Sukses

Fashion

[Vemale's Review] Novel Bristol Karya Vinca Callista

Judul: Bristol
Penulis: Vinca Callista
Editor: Septi Ws
Desainer sampul: Teguh
Penerbit: Grasindo
Cetakan pertama, Juli 2016

El-Visnu Ansara mengajak Kaendra Salasika ke Bristol, Inggris, untuk memilih jurusan kuliah yang akan diambilnya. Sebenarnya, hal itu bisa dilakukan dari Indonesia. Tapi, Kae enggak menolak tawaran jalan-jalan gratis ke kota impiannya. Apalagi, dia bisa pergi jauh dari adik kembar yang tidak diinginkannya.

Namun ternyata, perjalanan ke sisi lain dunia menyeret Kae ke banyak pertanyaan membingungkan. Tentang Elvis dan beasiswa yang diberikan untuknya. Tentang masa lalu Elvis yang belum usai dengan Alita, cewek paling keren yang jadi idola Kae, sekaligus pemilik flat mewah tempat mereka tinggal di Bristol.

Kae berada di ambang krisis kepercayaan diri, sementara mimpi-mimpinya yang tinggi terus mendesak minta diwujudkan. Bristol pun tanpa diduga mempertemukannya dengan Greg, cowok Inggris yang mendambakan perempuan Indonesia dalam hidupnya

Kae tak punya banyak waktu. Ia harus segera menentukan pilihan. Dan, Bristol menjadi saksi kepada siapa hati Kae dijatuhkan.


Tiap orang punya mimpi. Mimpi yang selalu memberi harapan dan warna baru dalam kehidupan. Tapi hidup juga kadang berisi banyak luka dan hal-hal yang tak sempurna. Dan itu semua tak bisa kita hindari. Justru harus dijalani satu per satu dengan semua kejutannya.

Kunjungan Kaendra ke sebuah pameran pendidikan mempertemukannya dengan Elvis. Memiliki impian bisa kuliah di Inggris, Kae sudah merasa cukup senang bisa jalan-jalan ke pameran pendidikan Inggris. Dengan cara itu, ia setidaknya bisa berada sudah dekat dengan impiannya. Apalagi ternyata Elvis memberi penawaran yang sangat menarik. Perusahaan Ayah Elvis memiliki program beasiswa ke Inggris dan Kae mendapat tawaran itu.

Foto: copyright Vemale/nda

Kae dan Elvis kemudian pergi ke Bristol. Tujuannya agar bisa melihat kampus dan memantapkan jurusan kuliah yang akan diambil oleh Kae. Di sana, mereka tinggal di apartemen Alita yang sangat mewah. Kae merasa sangat bahagia. Baru pertama kalinya ia bisa merasakan kemewahan yang selama ini tak dimilikinya. Di rumahnya di Bandung, Kae saja harus berbagi kamar dengan adik kembarnya, Keola. Meski memiliki ikatan sebagai saudara kembar, Kae tidak merasa dekat dengan Keola. Bahkan ia menganggap adik kembarnya itu sangat mengganggu. Apalagi sejak kepergian ibunya, Kae malah seakan memusuhi ayahnya yang lebih memilih untuk membiayai kuliah Keola dan menunda rencana kuliah Kae.

Kae sangat mengagumi Alita. Alita yang cantik, kaya, dan punya banyak teman. Tapi begitu mengetahui kalau ada sesuatu yang tak biasa dalam hubungan Alita dan Elvis, hati Kae merasa terluka. Ternyata Alita dan Elvis memiliki masa lalu yang cukup rumit. Kae juga sempat dikenalkan dengan teman-teman band Alita, Papersaga. Salah satu yang kemudian jadi cukup dekat dengannya adalah Greg, seorang drummer yang punya keinginan memiliki kekasih perempuan Indonesia. Bersama Greg, Kae menjelajahi berbagai tempat menarik di Bristol. Hanya saja kemudian kesalahpahaman terjadi antara Elvis, Alita, Kae, dan juga melibatkan Greg. Setelah sebelumnya Kae dan Elvis berselisih soal jurusan kuliah yang akan dipilih Kae, Media Artistry atau Media Literacy?

Pengalaman dan petualangannya di Bristol membuat Kae belajar banyak hal. Tentang impiannya dan juga soal cara berdamai dengan dirinya sendiri. Bahkan hubungannya dengan Keola pun agak mencair. Kae mengalami patah hati tapi juga akhirnya menemukan cinta yang baru.

Memori adalah bahan baku kehidupan manusia. Menyadarkan betapa pentingnya masa lalu, dan masa kini yang akan segera menjadi masa lalu.

Foto: copyright Vemale/nda

Yang paling saya suka dari novel ini adalah tentang bagaimana seorang Kae memperjuangkan impiannya. Ia bahkan menyampuli bukunya dengan peta dunia. Supaya bisa punya gambaran lebih jelas akan tempat-tempat impiannya yang ingin dijelajahinya. Bercita-cita sebagai seorang penulis, Kae memang punya imajinasi yang tak biasa. Melamun sebentar saja, pikirannya sudah berandai-andai ke mana-mana. Meski terbilang kekanak-kanakan, tapi sifatnya yang bisa ceria membuat orang lain bisa nyaman di dengannya. Greg saja sampai terpana meski awalnya dia ilfeel sama Kae.

Menurut saya, chemistry antara Kae dan Greg terasa lebih mengena daripada Kae dan Elvis. Mungkin karena porsi cerita jalan-jalannya didominasi oleh Kae dan Greg. Jadi interaksi mereka berdua lebih banyak. Ada sejumlah tempat seru yang dijelajahi mereka berdua dan juga ada sejumlah petikan sejarahnya. Apa saja tempat-tempat yang mereka kunjungi? Langsung saja deh baca novelnya biar nggak penasaran.

Membaca novel ini kita akan diajak-ajak keliling Briston sekaligus menyelami isi hati masing-masing karakternya. Ditambah lagi ada selingan kutipan-kutipan yang menarik dari Kae. Cocok banget dibaca buat kamu yang ingin lebih memahami arti cinta juga soal perjuangan meraih impian.



(vem/nda)

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading