Kolesterol Tinggi Tak Lagi Identik dengan Usia Lanjut, Anak Muda Juga Perlu Waspada

Vinsensia DianawantiDiterbitkan 02 November 2026, 13:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Kesibukan bekerja, kebiasaan memesan makanan cepat saji, konsumsi minuman manis, hingga minimnya aktivitas fisik sering kali menjadi bagian dari keseharian masyarakat urban. Selama tubuh masih terasa bugar dan tidak ada keluhan, gaya hidup seperti ini kerap dianggap tidak terlalu berpengaruh terhadap kesehatan. Padahal, ada satu kondisi yang dapat berkembang tanpa disadari, yakni kadar lemak darah yang tidak seimbang atau dislipidemia. Kondisi ini memicu meningkatnya tingkat kolesterol pada tubuh

Selama ini, kolesterol tinggi sering dikaitkan dengan kelompok usia lanjut. Namun, persoalan ini juga perlu diperhatikan sejak usia produktif. Hasil Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang diterbitkan Kementerian Kesehatan menunjukkan adanya temuan kadar kolesterol total tinggi pada kelompok usia 15–24 tahun sebesar 2,8%, serta 7,8% pada kelompok usia 25–34 tahun.

Tidak hanya itu, hasil pemeriksaan trigliserida dalam survei yang sama menunjukkan kadar tinggi pada 12,8% kelompok usia 15–24 tahun dan 22,6% kelompok usia 25–34 tahun. Temuan ini memperlihatkan bahwa pemantauan kesehatan lemak darah tidak sebaiknya hanya dilakukan ketika seseorang memasuki usia paruh baya.

Salah satu hal yang membuat kolesterol tinggi perlu diwaspadai adalah kondisinya sering kali tidak menimbulkan tanda fisik yang jelas. Seseorang dapat tetap merasa sehat dan menjalani aktivitas seperti biasa, meskipun hasil pemeriksaan darah menunjukkan kadar lemak yang tidak ideal.

Menurut Kementerian Kesehatan, kolesterol yang menumpuk di dinding pembuluh darah dalam jangka panjang dapat berkontribusi terhadap aterosklerosis, yaitu kondisi ketika pembuluh darah mengalami penyempitan akibat penumpukan plak. Kondisi tersebut berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular, termasuk serangan jantung dan stroke.

Karena itu, merasa bugar belum tentu menjadi satu-satunya indikator bahwa kondisi metabolisme tubuh berada dalam keadaan baik. Pemeriksaan darah menjadi salah satu cara untuk mengetahui kondisi tersebut secara lebih akurat.

 

2 dari 5 halaman

Tidak Cukup Hanya Memeriksa Kolesterol Total

Selain karena kadar kolesterol tinggi yang diakibatkan karena masalah kesehatan, berbagai kebiasaan di bawah ini juga dapat meningkatkan risiko perempuan terkena kolesterol. (Foto: Unsplash.com/Eric Ward)

Dalam mengevaluasi kesehatan lemak darah, perhatian tidak cukup hanya tertuju pada angka kolesterol total. Pemeriksaan profil lipid umumnya mencakup empat indikator penting, yaitu kolesterol total, LDL, HDL, dan trigliserida.

Keempatnya memiliki fungsi dan karakteristik yang berbeda.

  • LDL (Low-Density Lipoprotein) sering disebut sebagai kolesterol jahat karena kadar yang terlalu tinggi dapat mendorong penumpukan kolesterol pada dinding pembuluh darah.
  • HDL (High-Density Lipoprotein) dikenal sebagai kolesterol baik karena membantu membawa kolesterol dari jaringan tubuh kembali ke hati untuk diproses lebih lanjut.
  • Trigliserida merupakan jenis lemak yang digunakan tubuh sebagai sumber energi. Kadarnya dapat meningkat, antara lain, akibat konsumsi kalori berlebihan, terutama dari gula dan karbohidrat sederhana, serta faktor gaya hidup dan kondisi kesehatan tertentu.
  • Kolesterol total merupakan gambaran keseluruhan kadar kolesterol dalam darah. Namun, angka ini perlu dibaca bersama hasil pemeriksaan LDL, HDL, dan trigliserida agar kondisi profil lipid dapat dievaluasi secara lebih menyeluruh.

Pola makan tinggi lemak jenuh dan lemak trans, konsumsi makanan yang digoreng secara berlebihan, kebiasaan merokok, kurang aktivitas fisik, serta kelebihan berat badan dapat berkontribusi terhadap gangguan profil lipid.

Dalam kehidupan perkotaan, kebiasaan tersebut terkadang terbentuk tanpa disadari. Makan sambil bekerja, terlalu sering mengandalkan makanan siap saji, duduk dalam waktu lama, dan jarang berolahraga bisa menjadi rutinitas yang berlangsung selama bertahun-tahun.

Faktor genetik dan riwayat keluarga juga berperan. Karena itu, seseorang yang masih muda dan memiliki berat badan normal tetap dapat mengalami gangguan kadar kolesterol.

Kementerian Kesehatan melalui publikasi Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan mengenai pemeriksaan kesehatan pada usia muda menyarankan pemeriksaan profil lipid mulai usia 20 tahun. Pemeriksaan awal dapat dilakukan saat pertama kali menjalani pemeriksaan kesehatan, kemudian diulang sekitar lima tahun sekali atau menyesuaikan kondisi dan faktor risiko masing-masing individu.

 

3 dari 5 halaman

Menjaga Profil Lipid Dimulai dari Kebiasaan Sehari-hari

Ilustrasi Mengecek Kadar Kolesterol/photo by rawpixel.com/freepik

Pencegahan dan pengelolaan dislipidemia tidak hanya mengandalkan satu jenis tindakan. Modifikasi gaya hidup menjadi bagian penting untuk membantu menjaga kadar lemak darah tetap terkendali.

Beberapa langkah yang dapat diterapkan antara lain mengurangi konsumsi lemak jenuh dan lemak trans, memperbanyak sayur, buah, serta makanan berserat, dan memilih sumber protein yang lebih rendah lemak. Teknik memasak seperti mengukus, memanggang, atau menumis dengan sedikit minyak juga dapat menjadi alternatif dibandingkan terlalu sering mengonsumsi makanan yang digoreng.

Aktivitas fisik secara teratur, menjaga berat badan yang sehat, menghindari rokok, serta membatasi konsumsi makanan dan minuman tinggi gula juga perlu menjadi perhatian.

Apabila hasil pemeriksaan menunjukkan kadar kolesterol tidak normal, langkah selanjutnya sebaiknya didiskusikan dengan dokter. Penanganan dapat berbeda pada setiap individu, bergantung pada hasil profil lipid, riwayat kesehatan, serta faktor risiko kardiovaskular lainnya. Pada kondisi tertentu, dokter dapat merekomendasikan terapi obat selain perubahan gaya hidup.

 

4 dari 5 halaman

Pilihan Pendukung untuk Membantu Mengelola Kolesterol

Generasi muda memiliki risiko mengalami kolesterol, begini faktanya! (dok. HolistiCare)

Seiring meningkatnya perhatian terhadap kesehatan metabolisme, berbagai pilihan produk penunjang kesehatan juga hadir di pasaran. Salah satunya adalah Holisticare Cholfree, produk herbal yang diperkenalkan oleh PT Indocare Citrapasific, bagian dari PT Konimex, untuk melengkapi rangkaian produk Holisticare.

Menurut perusahaan, Holisticare Cholfree dikembangkan dengan pendekatan manfaat 4-in-1 yang ditujukan untuk membantu menurunkan kolesterol total, menurunkan trigliserida, menurunkan LDL, serta meningkatkan HDL.

Jani Sartana Bruinier, Group Brand Consumer Department Head PT Indocare Citrapasific, mengatakan bahwa produk ini dihadirkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat yang semakin memperhatikan kesehatan lemak darah di tengah kesibukan sehari-hari.

“Tuntutan kesibukan harian sering kali membuat masyarakat lupa memantau kesehatan lemak darahnya. Melalui Holisticare Cholfree, kami ingin menghadirkan solusi praktis dan terpercaya bagi masyarakat agar tetap aktif tanpa dihantui kekhawatiran jangka panjang,” ungkapnya.

Sementara itu, dr. Oscar Wiradi Putera, Medical Scientific Support Supervisor PT Indocare Citrapasific, menyampaikan bahwa pendekatan multimekanisme dari bahan alami menjadi salah satu aspek yang dikembangkan dalam produk tersebut.

“Pendekatan multimekanisme dari bahan alami memberikan alternatif pencegahan yang sangat baik untuk melindungi pembuluh darah dari risiko pembentukan plak di masa mendatang,” tuturnya.

Perusahaan menyebut Holisticare Cholfree dibuat dari bahan alami, telah memperoleh izin edar BPOM, dan bersertifikat halal. Produk ini direkomendasikan oleh perusahaan untuk dikonsumsi dua kaplet salut selaput per hari. Namun, efektivitas dan kecocokan produk dapat berbeda pada setiap orang. Klaim manfaatnya tetap perlu dipahami sesuai informasi produk yang disetujui regulator, dan penggunaannya sebaiknya dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan, terutama bagi mereka yang memiliki kondisi medis tertentu atau sedang mengonsumsi obat.

Produk herbal juga tidak dapat menggantikan pemeriksaan profil lipid, perubahan pola hidup, maupun obat penurun kolesterol yang diresepkan dokter apabila memang diperlukan.

 

5 dari 5 halaman

Jangan Menunggu Keluhan untuk Memeriksa Kesehatan

Data SKI 2023 menjadi pengingat bahwa temuan kadar kolesterol total dan trigliserida tinggi juga terdapat pada kelompok usia produktif. Meski angka tersebut tidak berarti seluruh anak muda memiliki masalah kolesterol, hasilnya memperlihatkan pentingnya kesadaran untuk memantau kesehatan sejak dini.

Menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah bukan hanya urusan ketika usia bertambah atau keluhan mulai muncul. Justru, membangun kebiasaan sehat sejak muda dapat menjadi investasi untuk kesehatan jangka panjang.

Sebab, di tengah aktivitas yang padat, tubuh tetap membutuhkan perhatian. Dan terkadang, langkah sederhana seperti memperbaiki pola makan, lebih aktif bergerak, serta meluangkan waktu untuk pemeriksaan kesehatan dapat menjadi awal yang berarti.