Sukses

Entertainment

Eksklusif, Mental dan Musik Jadi Resep Hidup D'MASIV

Fimela.com, Jakarta Bicara konsistensi tak hanya soal 'bertahan lama'. Bagi para pelaku dunia entertainment terutama musisi, karya menjadi tolok ukur utama eksistensi. D'MASIV termasuk salah satu yang telah teruji dan terus mengembangkan diri.

Band yang terbentuk sejak Maret 2003 silam ini memang lebih dikenal dengan lagu-lagunya yang melankolis. Karakter Rian, sang vokalis sangat mendukung langkah mereka bermain di ranah pop ballad.

Mengalami suka duka bersama, D'MASIV banyak belajar tentang kehidupan dan musik.(Foto: Bambang E Ros, Digital Imaging: Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Namun D'MASIV bukan hanya band bergenre pop galau, dengan syairnya yang menyayat hati. Sebagai musisi, Rian, Wahyu, Rayyi, Kiki dan Rama tentu juga memiliki hasrat untuk menyalurkan musikalitas melalui karya yang juga bisa dinikmati banyak orang.

Yang tak terlalu banyak disadari, D'MASIV ternyata cukup konsisten dengan lagu-lagu bertema religi, atau ketuhanan. Jangan Menyerah, Mohon Ampun hingga Taman Surga mereka selipkan di antara deretan lagu andalan beraroma cinta dan kesedihan.

"Sebenernya hampir tiap tahun kita mengeluarkan lagu yang bertema ketuhanan. Biasanya lagu yang kita ciptakan memang hasil dari pengalaman yang kita rasakan, jadi bukan karena jelang Ramadan kita rilis lagu religi," ujar Rian kepada Bintang.com belum lama ini.

Mengalami suka duka bersama, D'MASIV banyak belajar tentang kehidupan dan musik.(Foto: Bambang E Ros, Digital Imaging: Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Satu band yang terdiri dari beberapa kepala, D'MASIV menjadi lebih dari sekedar rekan kerja. Pengalaman hidup, suka duka yang dialami juga membuat mereka berumbuh bersama. Bukan hanya soal musik, tapi juga mentalitas dan cara mereka memaknai kehidupan.

Simak hasil wawancara Bintang.com dengan D'MASIV tentang pandangan bermusik, sikap mereka terhadap lagu religi serta hal-hal di luar kebiasaan yang coba mereka lakukan. Berikut petikan selengkapnya.

Sisi Religius D'MASIV

Banyak musisi melempar lagu religi mereka di momen bulan Ramadan atau Lebaran. Begitupun D'MASIV yang melempar single Taman Surgamu di bulan Ramadan tahun ini.

Namun hal itu bukan semata karena momen Ramadan, karena bagi mereka lagu religi menjadi cerminan hal yang mereka rasakan. Karena lagu religi memiliki tanggung jawab tersendiri.

Mengalami suka duka bersama, D'MASIV banyak belajar tentang kehidupan dan musik.(Foto: Bambang E Ros, Digital Imaging: Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Momen apa yang melatarbelakangi single D'MASIV, Taman Surgamu?

Rian: Sebenernya hampir tiap tahun kita mengeluarkan lagu yang bertema ketuhanan. Biasanya lagu yang kita ciptakan memang hasil dari pengalaman yang kita rasakan. Seperti di tahun ini kita merilis Taman Surgamu, di mana lagu ini tercipta karena pengalaman kita umroh kemarin, di Makkah dan Madinah. 

Kebetulan lagu ini Rian yang tulis, tercipta selama 9 hari di 3 tempat yang berbeda yaitu Raudlah di Masjid Nabawi. Itu tempat di antara mimbar dan tempat tidur Rasulullah. Lalu di Mekkah, Gua Hiro tempat Nabi Muhammad pertama menerima wahyu. Di situ dapet lirik. Lalu yang ketiga di depan Ka'bah, kalo nggak salah setelah sholat Ashar, dan selesai di sana.

Makna lagu Taman Surgamu bagi D'MASIV apa?

Rian: Intinya sih tentang mohon ampun, kan kita sebagai manusia banyak dosa. Kita ingin jadi orang yang lebih baik lagi, dan bisa kembali ke Raudlah, itu kan taman surga. Tapi Taman Surga buat kita sih sangat luas ya.  Bisa masjid, rumah atau keluarga. Kita pengennya bisa terus singgah di taman surga itu.

Di akhir lagu ada Doa Sapu Jagad, ada alasan tertentu memilih doa itu?

Rama: Kenapa pilih Doa Sapu Jagad ide awalnya adalah pengen ada satu doa yang kita selipkan di lagu. Berangkat dari lirik yang dibuat Rian sih, isinya kan tentang doa, mohon ampun. Kayanya Doa Sapu Jagad itu cocok, secara arti sesuai dan penggalan kata per katanya pas. Bahkan ada yang bilang 'gue merinding pas denger lagu Taman Surgamu pas part Doa Sapu Jagad ini.

Mengalami suka duka bersama, D'MASIV banyak belajar tentang kehidupan dan musik.(Foto: Bambang E Ros, Digital Imaging: Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com) 

Merilis lagu religi tentu ada tanggung jawab tersendiri, buat D'MASIV apakah itu jadi beban?

Rian: Kita bikin lagu bertema ketuhanan karena ada momen, bukan nggak ada apa-apa trus kita bikin lagu. Kaya Mohon Ampun Aku waktu itu karena hasil dari I'tikaf, terus Jangan Menyerah setelah lihat anak penderita kanker yang divonis 4 bulan meninggal tapi sampai detik ini masih hidup. Bener lagu religi tanggung jawabnya besar, karena itu tiap kita bikin lagu religi kita ngelihat diri sendiri dulu bukan orang lain, apa yang kita rasain. Kaya jadi pengingat buat kita, dan nggak ada salahnya menebar kebaikan. Kalau lagu itu bermanfaat bagi orang lain ya itu jadi bonus tersendiri.

Ini jadi momen Umroh pertama bagi Wahyu, bagaimana kesannya?

Wahyu: Pengalamannya banyak ya. Sebagai pemeluk Islam yang masih muda itungannya, bisa dikasih kesempatan ke tanah suci. Selama ini denger dari orang aja. Bener banyak orang yang bilang banyaklah berdoa yang baik-baik, Insya Allah doanya akan diijabah. Banyak doa yang dalam waktu sesingkat ini satu per satu mulai terkabul. Kan ada orang yang setahun sekali ke sana, atau yang sama sekali nggak pernah, luangkanlah waktu untuk ke sana dan panjatkan doa sebanyaknya. Insya allah kita akan lebih siap untuk melalui kehidupan dunia dan menyambut kehidupan akhirat.

Mentalitas D'MASIV dalam Bermusik

Tak semua orang bisa meraih suksesnya dengan instan, kadang mereka butuh perjuangan ekstra berat dan pengorbanan yang tak main-main demi wujudkan mimpi. Sejak awal, D'MASIV setia dengan mimpi-mimpi mereka.

Perjalanan mereka berawal dari band jagoan yang memenangi berbagai festival musik. Mereka pun terus mengeksplor kemampuan untuk menjadi band yang mampu berevolusi.

Mengalami suka duka bersama, D'MASIV banyak belajar tentang kehidupan dan musik.(Foto: Bambang E Ros, Digital Imaging: Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Apa yang membuat D'MASIV tetap kompak dan konsisten berkarya?

Rian: Rahasianya adalah kita main musik itu bukan beban. Jadi kita bermain musik untuk menghilangkan semua hal yang negatif, misalnya lagi kesel main musik hilang. Musik bagi kita adalah terapi juga, waktu naik panggung melihat penonton nyanyiin lagu kita dengan semangat semua masalah hilang. Kita tetap jadi seperti dulu aja. Komunikasi kita bagus, dan ngelakuin hal-hal yang dulu sering kita lakukan seperti makan di warteg, nongkrong di pinggir jalan, kita sholat berjamaah. Saling menghormati itu yang terus kita lakukan.

Mimpi kita juga nggak sampe sini doang. Kita masih punya mimpi yang panjang. Kita selalu punya mimpi yang kita tulis di buku curhat kita. Selalu punya rencana 5 tahun, 10 tahun lagi mau ngapain. Kalo mau sukses harus punya target. Selalu ada hal yang ingin kita lakukan. Kita pernah ikut festival dan kepilih di Irlandia, main jazz, bikin rekor sehari manggung di 50 titik, dan sempet berkolaborasi dengan legend juga sama Mas Yockie Suryoprayogo. Yang penting harus selalu of the box. terus evolusi dan eksplor. Rama bahkan sampai les gitar, terus Wahyu punya drum set yang aneh-aneh.

Kalau musisi udah nggak ngomongin musik bahaya. mending cari profesi lain aja.

Main jazz, rock, pop dan religi. Sebenarnya idealisme bermusik D'MASIV seperti apa?

Kita dulu pas masih sering ikut festival mainnya progresif metal. Nggak pernah mengotakkan musik sih. Idealisme kita bermusik yakni memainkan lagu yang kita suka. Kita bikin album, nggak mungkin kita nggak suka. Kita bikin lagu yang disukai banyak orang dan nggak semua band bisa melakukan itu. Perlu trick dan faktor-faktor lain.

Mengalami suka duka bersama, D'MASIV banyak belajar tentang kehidupan dan musik.(Foto: Bambang E Ros, Digital Imaging: Muhammad Iqbal Nurfajri/Bintang.com)

Eksplorasi kalian sejauh mana, terutama di album kelima ini?

Rian: Album kelima kita coba masukin musik etnik di lagu Bersama Dalam Cinta. Ada suara instrumen tradisional sama suara vokal Jawa di sana. Kita nulis lagu itu karena agak gerah dengan suasana Indonesia yang memanas. Beda suku, beda agama, beda pilihan berantem. Mudah mudahan bisa berpengaruh untuk banyak orang.

Referensi musik yang kalian dengar belakangan ini apa saja?

Kiki: Ngikut koleksi kakak Rian aja sih. Apa ya, paling Selena Gomez, yang Revival. Itu sih.
Rian: Gue terakhir beli 3 CD, ada The Chainsmokers, trus albumnya Ed sheeran yang Divide, sama Tame Impala yang Currents.
Wahyu: Basicnya rock pasti ya. Tapi belakangan ini gue lagi dengerin, bukan mainin ya, lagi sering denger death metal.
Rama:  Kalau gue suka denger musik 90an, brit pop kaya Blur, Oasis, grunge juga. Belakangan denger lagu-lagunya Chris Cornell sih.
Rayyi: Dengerin koleksi kakak sama nyokap sih. Gue dengerin semua jenis musik, nggak spesifik genre tertentu. Belakangan dengerin electronic yang ngawang-ngawang gitu, kaya M83, sama Portishead gue dengerin.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading