Fimela.com, Jakarta - Ponsel telah menjadi bagian dari keseharian, mulai dari menyelesaikan pekerjaan, mencari informasi, hingga berkomunikasi dengan orang lain. Namun, tanpa disadari, kebiasaan memeriksa notifikasi atau menggulir media sosial juga bisa menyita waktu yang seharusnya digunakan untuk berinteraksi bersama keluarga. Karena itu, membatasi screen time bukan hanya penting bagi anak, tetapi juga bagi orangtua.
Dilansir dari American Academy of Pediatrics, orangtua perlu menjadi contoh dalam membangun kebiasaan digital yang sehat. Salah satunya dengan menghindari penggunaan ponsel yang mengalihkan perhatian saat sedang bersama anak. Waktu tatap muka dan aktivitas keluarga tanpa layar juga penting untuk mendukung perkembangan anak.
Membatasi penggunaan screen time bukan berarti orangtua harus sepenuhnya menjauh dari teknologi. Hal yang lebih penting adalah memahami kapan perangkat digital memang dibutuhkan dan kapan penggunaannya justru mengganggu interaksi langsung.
Misalnya, saat makan bersama, menemani anak bermain, atau mendengarkan cerita mereka, orangtua bisa menyimpan ponsel sejenak. Kebiasaan sederhana ini membantu menciptakan ruang komunikasi yang lebih nyaman.
Dengan memberikan perhatian secara utuh, orangtua tidak hanya mengatur kebiasaan digitalnya sendiri, tetapi juga menunjukkan contoh nyata tentang cara menggunakan teknologi secara bijak dalam kehidupan sehari-hari.
Kenali Kebiasaan Phubbing
Sahabat Fimela pernah merasa orangtua sibuk membalas pesan atau memeriksa media sosial ketika anak sedang bercerita? Situasi ini mungkin terasa sepele, terutama setelah menjalani hari yang melelahkan. Namun, jika terjadi berulang kali, kebiasaan tersebut dapat mengurangi kualitas interaksi antara orangtua dan anak.
Perilaku mengabaikan seseorang yang sedang berada di hadapan kita demi memperhatikan ponsel disebut phubbing. Dalam hubungan keluarga, kebiasaan ini dapat membuat momen kebersamaan teralihkan oleh aktivitas digital. Anak yang ingin mendapatkan perhatian pun berpotensi merasa kurang didengarkan ketika orangtua lebih sering melihat layar daripada merespons percakapan.
Kedekatan orangtua dan anak tidak hanya dibangun melalui kegiatan besar, seperti liburan atau perayaan ulang tahun. Momen sederhana, misalnya mendengarkan cerita sepulang sekolah, menemani anak bermain, atau berbincang sebelum tidur, juga memiliki arti penting. Kehadiran secara emosional membantu anak merasa diperhatikan dan memiliki ruang untuk menyampaikan perasaannya.
Mengurangi phubbing bukan berarti orangtua tidak boleh menggunakan ponsel saat bersama keluarga. Kuncinya adalah mengenali situasi ketika perhatian perlu diprioritaskan. Jika ada urusan mendesak, orangtua bisa menjelaskannya kepada anak. Setelah selesai, kembalilah terlibat dalam percakapan tanpa terus memeriksa layar. Dengan begitu, waktu bersama keluarga dapat terasa lebih hangat dan berkualitas.
Cara Orangtua Lebih Hadir untuk Anak
Mengurangi screen time tidak harus dilakukan dengan perubahan drastis. Orangtua bisa memulainya melalui kebiasaan sederhana yang realistis dan mudah diterapkan di rumah. Dengan aturan yang konsisten, penggunaan ponsel dapat tetap berjalan tanpa mengorbankan waktu berkualitas bersama anak.
Langkah pertama adalah menetapkan waktu bebas ponsel, misalnya saat makan bersama, menemani anak belajar, atau sebelum tidur. Pada waktu tersebut, orangtua dan anak dapat saling bercerita tanpa gangguan notifikasi. Jika memungkinkan, letakkan ponsel di tempat yang tidak mudah dijangkau agar keinginan untuk memeriksa layar berkurang.
Selanjutnya, matikan notifikasi yang tidak mendesak. Pesan dari grup percakapan atau pemberitahuan media sosial sering kali memicu kebiasaan membuka ponsel meskipun tidak ada kebutuhan penting. Orangtua juga bisa menentukan waktu khusus untuk memeriksa pesan dan menyelesaikan urusan pekerjaan.
Hal lain yang tidak kalah penting adalah membangun kesepakatan bersama keluarga. Aturan penggunaan perangkat digital sebaiknya berlaku bagi orangtua maupun anak, sehingga tidak terkesan sebagai larangan sepihak. Orangtua dapat menjelaskan alasan di balik aturan tersebut sekaligus memberikan contoh melalui perilaku sehari-hari.
Pada akhirnya, membatasi screen time bukan sekadar mengurangi durasi menatap layar. Tujuannya adalah menciptakan keseimbangan antara dunia digital dan hubungan nyata, agar setiap anggota keluarga dapat merasa lebih didengar, dihargai, dan terhubung satu sama lain.