul Sebelum dan Sesudah Melihat Jam
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3639540/original/077930000_1637546391-djim-loic-ft0-Xu4nTvA-unsplash_1_.jpg)
Cara sederhana untuk memahami kebiasaan tersebut adalah memperhatikan apa yang terjadi sebelum tangan secara otomatis mengambil ponsel atau mata mencari jam.
Apakah ada rasa takut terlambat? Apakah sedang memikirkan pekerjaan berikutnya? Apakah merasa bersalah karena beristirahat? Atau justru ada rasa tidak nyaman yang baru mereda setelah mengetahui angka di layar?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut lebih informatif daripada sekadar menghitung berapa kali seseorang melihat jam dalam sehari.
Jika seseorang melihat jam karena membutuhkan informasi, biasanya setelah mendapatkan informasi tersebut ia dapat kembali melakukan aktivitas. Sebaliknya, apabila melihat jam hanya memberikan ketenangan selama beberapa saat sebelum muncul dorongan untuk mengecek kembali, pola tersebut patut diperhatikan lebih lanjut.
Christian Hughes juga menekankan bahwa frekuensi bukan satu-satunya ukuran penting dalam perilaku checking. Dampaknya terhadap kehidupan sehari-hari dan tingkat tekanan yang dirasakan seseorang juga perlu diperhatikan.
Cara Mengurangi Kebiasaan Melihat Jam Berulang
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5169567/original/026295800_1742537148-Jam_untuk_menggambarkan_waktu.jpg)
Jika kebiasaan tersebut terasa mengganggu, langkah awalnya bukan memaksa diri untuk tidak pernah melihat jam. Yang lebih penting adalah memahami pemicunya.
Salah satu pendekatan yang dapat dicoba adalah memberikan jeda sebelum mengecek waktu. Ketika muncul dorongan untuk melihat jam, seseorang dapat berhenti sejenak dan bertanya, “Apakah saya benar-benar membutuhkan informasi ini sekarang?” Jika jawabannya tidak, perhatian dapat dikembalikan pada aktivitas yang sedang dilakukan.
Mindfulness juga dapat membantu seseorang mengembalikan perhatian ke saat ini. Healthline menyebutkan bahwa latihan mindfulness dapat membantu seseorang lebih fokus pada aktivitas yang sedang dijalani daripada terus memikirkan apa yang akan terjadi kemudian.
Selain itu, jadwal yang realistis dapat membantu mengurangi perasaan selalu dikejar waktu. Tidak semua kegiatan harus disusun hingga setiap menit terisi. Memberikan ruang untuk jeda, perjalanan, atau kemungkinan keterlambatan dapat membuat hubungan dengan waktu terasa lebih fleksibel.
Bila kebiasaan checking sudah menimbulkan tekanan yang besar, menghabiskan banyak waktu, mengganggu pekerjaan, atau membuat seseorang menghindari aktivitas tertentu, konsultasi dengan tenaga profesional kesehatan mental dapat menjadi pilihan. Healthline juga menyarankan mencari bantuan profesional ketika kecemasan terhadap waktu mulai memengaruhi suasana hati dan kemampuan menikmati aktivitas sehari-hari.
Pertanyaan Seputar Kebiasaan Melihat Jam
1. Apakah sering melihat jam merupakan hal yang normal?
Ya. Melihat jam merupakan perilaku normal selama dilakukan untuk memperoleh informasi tentang waktu dan tidak menimbulkan tekanan berarti. Kebiasaan tersebut baru perlu diperhatikan ketika dilakukan secara berlebihan, sulit dikendalikan, atau mengganggu aktivitas sehari-hari.
2. Mengapa saya sering melihat jam padahal baru saja melihatnya?
Salah satu kemungkinan adalah kekhawatiran terhadap waktu, terutama jika Anda takut terlambat atau merasa harus selalu mengetahui berapa banyak waktu yang tersisa. Dalam pola checking tertentu, dorongan melihat jam juga dapat muncul karena seseorang mencari kepastian atau ketenangan.
3. Apakah kebiasaan memeriksa jam berarti saya mengalami OCD?
Tidak selalu. Melihat jam berulang saja tidak cukup untuk menyimpulkan OCD. OCD melibatkan pola obsesi dan/atau kompulsi yang menimbulkan tekanan atau mengganggu kehidupan sehari-hari. Penilaian kondisi tersebut sebaiknya dilakukan oleh tenaga profesional.
4. Apakah terlalu sering melihat jam bisa membuat semakin cemas?
Pada orang yang mengalami kecemasan terhadap waktu, pengecekan jam berulang dapat menjadi bagian dari siklus kekhawatiran. Melihat jam mungkin memberikan rasa lega sementara, tetapi kekhawatiran dapat kembali muncul sehingga seseorang terdorong untuk mengecek lagi. Healthline mengaitkan pengecekan jam berlebihan dengan kecemasan terhadap kemungkinan terlambat.
5. Kapan kebiasaan melihat jam perlu mendapat perhatian?
Perhatikan jika kebiasaan tersebut membuat Anda sulit berkonsentrasi, terus merasa terburu-buru, kehilangan waktu untuk aktivitas lain, mengalami tekanan yang kuat, atau merasa harus mengecek jam berkali-kali agar tenang. Jika sudah mengganggu kehidupan sehari-hari, pertimbangkan untuk membicarakannya dengan psikolog atau profesional kesehatan mental.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5397802/original/071828300_1761817329-unnamed_-_2025-10-30T163114.197.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356701/original/084020000_1790217658-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356653/original/059241300_1790215848-Gemini_Generated_Image_fv2l30fv2l30fv2l.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356635/original/077463500_1790214850-8171ac9f-4f86-46a6-b6dc-789528285d51.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354790/original/038071400_1790063074-Screenshot_2026-09-22_144241.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356649/original/012186900_1790214988-85eb9cb4-ae71-4fbd-811b-f4b4011ff953.jpg)
![Tidak sedikit anak yang tiba-tiba rewel, menangis, marah, atau bahkan mengalami meltdown saat berada di tempat wisata karena kelelahan itu. [Dok/freepik.com]](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/jxPB5TNH0nn8re8DCFOsQg_YQkw=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7254711/original/003125400_1780040631-2149599412.jpg)
![Sahabat Fimela, yuk simak tips traveling dengan anak picky eater. [Dok/freepik.com/pvproductions]](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/BOaSn6x3gTIoUHDPu2cZgnZ0Cqg=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7255394/original/047151500_1780041531-13552.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569544/original/098163400_1777445637-pexels-luisbecerrafotografo-35659780.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5569519/original/039377400_1777444700-pexels-steffan-wiliams-2148064025-30895054.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564262/original/049314900_1776931762-flat-lay-hands-holding-notebook-cash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5572111/original/028475500_1777774433-pexels-cottonbro-7118214.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5537423/original/021121200_1774423642-pexels-yankrukov-5791251.jpg)
![Sahabat Fimela, terdepan cara sederhana untuk membersihkan kompor, yaitu dengan menggunakan racikan baking soda dan cuka. [Dok/freepik.com]](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/b5j_UycbiR6Uyj6fghEUoPdfem0=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7163473/original/028995400_1779953328-2148563321.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324526/original/017892800_1786715976-WhatsApp_Image_2026-08-14_at_20.34.49.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5691408/original/040891300_1778567403-pexels-denisenys-14824327.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317739/original/021174400_1786068843-SukkhaCitta_Plaza_Indonesia_Opening_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5261782/original/054643400_1750688856-portrait-woman-cooking-home-kitchen-holding-tomatoes-preparing-delicious-fresh-meal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5183320/original/007994800_1744178860-Depositphotos_543464536_S.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5125290/original/051027900_1738924822-portrait-young-mindful-woman-practice-yoga-exercising-inhale-exhale-fresh-air-park-sitt.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5154770/original/056213600_1741416037-OOTD_Sabrina_Chairunnisa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5428478/original/091892000_1764510239-jam_tangan_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4496554/original/003697800_1688957184-syahrul-alamsyah-wahid-h0KrcWloXsE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5420028/original/017091900_1763718438-Sediakan_Tempat_Sampah_Terpisah_dengan_Label_Jelas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9314373/original/019217700_1785744561-pexels-dmitry-rodionov-30680377.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9354984/original/074492100_1790068177-pexels-pavel-danilyuk-7938005.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4496723/original/082498100_1688964288-sylwia-bartyzel-m7HrMJJ0bW0-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9111664/original/072805600_1783064065-IMG_1262.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9111187/original/023809800_1783063078-IMG_1258.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7241807/original/019116900_1780027083-front-view-woman-kid-relaxing-home_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5424247/original/074560000_1764137623-Tes_DNA.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356904/original/005617200_1790225189-IMG_20260924_103046.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5480209/original/055827300_1769049427-53be1b51-4a07-4337-a7d7-3ea2480321b2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356571/original/014395600_1790208595-Screenshot_2015-09-24_070741.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356893/original/027466500_1790224667-WhatsApp_Image_2026-09-24_at_09.47.04.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356298/original/021008400_1790158069-WhatsApp_Image_2026-09-23_at_16.26.34.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356205/original/026740100_1790155243-pexels-rdne-6182295.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356597/original/094378300_1790211831-Yeji_to_Jakarta_for_Roger_Vivier1.jpeg)