Fimela.com, Jakarta Sahabat Fimela, pernahkah kamu mendengar istilah pseudodementia? Sekilas, kondisi ini memang tampak mirip dengan demensia, karena sama-sama melibatkan gangguan pada daya ingat, kemampuan berbicara, atau fokus berpikir. Namun, dibalik kemiripannya, pseudodementia sebenarnya memiliki penyebab yang berbeda.
Menurut Medical News Today, pseudodementia bukanlah akibat dari kerusakan saraf otak seperti pada demensia, melainkan muncul karena kondisi kejiwaan, terutama depresi atau gangguan suasana hati. Itulah mengapa kondisi ini sering disebut juga sebagai depressive pseudodementia. Kabar baiknya, dengan penanganan yang tepat, gejalanya bisa membaik secara signifikan.
Memang pseudodementia ekilas mirip dengan demensia, namun mereka memiliki perbedaan yang secara mendasar. Pada demensia, kerusakan terjadi karena penurunan fungsi otak yang bersifat permanen, seperti pada Alzheimer atau penyakit neurodegeneratif lainnya. Sedangkan pada pseudodementia, fungsi otak masih normal, gangguannya lebih disebabkan oleh perubahan suasana hati dan stres mental.
Advertisement
Perbedaan lainnya, orang dengan demensia sering kali tidak menyadari bahwa dirinya mengalami gangguan daya ingat, sedangkan penderita pseudodementia justru menyadari dan sering mengeluhkan hal tersebut. Selain itu, hasil tes kognitif orang dengan pseudodementia biasanya masih baik, berbeda dengan demensia yang menunjukkan penurunan fungsi berpikir yang signifikan.
Menariknya, pada beberapa kasus, pseudodementia dapat menjadi pertanda awal dari demensia sebenarnya di kemudian hari. Karena itu, diagnosis dan pengawasan medis sangat diperlukan.
Advertisement
Gejala Pseudodementia
![Gejala Pseudodementia [Dok/freepik.com]](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/2JTr0cjnwEZ7cFunOGG-v6TrBkU=/640x360/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5379258/original/054635000_1760339802-young-woman-holding-elderly-woman-s-hand.jpg)
Pseudodementia sering kali menimbulkan gejala yang sekilas tampak sama seperti demensia. Penderitanya mungkin mulai kesulitan berbicara atau memilih kata-kata yang tepat, melupakan hal-hal kecil yang baru saja terjadi, atau kehilangan fokus ketika mencoba menyelesaikan pekerjaan sederhana.
Tak jarang, mereka juga merasa kesulitan dalam merencanakan sesuatu atau mengatur aktivitas sehari-hari. Suasana hati pun bisa berubah-ubah tanpa sebab yang jelas, membuat orang di sekitarnya kebingungan menghadapi perubahan emosi tersebut.
Namun, berbeda dengan demensia, gejala pseudodementia sering disertai tanda-tanda yang berkaitan dengan kondisi psikologis, terutama depresi. Penderitanya bisa kehilangan minat terhadap hal-hal yang dulu disukai, merasa hampa atau sedih berkepanjangan, dan perlahan menarik diri dari lingkungan sosial.
Mereka juga mungkin mengalami gangguan tidur, sulit tidur di malam hari atau justru tidur berlebihan, disertai perubahan pola makan dan rasa lelah yang tak kunjung hilang. Dalam kondisi yang lebih berat, bahkan dapat muncul pikiran untuk menyakiti diri sendiri.
Kondisi ini umumnya dialami oleh orang berusia di atas 50 tahun, tetapi tidak menutup kemungkinan terjadi pada siapa pun yang sedang mengalami tekanan emosional atau stres berat.
Karena gejalanya yang samar dan sering menyerupai gangguan memori akibat penuaan, pseudodementia kerap terabaikan hingga menyebabkan penderita tidak mendapatkan penanganan yang tepat sejak awal.
Cara Dokter Mendiagnosis dan Bagaimana Penanganannya
![Cara Dokter Mendiagnosis dan Bagaimana Penanganannya [Dok/freepik.com]](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/4XQIQluiYmbZNXbs2Qex0CU34l8=/640x360/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5379259/original/087711400_1760339806-old-patient-suffering-from-parkinson-2.jpg)
Cara Dokter Mendiagnosis
Membedakan pseudodementia dan demensia bukan hal mudah, bahkan bagi tenaga medis. Dokter biasanya akan melakukan serangkaian pemeriksaan seperti, tes fungsi kognitif (memori, bahasa, pemecahan masalah, perhatian), pemeriksaan darah untuk melihat kekurangan nutrisi seperti vitamin B12 atau folat.
Selain itu terdapat pemeriksaan pencitraan otak (CT scan atau MRI) untuk mendeteksi adanya kerusakan saraf. Kemudian, diagnosis pseudodementia baru bisa ditegakkan setelah penyebab neurologis dan medis lainnya disingkirkan terlebih dahulu.
Pengobatan dan Penanganan
Kabar baiknya, pseudodementia bisa membaik dengan pengobatan yang tepat. Penanganannya berfokus pada mengatasi kondisi psikologis yang mendasari, seperti depresi atau kecemasan.Beberapa bentuk terapi yang biasa diberikan antara lain:
- Psikoterapi, terutama Cognitive Behavioral Therapy (CBT)
- Obat antidepresan, seperti SSRI, sesuai rekomendasi dokter
- Perubahan gaya hidup, termasuk olahraga ringan, tidur cukup, dan menjaga pola makan seimbang
Dalam banyak kasus, setelah depresi tertangani, fungsi kognitif penderita pseudodementia bisa pulih sepenuhnya. Namun, proses pemulihan tetap membutuhkan waktu, konsistensi, dan dukungan dari orang-orang terdekat.

![Mengenal Pseudodementia, Kondisi yang Mirip dengan Demensia dan Cara Mengatasinya [Dok/freepik.com]](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/SJqTipP7k0X9VlXArxIlPRwvRB0=/1280x720/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5379257/original/074584200_1760339791-lonely-senior-elderly-man-male-enjoying-looking-out-window-home-view-from-his-windowside-view-senior-man-who-has-chronic-illness-alzheimer-s-disease-sitting-living-room-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5379232/original/029414100_1760339205-full-shot-fit-women-running-together.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5462967/original/076809000_1767596357-beautiful-woman-listening-music.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5568610/original/049652300_1777364543-attractive-young-woman-basket-fruits-vegetables-kitchen.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2923702/original/098120700_1569563536-kinga-cichewicz-FVRTLKgQ700-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316107/original/035215600_1785913306-IMG_2377.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7603723/original/024514100_1780387722-pexels-mehmet-altintas-392989477-31486443.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5572111/original/028475500_1777774433-pexels-cottonbro-7118214.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7826343/original/031913400_1780645907-pexels-cottonbro-6181839.jpg)
![Bikin anak makin sehat, ini rahasia trik stimulasi grounding. [Dok/Pexels.com/Ron Lach].](https://cdn1-production-images-kly.akamaized.net/cgstAcTvTYUIV7GNtQsuPEOVcXU=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7955671/original/027065700_1780791938-pexels-ron-lach-10033218.jpg)
![Jadwal screen time anak perlu dijadwalkan oleh orangtua. [Dok/Pexels.com/Jessica Lewis 🦋 thepaintedsquare].](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/LK86RnhAWzlG7K1ijIgo3wL9INw=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8051043/original/064727300_1780894473-pexels-thepaintedsquare-4200824.jpg)
![Sahabat Fimela, foto keluarga yang terlihat spontan justru sering terasa lebih natural dan penuh cerita dibanding pose yang terlalu formal. f[Dok/freepik.com/pchvector]](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/dvcaFlLD52L-XiJszSMZSwrQzQY=/320x217/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5631062/original/040957100_1778229336-12873.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324526/original/017892800_1786715976-WhatsApp_Image_2026-08-14_at_20.34.49.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5691408/original/040891300_1778567403-pexels-denisenys-14824327.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317739/original/021174400_1786068843-SukkhaCitta_Plaza_Indonesia_Opening_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5261782/original/054643400_1750688856-portrait-woman-cooking-home-kitchen-holding-tomatoes-preparing-delicious-fresh-meal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5934075/original/055087900_1778831527-pexels-maksgelatin-4775196.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293366/original/017821600_1783695315-DSC09836.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5183320/original/007994800_1744178860-Depositphotos_543464536_S.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5125290/original/051027900_1738924822-portrait-young-mindful-woman-practice-yoga-exercising-inhale-exhale-fresh-air-park-sitt.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5154770/original/056213600_1741416037-OOTD_Sabrina_Chairunnisa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5428478/original/091892000_1764510239-jam_tangan_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4496554/original/003697800_1688957184-syahrul-alamsyah-wahid-h0KrcWloXsE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5420028/original/017091900_1763718438-Sediakan_Tempat_Sampah_Terpisah_dengan_Label_Jelas.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5570303/original/045253200_1777521902-mom-daughter-making-high-five_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5457158/original/075801100_1766989393-senivpetro.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5542574/original/034170700_1774946838-medium-shot-people-yoga-mat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5436169/original/033702700_1765164894-medium-shot-woman-working-from-home.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5294924/original/059949500_1753424920-aditya-romansa-5zp0jym2w9M-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331472/original/000237400_1787545626-katsia-jazwinska-mPCaVEv-pqs-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9326200/original/073461400_1786965125-gem2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9326201/original/003720900_1786965126-gem3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335646/original/011346500_1788009959-IMG-20260829-WA0049.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335626/original/080018000_1788008067-1000118220.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5292222/original/022875000_1753247405-efee62e2-84c3-4d97-89c6-32bf7b5f099d.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335594/original/051360000_1788001267-f88a50f6-f3e5-4260-8d0d-80e85f511f82.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5379232/original/029414100_1760339205-full-shot-fit-women-running-together.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335528/original/092413300_1787993975-IMG_2537.jpeg)
![Memahami decision fatigue dan dampaknya pada produktivitas serta kesehatan mental perempuan modern. [Dok/Pexels.com/kaboompics].](https://cdn0-production-images-kly.akamaized.net/PkpKlaD0rda9Th2WUEuvHmPlknE=/80x80/smart/filters:quality(75):strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540587/original/051362600_1774771046-pexels-karola-g-7320325.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335085/original/086772000_1787910107-pexels-arjunn-la-1561931-19055620.jpg)