Sukses

Health

Mengapa Anak dan Orang Dewasa Tidak Dianjurkan untuk Terlalu Sering Makan Mi

Fimela.com, Jakarta - Mi instan menjadi salah satu makanan favorit banyak orang karena praktis, murah, dan mudah dibuat. Tidak hanya orang dewasa, anak-anak pun sering menjadikan mi sebagai menu praktis. Namun di balik kepraktisannya, konsumsi mi instan perlu diperhatikan.

Banyak orang menganggap mi instan sebagai solusi saat lapar atau tidak sempat memasak. Sayangnya, kebiasaan makan mi terlalu sering bisa berdampak pada kesehatan tubuh. Hal ini bisa terjadi pada siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa.

Pola makan yang sehat sangat penting untuk menunjang aktivitas dan tumbuh kembang. Jika mi instan dikonsumsi berlebihan tanpa diimbangi makanan bergizi, tubuh bisa kekurangan nutrisi penting. Maka itu, penting untuk memahami alasan mengapa mi instan tidak dianjurkan dikonsumsi terlalu sering.

1. Kandungan Gizi yang Kurang Seimbang

Mi instan umumnya tinggi karbohidrat, tetapi rendah protein, serat, vitamin, dan mineral. Jika terlalu sering dikonsumsi tanpa tambahan makanan bergizi lain, tubuh bisa kekurangan nutrisi penting. Pada anak-anak, kondisi ini dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan.

2. Tinggi Garam dan Lemak

Bumbu mi instan mengandung garam dan lemak yang cukup tinggi. Konsumsi garam berlebihan dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi pada orang dewasa. Sementara pada anak-anak, kebiasaan ini bisa membentuk pola makan yang kurang sehat sejak dini.

Kementerian Kesehatan RI menjelaskan bahwa konsumsi makanan tinggi garam dan lemak secara berlebihan dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi serta gangguan kesehatan lainnya. World Health Organization (WHO) juga menyarankan untuk membatasi asupan natrium harian demi menjaga kesehatan jantung dan ginjal.

3. Mengandung Pengawet dan Perisa

Mi instan melalui proses pengolahan yang panjang sehingga mengandung bahan pengawet dan perisa buatan. Jika dikonsumsi terlalu sering, zat-zat ini dapat membebani kerja tubuh, terutama ginjal dan hati.

Sejumlah studi gizi internasional menyebutkan bahwa mi instan termasuk dalam kelompok ultra-processed food. Makanan jenis ini dibuat melalui proses pengolahan yang panjang dan menggunakan berbagai bahan tambahan. Beberapa di antaranya adalah pengawet dan perisa buatan untuk memperkuat rasa dan memperpanjang masa simpan.

Penelitian yang dimuat dalam jurnal Nutrients (MDPI) menjelaskan bahwa konsumsi makanan ultra-proses sebaiknya tidak berlebihan. Jika terlalu sering dikonsumsi, makanan ini dapat berdampak kurang baik bagi kesehatan tubuh. 

4. Membuat Cepat Kenyang tapi Mudah Lapar

Mi instan memang mengenyangkan, tetapi tidak bertahan lama. Akibatnya seseorang bisa merasa lapar lebih cepat dan cenderung ingin makan lagi. Hal ini bisa memicu pola makan tidak teratur dan konsumsi kalori berlebih.

Dikutip dari Harvard Health Publishing, makanan olahan atau ultra-processed food cenderung membuat seseorang makan lebih banyak tanpa sadar. Jenis makanan ini dapat memengaruhi hormon lapar dan kenyang, sehingga tubuh terasa cepat kenyang tetapi mudah lapar kembali dalam waktu singkat.

5. Berisiko Membentuk Kebiasaan Makan Tidak Sehat

Terlalu sering makan mi instan dapat membuat anak dan orang dewasa terbiasa dengan makanan instan dan kurang menyukai makanan sehat seperti sayur dan buah. Jika dibiarkan, kebiasaan ini dapat berdampak buruk pada kesehatan.

Mi instan boleh dikonsumsi sesekali, tetapi tidak dianjurkan untuk dimakan terlalu sering, baik oleh anak-anak maupun orang dewasa. Agar lebih sehat alangkah baiknya lengkapi mi dengan sayuran, telur, atau sumber protein lain. Yuk, biasakan makan dengan pola seimbang demi menjaga kesehatan tubuh.

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

Loading